Nama; Ellen Anggita Damanik
Kelas; 03ADNP003
Nim: 251092100197
Dosen Pengampu: Angga Rosidin S.I.P.,M.A.P
Mata Kuliah: Teori Sosial Indonesia
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Bagi masyarakat yang tinggal diwilayah parung panjang, serpong, maja, rawa buntu, hingga rangkasbitung, Kereta Rel Listrik atau bisa disebut dengan singkatan KRL Green Line Koridor Rangkasbitung-Tanah Abang bukan lagi pilihan transpotasi tambahan. Keberadaan KRL telah menjadi urat nadi utama mobilitas harian. Ribuan pekerja, mahasiswa, dan masyarakat umum menggantungkan perjalanan mereka pada moda transportasi ini untuk menuju pusat perekonomian yang ada di Jakarta.
Namun, kenyataan di lapangan saat ini menunjukkan bahwa lonjakan jumlah penumpang sudah mencapai titik yang sangat krusial. Perjalanan pada jam sibuk (Rush Hour) pagi maupun sore hari kini identik dengan perjuangan fisik yang melatih kesabaran. Tidak hanya di hari kerja, fenomena kepadatan ini bahkan kerap meluas hingga akhir pekan (Weekend) akibat meningkatnya mobilitas warga yang berwisata maupun bersilaturahmi.
Setiap pagi, suasana di stasiun-stasiun penyangga seperti Rangkasbitung, Parung Panjang, Rawa Buntu, hingga Sudimara menyajikan pemandangan yang hampir samayaitu lautan manusia yang berdesakan menanti kedatangan kereta. Ketika pintu kereta baru terbuka, penumpang saling berebut masuk demi mendapatkan ruang, bahkan hanya untuk sekadar berdiri dengan satu kaki.
Menurut saya, kondisi berdesakan yang terlampau padat ini bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan, melainkan sudah menyentuh aspek keselamatan dan kesehatan penumpang. Udara yang terbatas di dalam gerbong, risiko barang bawaan rusak, hingga potensi bahaya bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap hari.
Menurut saya, situasi berdesakan yang melampaui batas kenyamanan ini tidak bisa terus dianggap sebagai hal yang biasa. Moda transportasi publik yang handal seharusnya memberikan rasa aman, nyaman, dan manusiawi bagi seluruh penggunanya.
Masyarakat komuter Green Line tentu sangat mengapresiasi upaya pengelola yang selama ini telah menjaga kebersihan, ketertiban, dan ketepatan waktu operasional KRL. Meski demikian, seiring pertumbuhan pemukiman yang begitu pesat di sepanjang rute Rangkasbitung hingga Tangerang Selatan, langkah-langkah biasa tidak lagi cukup. Jadi diperlukan solusi konkret dan strategis untuk mengurai permasalahan ini seperti.
Menurut saya, salah satu langkah paling mendesak yang perlu segera direalisasikan adalah memperbanyak pengoperasian rangkaian kereta dengan 12 gerbong (SF12) di jalur Green Line. Saat ini, masih banyak rangkaian yang terdiri dari 10 gerbong (SF10), yang secara kapasitas tentu sangat terbatas untuk menampung volume penumpang yang terus membludak.
Selain menambah jumlah gerbong, menurut saya penyesuaian interval kedatangan kereta (Headway) juga sangat penting. Di beberapa stasiun ujung, headway antar-kereta masih terasa cukup panjang pada jam-jam sibuk. Jika waktu tunggu dapat dipersingkat menjadi 4 hingga 5 menit sekali pada jam puncak, penumpukan calon penumpang di peron stasiun akan berkurang secara signifikan.
Kepadatan tidak hanya terjadi di dalam gerbong, tetapi juga di area stasiun. Menurut saya, perlu ada penataan ulang alur penumpang (Flow Management) di stasiun-stasiun padat seperti Tanah Abang, Palmerah, dan Rawa Buntu. Penambahan akses tangga, eskalator, serta perluasan area tunggu peron akan sangat membantu mengurai penumpukan massa saat kereta tiba.
Melihat tren penumpang akhir pekan yang kini hampir sama padatnya dengan hari kerja, menurut saya pihak pengelola perlu meninjau kembali frekuensi perjalanan KRL di hari Sabtu dan Minggu. Menambah perjalanan bantuan pada jam-jam favorit liburan keluarga akan menjadi solusi nyata yang sangat dirasakan manfaatnya oleh publik.
Transportasi publik yang baik adalah cermin dari kemajuan suatu daerah. KRL Green Line Rangkasbitung–Tanah Abang memiliki peran yang sangat vital dalam menyokong perekonomian dan mobilitas masyarakat sehari-hari.
Menurut saya, mendengar dan merespon keluhan penumpang dengan tindakan nyata adalah kunci utama perbaikan. Jadi sayasemua berharap solusi-solusi konkret dapat segera diimplementasikan secara bertahap, sehingga perjalanan dengan KRL Green Line tidak lagi menjadi perjuangan yang melelahkan, melainkan menjadi pengalaman bertransportasi yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk semua orang. ***








