[BANTENESIA.NET] – Film Home Sweet Loan karya Sabrina Rochelle Kalangie memberikan sorotan tajam tentang perjuangan generasi sandwich dalam mengejar mimpi memiliki rumah sendiri.
Karakter Kaluna, yang diperankan oleh Yunita Siregar, mencerminkan realita milenial perkotaan yang harus berjuang keras di tengah tekanan tanggung jawab keluarga dan impitan finansial.
Kisah Kaluna: Mimpi di Tengah Kesulitan
Kaluna, seorang milenial dengan ambisi besar, ingin memiliki rumah sebagai simbol kebebasan dirinya. Namun, di tengah impitan tiga keluarga dalam satu rumah, tak ada privasi, dan tanggung jawab rumah tangga yang dilimpahkan padanya, mimpi itu terasa jauh.
Sebagai anak bungsu, Kaluna harus mengurus berbagai kebutuhan rumah, dari mengisi token listrik hingga mencuci piring, sementara ia tetap harus mengorbankan kebutuhan pribadinya untuk membantu keluarganya yang lebih tua.

Untuk mewujudkan mimpinya, Kaluna rela melakukan pekerjaan sampingan, meskipun bayarannya tidak seberapa. Namun, tekanan semakin bertambah karena anggota keluarga, terutama kakak-kakaknya, sering mengandalkan bantuannya.
Perjuangan Kaluna dalam menjaga tabungannya menjadi semakin sulit, menghadirkan refleksi nyata dari tantangan generasi sandwich di Indonesia.
Gaya Hidup Frugal Sebagai Solusi
Demi mencapai impiannya, Kaluna memilih menjalani gaya hidup frugal living. Ia memotong pengeluaran kecil namun signifikan, seperti tidak membeli kopi, membawa bekal makan siang, dan menghindari layanan streaming berlangganan.
Keputusan ini mencerminkan kondisi nyata generasi sandwich yang harus cermat dalam setiap pengeluaran, terutama saat menghadapi tekanan finansial dari keluarga.

Masalah Struktural yang Tak Tersorot
Meskipun Home Sweet Loan berhasil menggambarkan beban generasi sandwich, film ini kurang menyorot masalah struktural yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Meskipun para pemain dan sutradara lebih menekankan pentingnya kesehatan mental dan support system, permasalahan mendasar seperti kebijakan perumahan yang memberatkan milenial justru tidak mendapat tempat yang cukup.
Harga rumah yang semakin tidak terjangkau dibandingkan dengan pendapatan pekerja seperti Kaluna menjadi salah satu contoh nyata. Dengan gaji Rp6 juta per bulan, Kaluna menghadapi tantangan besar untuk mengumpulkan cukup uang demi membeli rumah impian, yang kian jauh dari jangkauan.
Konsep price income ratio (PIR) menunjukkan bahwa harga rumah terjangkau hanya jika nilainya tidak lebih dari tiga kali pendapatan tahunan, namun kenyataannya, rumah-rumah yang ada jauh melebihi batas itu.
Home Sweet Loan menjadi representasi yang kuat dari generasi sandwich yang terjepit antara kebutuhan keluarga dan mimpi pribadi. Namun, film ini juga menjadi pengingat bahwa masalah perumahan di Indonesia bukan hanya tentang kemampuan individu, tetapi juga tentang kebijakan pemerintah dan ketidakadilan struktural yang mempersulit milenial mencapai kesejahteraan finansial.
Di balik kisah perjuangan Kaluna, terdapat refleksi tentang krisis perumahan yang semakin memburuk di Indonesia, dan film ini menjadi medium penting untuk memunculkan kesadaran akan isu tersebut. (*/Pou)







