Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihannya

- Redaktur

Rabu, 24 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Rohim
Dosen : Risky Amelia, S.H,. M.H
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila
(Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Pancasila selama puluhan tahun menjadi fondasi utama yang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan pola hidup masyarakat modern, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dinilai mulai mengalami pengikisan.

Fenomena ini tidak hanya menjadi perhatian kalangan akademisi, tetapi juga berbagai elemen masyarakat yang melihat semakin banyak perilaku sosial yang bertentangan dengan semangat kebangsaan. Mulai dari meningkatnya intoleransi, menurunnya kepedulian sosial, hingga melemahnya semangat gotong royong menjadi sinyal bahwa pengamalan Pancasila menghadapi tantangan serius di era digital.

Pancasila yang sejatinya menjadi pedoman hidup bangsa kini sering kali hanya hadir dalam pidato, upacara, atau dokumen resmi. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku masyarakat.

Pada sila pertama, misalnya, masih ditemukan berbagai tindakan intoleransi dan diskriminasi yang mengatasnamakan perbedaan keyakinan. Di sisi lain, nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua juga menghadapi tantangan melalui maraknya kasus kekerasan, perundungan, hingga rendahnya empati terhadap sesama.

Baca Juga :  Dampak Dalam Memberikan Makanan Cepat Saji Kepada Anak

Sementara itu, semangat persatuan yang menjadi inti sila ketiga juga menghadapi ujian berat. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan kerap dimanfaatkan untuk memecah belah masyarakat, terutama melalui media sosial yang memungkinkan penyebaran informasi secara cepat dan masif.

Tidak hanya itu, praktik demokrasi yang seharusnya mengedepankan musyawarah dan kebijaksanaan juga sering tercoreng oleh kepentingan kelompok maupun penyalahgunaan kekuasaan. Sedangkan pada aspek keadilan sosial, kesenjangan ekonomi dan berbagai kasus korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Para pengamat menilai bahwa salah satu penyebab utama lunturnya nilai Pancasila adalah derasnya pengaruh budaya asing yang masuk melalui teknologi dan media digital. Nilai-nilai individualisme, hedonisme, dan pola hidup serba instan perlahan menggantikan budaya gotong royong yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Penguatan Hukum Anti-Korupsi: Membangun Integritas Bangsa di Era Modern  

Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat. Namun tanpa filter yang kuat, masyarakat berisiko lebih mudah meniru budaya luar tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan karakter bangsa.

Selain faktor eksternal, lemahnya proses internalisasi nilai Pancasila sejak usia dini juga menjadi sorotan. Pendidikan Pancasila di sekolah dinilai masih terlalu menekankan aspek teoritis dan hafalan, sehingga peserta didik kurang memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Kondisi tersebut diperparah oleh kurangnya keteladanan dari sebagian tokoh publik maupun pejabat yang seharusnya menjadi contoh dalam mengamalkan nilai-nilai kebangsaan. Ketika figur yang dihormati justru terlibat dalam pelanggaran hukum atau tindakan yang bertentangan dengan Pancasila, kepercayaan masyarakat pun ikut menurun.

Akibatnya, berbagai dampak negatif mulai terasa. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi lebih rentan, konflik sosial lebih mudah muncul, dan rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama semakin berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengikis jati diri bangsa Indonesia yang selama ini dikenal dengan semangat kebersamaan dan toleransinya.

Baca Juga :  Empat Mahasiswa UNTIRTA Berkolaborasi dengan Gerakan Kakak Aman Indonesia untuk Melawan Kekerasan Seksual

Meski demikian, para pemerhati pendidikan dan kebangsaan meyakini bahwa nilai-nilai Pancasila masih dapat diperkuat kembali melalui berbagai langkah strategis. Pendidikan karakter berbasis pengalaman nyata, penguatan peran keluarga, peningkatan keteladanan pemimpin, serta penegakan hukum yang adil menjadi beberapa upaya yang dinilai efektif untuk menghidupkan kembali semangat Pancasila di tengah masyarakat.

Di era yang serba cepat dan digital ini, Pancasila bukanlah sekadar warisan sejarah yang disimpan dalam buku pelajaran. Lebih dari itu, Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral yang mampu membimbing bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan zaman.

Menjaga nilai-nilai Pancasila berarti menjaga masa depan Indonesia. Sebab di tengah perubahan dunia yang begitu dinamis, identitas bangsa hanya akan tetap kokoh jika masyarakatnya terus menghidupkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari. ***

Berita Terkait

Klik “Setuju”, Apakah Benar-Benar Setuju? Problematika Kesepakatan dalam Perjanjian Digital
Peran Pemerintah Kota Serang dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional
Dampak Hedonisme dan Individualisme di Media Sosial terhadap Eksistensi Sila Ketiga Pancasila
Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan
Ketika Nyawa Korban dan Nyawa Begal Sama-Sama Dipertaruhkan, Antara Hukum dan HAM
Sengketa PT Tisera vs Muhammadiyah Inkrah, MA Perintahkan Bayar Ganti Rugi Puluhan Miliar
Reformasi Agraria Indonesia : Peran Pemerintah Desa dalam Pendaftaran Tanah Masih Terjebak pada Fungsi Administratif
Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:32 WIB

Klik “Setuju”, Apakah Benar-Benar Setuju? Problematika Kesepakatan dalam Perjanjian Digital

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:27 WIB

Peran Pemerintah Kota Serang dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:15 WIB

Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihannya

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:10 WIB

Dampak Hedonisme dan Individualisme di Media Sosial terhadap Eksistensi Sila Ketiga Pancasila

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:09 WIB

Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan

Berita Terbaru