[BANTENESIA.NET] – Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk kembali memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Batik sebagai salah satu Identitas Budaya Indonesia.
Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, menilai batik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pakaian khas Indonesia yang dikenakan pada acara tertentu. Menurutnya, batik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus identitas budaya yang perlu terus dijaga.
“Bagi Saya batik itu bukan hanya kebanggaan dan statement pakaian khas Indonesia, tapi menjadi kebutuhan keseharian Saya,” ujar Adde Rosi.
Menurutnya, keberadaan Batik harus terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya dengan memperkuat pengenalan batik di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.
Sebagai Ketua DPD II Golkar Kabupaten Lebak, Adde Rosi, mendorong agar pengenalan Batik tidak hanya dilakukan secara teoritis, tetapi dikembangkan melalui berbagai kegiatan kreatif yang dapat melibatkan langsung para pelajar dan mahasiswa.
Beberapa di antaranya melalui kegiatan desain Batik, kewirausahaan, fashion, hingga proyek budaya. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda tidak hanya mengenal Batik sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat melihat peluang kreativitas dan ekonomi di dalamnya.
“Pengenalan batik di sekolah dan kampus bisa dilakukan melalui kegiatan kreatif, seperti desain Batik, kewirausahaan, fashion dan proyek budaya,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Adde Rosi juga mengajak anak muda mengambil peran dalam mempromosikan batik melalui berbagai platform digital.
Menurutnya, media sosial dan desain digital dapat menjadi sarana efektif untuk membuat Batik semakin dekat dengan generasi muda sekaligus memperluas jangkauan promosi batik Indonesia.
Generasi muda, kata dia, dapat membuat berbagai konten kreatif, mulai dari desain, fotografi, video, hingga kampanye digital yang mengangkat keindahan dan keberagaman Batik Nusantara.
Namun demikian, kreativitas digital tersebut tetap harus diiringi dengan pemahaman terhadap nilai budaya yang terkandung di dalam Batik.
“Anak muda juga perlu diajak mempromosikan Batik lewat media sosial dan desain digital, tanpa kehilangan pemahaman terhadap nilai dan filosofi motifnya,” tutur Adde Rosi.
Ia menilai pemahaman terhadap filosofi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Batik. Sebab, Batik bukan sekadar motif atau corak pada kain, tetapi memiliki sejarah, nilai, simbol, dan kearifan lokal yang melekat di dalamnya.
Momentum Hari Batik Nasional 2026 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan mengenakan Batik pada 2 Oktober. Lebih jauh, peringatan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa keberlangsungan Batik sangat bergantung pada bagaimana generasi berikutnya mengenal, menggunakan, mengembangkan, dan mempromosikannya.
Bagi Adde Rosi, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar Batik tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Dengan memadukan budaya, pendidikan, kreativitas, fashion, kewirausahaan, dan teknologi digital, Batik dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisi dan filosofi yang menjadi identitasnya.
Hari Batik Nasional pun menjadi momentum untuk memperkuat kebanggaan terhadap karya budaya Indonesia sekaligus mendorong Batik agar semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi muda. (Cipz)








