Sangap Tua Simarmata,
Mahasiswa Fakultas Prodi Ilmu Hukum,
Universitas Pamulang (UNPAM) Kota Serang
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Provinsi Banten menjadi salah satu wilayah yang mengalami kemajuan cukup berarti di bidang kesehatan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai capaian positif, seperti meningkatnya penemuan kasus tuberkulosis (TBC) dan turunnya angka kematian ibu serta bayi, menunjukkan adanya komitmen kuat pemerintah daerah untuk memperbaiki kualitas layanan kesehatan.
Namun, di balik kemajuan tersebut, masih tersimpan sejumlah persoalan serius yang perlu segera diatasi.
Salah satu isu utama adalah penyakit menular seperti TBC, kusta, dan HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa meskipun penemuan kasus TBC di Banten sudah melampaui target nasional, tingkat kesembuhan masih di bawah standar 90%.
Hal ini mengindikasikan masih lemahnya pengawasan pengobatan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengobatan tuntas.
Selain itu, kasus kusta kembali muncul di beberapa kabupaten seperti Tangerang dan Lebak, bahkan sebagian penderitanya adalah anak-anak. Ini menjadi tanda bahwa sistem deteksi dini dan edukasi kesehatan masih belum merata.
Tidak hanya penyakit menular, kasus penyakit akibat lingkungan juga menjadi perhatian serius. Data tahun 2023 mencatat lebih dari 500 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di daerah perkotaan seperti Cilegon dan Tangerang.
Polusi udara dari aktivitas industri dan kendaraan bermotor menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ini. Sayangnya, pengendalian lingkungan di Banten belum berjalan optimal, padahal dampaknya sangat besar terhadap kesehatan masyarakat.
Meski demikian, Banten juga layak diapresiasi karena berhasil menurunkan angka kematian ibu dan bayi hingga berada di bawah rata-rata nasional. Capaian ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar seperti posyandu, bidan desa, dan puskesmas masih berfungsi baik di sebagian besar wilayah.
Namun untuk mewujudkan masyarakat Banten yang benar-benar sehat, dibutuhkan komitmen lintas sektor. Pemerintah tidak bisa hanya fokus pada aspek kuratif (pengobatan), tetapi juga harus memperkuat upaya promotif dan preventif, terutama dalam edukasi masyarakat, peningkatan sanitasi, dan pengendalian polusi.
Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Lingkungan, dan Pendidikan menjadi kunci agar kesadaran hidup sehat tumbuh dari akar masyarakat.
Sebagai mahasiswa fakultas prodi ilmu hukum, saya melihat bahwa tantangan kesehatan di Banten bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal perubahan perilaku dan kepedulian sosial.
Jika pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat mampu bekerja bersama, bukan tidak mungkin Banten bisa menjadi contoh daerah dengan sistem kesehatan yang kuat dan berkeadilan bagi semua warganya.
Sumber Data: Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, Dinas Kesehatan Provinsi Banten.
***







