Bawaslu Banten di Persimpangan Kepercayaan Publik

- Redaktur

Selasa, 16 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Ridza Alwabi, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Isitmewa)

Muhammad Ridza Alwabi, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Isitmewa)

Oleh : Muhammad Ridza Alwabi 14-12-2025

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Menurut Muhammad Ridza, Pemilu di Banten bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan cermin wajah demokrasi daerah. Dari kota industri seperti Cilegon hingga wilayah agraris di Pandeglang dan Lebak, masyarakat menggantungkan harapan pada satu hal: keadilan dalam proses pemilu. Di titik inilah peran Bawaslu Banten diuji. Namun di mata publik, kinerja pengawasan pemilu di Banten masih berada di wilayah abu-abu antara hadir secara administratif, tetapi belum sepenuhnya terasa secara substantif.

Tidak dapat disangkal, Bawaslu Banten tampak aktif. Laporan pelanggaran meningkat, pengawasan diperluas hingga ke tingkat kecamatan dan desa, serta imbauan netralitas aparatur negara kerap disuarakan. Secara kasat mata, Bawaslu bekerja. Namun bagi masyarakat akar rumput, kerja keras itu sering berhenti pada satu pertanyaan sederhana: apa hasil akhirnya? Ketika pelanggaran dilaporkan, diproses, tetapi tidak berujung sanksi yang jelas, publik mulai merasa pengawasan hanya berakhir sebagai formalitas.

Baca Juga :  A+ Promotion Siap Meriahkan Akhir Tahun dengan Jalan Sehat dan Konser Bersenang-Senang di Akhir Tahun Fest 2024

Di Banten, persepsi ini semakin kuat karena konteks politik lokal yang khas. Relasi kekuasaan yang mengakar, kedekatan elite politik, serta pengaruh jaringan informal membuat publik sensitif terhadap isu keberpihakan. Ketika laporan dugaan pelanggaran yang melibatkan tokoh kuat tidak berlanjut, sementara pelanggaran kecil di tingkat bawah justru cepat ditindak, narasi “tajam ke bawah, tumpul ke atas” kembali hidup meski tidak selalu didukung bukti langsung.

Masalahnya, Bawaslu sering berlindung di balik bahasa prosedural. Alasan kekurangan alat bukti, daluwarsa laporan, atau tidak terpenuhinya unsur pelanggaran memang sah secara hukum. Namun bagi masyarakat, penjelasan normatif tanpa transparansi proses justru memperbesar kecurigaan. Publik tidak menuntut pelanggaran dipaksakan menjadi perkara, tetapi menuntut kejelasan yang jujur dan mudah dipahami.

Baca Juga :  Pancasila Sebagai Moral Generasi Benteng Milenial

Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika pengawas pemilu sendiri menjadi sorotan. Setiap isu etik, dugaan ketidakprofesionalan, atau ketidaktegasan aparat pengawas di Banten langsung berdampak besar pada kepercayaan publik. Di daerah dengan sejarah politik yang kompleks, integritas bukan sekadar tuntutan moral, melainkan syarat mutlak. Sekali saja kepercayaan runtuh, seluruh proses pemilu ikut dipertanyakan.

Bawaslu Banten juga menghadapi tantangan komunikasi publik. Di era media sosial, masyarakat menilai lembaga bukan dari laporan resmi, melainkan dari keberanian bersikap. Diam, menunda penjelasan, atau menjawab kritik dengan bahasa birokratis justru memperburuk citra. Ketika Bawaslu tidak hadir menjelaskan proses secara terbuka, ruang publik akan diisi spekulasi dan ketidakpercayaan.

Padahal, posisi Bawaslu sangat strategis. Ia bukan hanya penjaga aturan, tetapi simbol keadilan pemilu. Di Banten, di mana masyarakat sering merasa jauh dari pusat kekuasaan, keberanian pengawas untuk bersikap tegas akan menjadi pesan kuat bahwa suara rakyat benar-benar dijaga. Tanpa itu, pemilu hanya akan dipandang sebagai rutinitas administratif yang hasilnya sudah bisa ditebak.

Baca Juga :  Ratu Anatasya Bilqis Adam Raih Runner Up 2 Duta Batik Kota Serang 2026, Bukti Generasi Muda Cinta Budaya

Sudah saatnya Bawaslu Banten melakukan koreksi arah. Bukan dengan memperbanyak spanduk sosialisasi atau seremoni pengawasan, melainkan dengan memperkuat transparansi, konsistensi penanganan perkara, dan keberanian menjelaskan setiap keputusan kepada publik. Keadilan pemilu tidak cukup ditegakkan ia harus terlihat ditegakkan.

Jika Bawaslu Banten ingin menjaga legitimasi demokrasi daerah, maka satu hal tak bisa ditawar: kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan itu, pengawasan hanya akan menjadi catatan administratif, dan demokrasi di Banten akan terus berjalan pincang ramai saat pemilu, sunyi dalam keadilan. -ujar Muhammad Ridza Alwabi. ***

Berita Terkait

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu
Pentingnya Mengetahui Hukum bagi Gen Z
Literasi Digital Pelajar Tidak Boleh Menunggu Masalah Datang: Pelajaran dari PKM UNPAM Serang di SMAN 1 Kramatwatu
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:18 WIB

Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ

Berita Terbaru