Nama : Fitriyana Ramadhani
NIM : 251092100172
Prodi : Administrasi Negara
Semester : 3 ( Tiga )
Mata Kuliah : Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Universitas Pamulang (UNPAM ) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Sebagai seorang mahasiswa yang setiap hari harus berpacu dengan waktu demi mengejar jam kuliah pagi, jalan raya adalah arena pertarungan yang sesungguhnya. Namun, ada satu pemandangan menahun yang rasanya tak pernah absen memancing emosi dan helaan napas Panjang: kemacetan di sekitar Pasar Ciruas dan depan area sekolah.
Biang kerok yang paling sering ditunjuk jari? Tak lain dan tak bukan adalah angkutan umum alias angkot yang mengetem sembarangan.
Bagi kita para pengendara baik pekerja yang takut terlambat masuk kantor, siswa yang dikejar bel masuk sekolah, maupun mahasiswa yang panik takut dikunci dari luar oleh dosen kehadiran angkot yang ngetem di bahu jalan adalah ujian kesabaran tingkat tinggi. Badan jalan yang sempit makin tergerus karena dipenuhi deretan mobil merah atau biru muda yang berhenti seenaknya menunggu penumpang.
Belum lagi aksi “ajaib” para sopirnya di jalanan. Pernahkah Anda sedang melaju santai, lalu tiba-tiba angkot di depan Anda membanting setir ke kiri atau ke kanan secara mendadak tanpa lampu sein? Hanya karena sang sopir melihat bayangan calon penumpang di pinggir jalan, seluruh kendaraan di belakangnya harus pengereman mendadak (panic braking). Seni berkendara yang bikin senut-senut di kepala ini tak jarang memicu kecelakaan ringan hingga chaos di jalan raya.
Rasa jengkel itu wajar dan sangat bisa dipahami. Namun, sebagai mahasiswa yang diajarkan untuk berpikir kritis, saya mencoba melangkah lebih jauh dari sekadar marah-marah di balik helm: Apakah ini murni kesalahan para sopir angkot, atau ada sistem yang sedang tidak berjalan sebagaimana mestinya?
Jika kita mau jujur dan melihat dari sudut pandang kemanusiaan, para sopir angkot itu juga sedang berjuang mengais rezeki di tengah gempuran zaman. Kehadiran transportasi online membuat setoran mereka makin menipis. Bagi mereka, melewatkan satu penumpang saja berarti berkurangnya uang untuk dibawa pulang ke rumah. Maka tak heran, tempat-tempat krusial seperti depan pasar atau gerbang sekolah menjadi “lapak wajib” untuk mengetem, meski harus memakan hak pengguna jalan lain.Di sinilah letak akar masalahnya: Ketiadaan sistem dan penataan yang tegas.
Mana Fasilitasnya?
Di sepanjang titik rawan seperti Pasar Ciruas, kita hampir tidak menemukan kantung pemberhentian (bay) angkot atau halte yang layak. Akibatnya, badan jalanlah yang dijadikan “terminal bayangan”. Sopir bingung harus berhenti di mana, dan penumpang pun terbiasa menyetop angkot di sembarang tempat.
Pengawasan yang “Angin-anginan”
Penertiban dari pihak berwenang sering kali terasa seperti formalitas sementara. Ketika ada petugas, jalanan mendadak tertib. Namun begitu petugas pergi, kebiasaan lama ngetem dan manuver mendadak kembali berulang.
Edukasi Budaya Tertib Lalu Lintas
Masalah ini tidak hanya milik sopir, tetapi juga calon penumpang. Masih banyak warga yang enggan berjalan sedikit ke tempat aman dan justru memilih menyetop angkot persis di persimpangan atau di tengah kemacetan.
Jadi, menyalahkan sopir angkot sepenuhnya tentu kurang adil, namun membiarkan mereka ugal-ugalan dan merusak ketertiban lalu lintas juga jelas bukan solusi.
Sudah saatnya Pemerintah Daerah dan Dinas Terkait turun tangan secara konkret, bukan sekadar imbauan. Buatkan sub-terminal atau celukan khusus naik-turun penumpang di titik-titik krusial seperti Pasar Ciruas dan area sekolah. Terapkan sanksi tegas bagi angkot yang nekat ngetem di luar jalur pemberhentian, sekaligus edukasi masyarakat agar mau naik-turun di tempat yang ditentukan.
Jalan raya adalah milik bersama. Para pekerja butuh sampai kantor tepat waktu, anak sekolah dan mahasiswa butuh menuntut ilmu tanpa stres di jalan, dan para sopir angkot pun berhak mencari nafkah dengan layak. Semua itu bisa terwujud jika ada sistem yang mengatur dengan jelas dan tegas bukan dengan membiarkan jalanan berubah jadi hutan rimba di mana yang kuat yang menang. ***








