Alih Fungsi Lahan di Tangerang: Antara Peluang Ekonomi dan Krisis Lingkungan

Selasa, 7 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

Penulis: Teguh Adiansyah
(Mahasiswa UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Secara ekonomi, alih fungsi lahan memang membawa angin segar. Perubahan dari sektor agraris ke sektor jasa dan perdagangan memberikan jalan alternatif mata pencaharian yang lebih beragam. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada pertanian kini memiliki kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi yang dianggap lebih modern dan menjanjikan. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan hunian dan fasilitas publik akibat pertumbuhan penduduk. Dengan demikian, alih fungsi lahan menjadi motor penggerak transformasi ekonomi lokal.

Namun, optimisme tersebut tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi yang cukup serius. Berkurangnya lahan pertanian secara signifikan bukan hanya berdampak pada hilangnya sumber penghidupan tradisional, tetapi juga mengancam ketahanan pangan jangka panjang. Ketergantungan pada sektor non-pertanian menjadikan masyarakat lebih rentan terhadap fluktuasi ekonomi, terutama di sektor informal yang sering kali tidak stabil.

Baca Juga :  Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan

Dari sisi sosial, perubahan ini turut menggeser nilai-nilai yang sebelumnya mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Budaya gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat agraris perlahan memudar, tergantikan oleh pola hidup yang lebih individualistis. Interaksi sosial menjadi lebih heterogen seiring dengan masuknya penduduk baru, yang meskipun membawa keberagaman, juga berpotensi menimbulkan konflik sosial jika tidak dikelola dengan baik.

Baca Juga :  Pancasila dan Generasi Z di Era Modern

Tidak hanya itu, dampak lingkungan dari alih fungsi lahan menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan. Berkurangnya ruang terbuka hijau dan lahan resapan air menyebabkan berbagai masalah ekologis, seperti banjir, kekeringan, dan penurunan kualitas udara. Pembangunan yang tidak diiringi dengan perencanaan tata ruang yang matang hanya akan memperburuk kondisi ini. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Melihat kondisi tersebut, peran pemerintah menjadi sangat krusial. Kebijakan tata ruang yang berkelanjutan tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Namun, implementasinya harus diperluas dan didukung dengan regulasi yang tegas. Selain itu, partisipasi masyarakat juga perlu ditingkatkan agar mereka tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Bukan Hanya Soal Judi Online, Indonesia Sedang Menghadapi Krisis Karakter

Pada akhirnya, alih fungsi lahan di Tangerang adalah cerminan dari dilema pembangunan modern: antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan. Jika tidak dikelola dengan bijak, keuntungan jangka pendek yang diperoleh justru dapat menimbulkan kerugian jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan berkeadilan, yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan secara seimbang. ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52