Dampak Hedonisme dan Individualisme di Media Sosial terhadap Eksistensi Sila Ketiga Pancasila

- Redaktur

Rabu, 24 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Muhammad Fadhlan Syihab
Dosen : Risky Amelia, S.H,.M.H
Mata kuliah : Pendidikan Pancasila
(Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Di tengah derasnya arus digitalisasi, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, hingga Facebook tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga membentuk cara pandang, gaya hidup, bahkan nilai-nilai sosial yang dianut masyarakat.

Namun di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul fenomena yang mulai mengkhawatirkan. Budaya hedonisme dan individualisme yang tumbuh subur di ruang digital dinilai berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan, khususnya semangat Persatuan Indonesia yang menjadi ruh dari Sila Ketiga Pancasila.

Fenomena ini terlihat dari semakin maraknya budaya flexing atau pamer kemewahan di media sosial. Unggahan tentang barang bermerek, liburan mewah, kendaraan mahal, hingga gaya hidup eksklusif kerap menjadi tolok ukur kesuksesan yang ditampilkan kepada publik. Tidak sedikit pengguna media sosial yang kemudian terdorong untuk mengejar pengakuan sosial melalui jumlah likes, followers, dan komentar.

Baca Juga :  Tragedi Kemanusiaan dan Kegagalan Budaya Empati di Dunia Kampus

Di saat yang sama, muncul pula fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yakni perasaan takut tertinggal dari tren atau pencapaian orang lain. Kondisi ini perlahan membentuk pola pikir yang lebih berorientasi pada kepuasan diri dan pencitraan dibandingkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Tidak hanya itu, media sosial juga dinilai memperkuat sikap individualisme. Kemudahan berinteraksi melalui layar gawai justru membuat sebagian orang semakin jauh dari kehidupan sosial nyata. Fenomena phubbing—mengabaikan orang di sekitar demi fokus pada telepon genggam—menjadi gambaran nyata perubahan tersebut.

Selain itu, algoritma media sosial menciptakan apa yang disebut sebagai echo chamber, yaitu ruang digital yang membuat seseorang hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa. Akibatnya, ruang dialog menjadi semakin sempit dan toleransi terhadap perbedaan perlahan berkurang.

Para pengamat sosial menilai kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Ketika masyarakat lebih sibuk membangun citra diri di dunia maya, kepedulian terhadap persoalan bersama berisiko memudar.

Baca Juga :  Pentingnya LDKO Sebagai Pondasi Kepemimpinan dan Keorganisasian dalam Unit Kegiatan Olahraga

Paparan gaya hidup hedonis yang terus-menerus juga berpotensi memunculkan kecemburuan sosial. Perbedaan kondisi ekonomi yang sebenarnya wajar dapat terlihat semakin mencolok akibat narasi kesuksesan yang ditampilkan secara berlebihan di media sosial. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memicu polarisasi sosial dan memperlebar jarak antarkelompok masyarakat.

Di sisi lain, sikap individualistis juga dapat melahirkan apatisme terhadap persoalan kebangsaan. Banyak orang aktif menyuarakan pendapat di media sosial, tetapi tidak sedikit yang enggan terlibat langsung dalam kegiatan sosial maupun komunitas di lingkungan sekitar.

Melihat fenomena tersebut, para akademisi dan pemerhati sosial mendorong pentingnya penguatan literasi digital berbasis nilai-nilai Pancasila. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan media sosial secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.

Kampanye gaya hidup sederhana, penguatan konten yang menonjolkan kolaborasi, empati, serta keberagaman budaya Indonesia juga dinilai penting untuk menyeimbangkan dominasi konten yang bersifat konsumtif dan individualistis.

Baca Juga :  Tan Malaka: Revolusioner yang Mengajarkan Nasionalisme dengan Kesadaran

Selain itu, ruang-ruang interaksi sosial di dunia nyata perlu terus diperkuat. Kegiatan kemasyarakatan, komunitas lokal, hingga organisasi kepemudaan dapat menjadi sarana untuk membangun kembali semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi fondasi Persatuan Indonesia.

Di era digital saat ini, menjaga persatuan bangsa tidak lagi cukup dilakukan melalui slogan atau hafalan semata. Persatuan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sebab, tantangan terhadap keutuhan bangsa kini tidak selalu datang dalam bentuk konflik terbuka, melainkan bisa hadir secara perlahan melalui perubahan gaya hidup dan pola interaksi yang membentuk cara masyarakat memandang dirinya serta orang lain.

Merawat Persatuan Indonesia di tengah derasnya arus media sosial berarti menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah tugas yang tidak ringan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama demi menjaga kokohnya bangunan kebangsaan Indonesia. ***

Berita Terkait

Klik “Setuju”, Apakah Benar-Benar Setuju? Problematika Kesepakatan dalam Perjanjian Digital
Peran Pemerintah Kota Serang dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional
Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihannya
Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan
Ketika Nyawa Korban dan Nyawa Begal Sama-Sama Dipertaruhkan, Antara Hukum dan HAM
Sengketa PT Tisera vs Muhammadiyah Inkrah, MA Perintahkan Bayar Ganti Rugi Puluhan Miliar
Reformasi Agraria Indonesia : Peran Pemerintah Desa dalam Pendaftaran Tanah Masih Terjebak pada Fungsi Administratif
Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:32 WIB

Klik “Setuju”, Apakah Benar-Benar Setuju? Problematika Kesepakatan dalam Perjanjian Digital

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:27 WIB

Peran Pemerintah Kota Serang dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:15 WIB

Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihannya

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:10 WIB

Dampak Hedonisme dan Individualisme di Media Sosial terhadap Eksistensi Sila Ketiga Pancasila

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:09 WIB

Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan

Berita Terbaru