Klik “Setuju”, Apakah Benar-Benar Setuju? Problematika Kesepakatan dalam Perjanjian Digital

Rabu, 24 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Oleh:

Siti Rahmawati
241090200560
(Mahasiswi UNPAM PSDKU Serang)

[BANTENESIA.NET] – Di era digital saat ini, hampir semua aktivitas dapat dilakukan hanya melalui sentuhan jari. Membuka rekening bank, berbelanja online, berlangganan aplikasi, hingga mengajukan pinjaman cukup dilakukan melalui telepon genggam. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting yang mulai mendapat perhatian para akademisi dan praktisi hukum: apakah pengguna benar-benar memahami isi perjanjian ketika menekan tombol “Saya Setuju”?

Fenomena ini menjadi sorotan karena semakin banyak masyarakat yang terikat pada berbagai perjanjian digital tanpa pernah membaca secara utuh syarat dan ketentuan yang berlaku. Padahal, dalam hukum perdata Indonesia, kesepakatan merupakan salah satu syarat utama yang menentukan sah atau tidaknya sebuah perjanjian.

Dalam praktiknya, sebagian besar pengguna internet cenderung langsung mengklik tombol persetujuan agar dapat segera menggunakan layanan yang diinginkan. Dokumen syarat dan ketentuan yang panjang, dipenuhi istilah hukum, serta memerlukan waktu untuk dipahami sering kali diabaikan begitu saja.

Baca Juga :  Tragedi Argo Mahasiswa UGM 2025: Duka Hukum di Simpang Keadilan 

Akibatnya, tidak sedikit pengguna yang baru menyadari adanya biaya tambahan, bunga, denda keterlambatan, atau kewajiban tertentu setelah menghadapi masalah di kemudian hari. Kondisi ini banyak ditemukan pada layanan pinjaman online, sistem bayar nanti (paylater), maupun berbagai platform digital lainnya.

Pengamat hukum menilai bahwa secara formal tindakan mengklik tombol “setuju” memang dapat dianggap sebagai bentuk persetujuan yang sah. Namun secara substansi, masih muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pengguna benar-benar memahami hak dan kewajiban yang melekat dalam perjanjian tersebut.

Persoalan lain yang muncul adalah ketidakseimbangan posisi antara penyedia layanan dan konsumen. Sebagian besar perjanjian digital menggunakan sistem perjanjian baku (standard contract), di mana seluruh ketentuan telah disusun sepihak oleh perusahaan. Konsumen hanya diberikan dua pilihan, yakni menerima seluruh isi perjanjian atau tidak menggunakan layanan tersebut sama sekali.

Baca Juga :  Antrian Online e-KTP: Solusi Praktis atau Tantangan Baru? Apakah Masyarakat Merasa Puas dengan Sistem ini?

Kondisi ini membuat prinsip kebebasan berkontrak yang selama ini menjadi dasar hukum perjanjian menghadapi tantangan baru. Secara teori, setiap pihak memiliki kebebasan untuk menentukan isi perjanjian. Namun dalam praktik digital, ruang negosiasi hampir tidak tersedia bagi konsumen.

Menurut sejumlah kalangan akademisi, permasalahan utama bukan terletak pada penggunaan teknologi digital, melainkan pada kurangnya transparansi informasi dan rendahnya literasi hukum masyarakat. Banyak syarat dan ketentuan layanan yang disusun dengan bahasa panjang dan sulit dipahami oleh pengguna awam.

Karena itu, penyedia layanan digital dinilai perlu menyajikan informasi penting secara lebih sederhana, jelas, dan mudah dipahami. Informasi mengenai biaya, risiko, bunga, hak konsumen, hingga konsekuensi hukum seharusnya dapat diketahui pengguna sebelum mereka memberikan persetujuan.

Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk lebih berhati-hati sebelum menyetujui sebuah perjanjian digital. Kebiasaan membaca syarat dan ketentuan layanan menjadi langkah sederhana namun penting untuk menghindari potensi kerugian di masa mendatang.

Baca Juga :  Sikap Penegak Keadilan dalam Penilaian Pancasila dan Kewarganegaraan

Para pemerhati hukum menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan perlindungan hak-hak konsumen. Negara, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan ekosistem digital yang tidak hanya cepat dan praktis, tetapi juga adil, transparan, dan memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.

Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa sebuah klik sederhana dapat membawa konsekuensi hukum yang nyata. Karena itu, sebelum menekan tombol “Setuju”, memahami isi perjanjian menjadi langkah penting agar hak dan kepentingan pengguna tetap terlindungi.

“Di dunia digital, satu klik mungkin hanya butuh satu detik. Namun dampak hukumnya bisa berlangsung bertahun-tahun.” ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52