Penulis: Muhamad Hikmal Alfajri
(Mahasiswa Ilmu Hukum Unpam Kampus Serang)
Opini Publik: 18/12/2025
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Makanan cepat saji atau junk food, saat ini telah berkembang banyak di dunia bahkan di Indonesia. Bagi beberapa orang tua, makanan cepat dianggap lebih efisiensi dan sedap ketimbang makanan masakan sendiri karena penyajiannya yang cepat dan resep yang konsisten.
Harga nya yang murah, dan mudah ditemukan menjadi alasan orang tua untuk memberi anaknya makanan cepat saji tanpa melihat dampak yang ditimbulkan kedepannya.
Walaupun makanan cepat saji banyak menawarkan kemudahan, tetapi juga ada dampak negatif bagi anak-anak yang sering atau terbiasa diberi makanan instan.
Dampak buruk yang ditimbulkan makanan instan kepada anak-anak bukan hanya dampak kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi dampak perkembangan perilaku anak yang sedang mengalami fase tumbuh kembang.
Mengapa itu semua terjadi, karena makanan cepat saji memiliki kandungan tinggi Kalori, lemak jenuh, gula, garam, dan bahan tambahan seperti pewarna dan penguat rasa agar anak-anak tertarik untuk membeli dan mengonsumsi, dan juga makanan cepat saji memiliki kandungan rendah Serat, vitamin, mineral, dan nutrisi penting lainnya.
Jika para orang tua termasuk orang yang sering memberikan anak-anaknya makanan cepat saji, maka kurangilah perilaku tersebut.
Mulai lah untuk memberikan anak anda makanan yang sehat dengan cara memasak sendiri. Memang memasak makanan sendiri untuk anak di rumah itu menguras tenaga dan waktu, tetapi dengan memasak makanan sendiri kita bisa mengontrol apa saja bahan-bahan yang akan kita sajikan ke anak-anak dan juga mecegah bahan-bahan bahaya masuk ke dalam makanan. ***







