RGZY Lepas EP “Support System”, Deru Hardcore Pinggiran Banten yang Menolak Redam

Senin, 16 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

RGZY. (Foto: Official RGZY - @etotparker_)

RGZY. (Foto: Official RGZY - @etotparker_)

[BANTENESIA.NET] – Deru distorsi kembali menggema dari Kota Serang. Unit Alternative Hardcore, RGZY (Red: Ragazy), resmi meluncurkan mini album perdana bertajuk “Support System” pada awal Februari 2026. EP berisi lima lagu ini menjadi tonggak baru perjalanan panjang mereka sejak pertama kali terbentuk pada 1998.

Kehadiran “Support System” terasa seperti mesin tua yang dipaksa melaju di jalan tol, bising, kasar, tetapi jujur dan tak bisa diabaikan. Bagi RGZY, rilisan ini bukan sekadar Extended Play (EP), melainkan catatan emosional yang lahir dari amarah, kegelisahan, dan solidaritas yang tumbuh di ruang-ruang sempit kehidupan para personelnya.

EP “Support Sytem” – RGZY. (Foto: Official RGZY)

Tema besar yang diusung dalam EP ini menyoroti relasi antarmanusia, tentang bagaimana seseorang bisa bertahan, runtuh, lalu bangkit kembali karena kehadiran orang-orang di sekitarnya.

“Kami tidak mencoba menjadi suara bagi generasi. Kami hanya mencatat bagaimana rasanya hidup ketika dunia terasa bergerak terlalu cepat, sementara pikiran tertinggal jauh di belakang,” ujar Cevy, vokalis RGZY.

Baca Juga :  TONGKAT KAYU Lepas Mini Album Perdana ALELOPATI, Letupan Sonik dari Bawah Tanah Banten

Secara musikal, RGZY menolak kompromi. Distorsi gitar menjadi tulang punggung dengan tempo agresif yang bergerak seperti denyut adrenalin. Liriknya lugas, kadang terdengar seperti teriakan yang membentur tembok realitas sosial, kadang menyerupai monolog batin yang mencari celah cahaya di tengah tekanan hidup urban.

“Support System” bukan album tentang pahlawan atau kemenangan heroik. EP ini berbicara tentang orang-orang biasa yang berusaha tetap berdiri meski lantai kehidupan terus retak. Tentang lingkaran kecil yang menjadi alasan untuk tidak menyerah hari itu.

RGZY. (Foto: Official RGZY – @etotparker_)

“Support System adalah tentang orang-orang yang saling menopang bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tahu rasanya jatuh sendirian,” tambah Cevy, yang dikenal sebagai pengagum band metal legendaris Korn.

Baca Juga :  Souljah, Feby Putri, dan Fiersa Besari Bakar Semangat dan Bersenang Senang Gen Z di Akhir Tahun Fest

RGZY lahir di Kota Serang, Banten, pada 1998 dengan formasi awal Sandy (gitar), Erdi (bass), Asep (drum), dan Cevi (vokal), mengusung warna Hip/Nu Metal. Nama mereka sempat mencuat lewat single “Mimpi Kosong” yang masuk album kompilasi Jawara Banten pada 2003.

Namun setelah itu, aktivitas band meredup seiring para personel yang fokus pada keluarga dan kehidupan pribadi.

Dua dekade berselang, tepatnya pada 2023, RGZY mengumumkan kebangkitan. Cevy dan Erdy sebagai pendiri yang tersisa menginisiasi era baru dengan merekrut Riki dan Aldi di lini gitar, serta Desna, drummer dari unit punk rock kawakan Suck It-26.

Formasi terkini RGZY: Asep Hidayat (Cevy) – Vokal, Aldi Renaldi (Aldi) – Gitar, Riki Irawan (Riki) – Gitar, Erdi Priadi (Erdy) – Bass, Desna Supriyatna (Desna) – Drum.

Baca Juga :  LE MARLEY AND FRIENDS Luncurkan Album Penuh Optimisme 'DIAM DIAM GAK DIAM': Yakin Kita Bisa
RGZY. (Foto: Official RGZY – @etotparker_)

Sebelum EP ini dirilis, RGZY telah lebih dulu memperkenalkan arah musikal mereka lewat tiga single: Aku (2024), Bisa (2024), dan Teriakan Lantang (2025). Ketiganya menjadi fondasi suara keras, personal, dan penuh urgensi yang kini mengkristal dalam “Support System”.

Eksplorasi mereka juga meluas lewat kolaborasi bersama Tongkat Kayu, Arkaistone, dan Syifa Kusuma dalam lagu “Pemenang”, menandai keterbukaan RGZY terhadap dialog lintas spektrum musikal.

Rilisan ini menjadi penanda bahwa skena alternatif di Banten tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu momen untuk berteriak kembali. Kini, RGZY memegang megafonnya sendiri.

Jika musik keras adalah bahasa perlawanan, maka “Support System” adalah dialek baru dari pinggiran Banten, kasar, jujur, dan menolak tunduk. (*/Cipz)

Berita Terkait

BOOM FEST 2026 Siap Serukan Serang, Hadirkan Denny Caknan hingga TIPE-X dalam Satu Panggung
Le Marley Rilis Single Ketiga “DJ (Don’t Judge)”, Seruan Hentikan Budaya Menghakimi
MARAPTHON Season Satu hingga Tiga Jadi Fenomena Live Streaming, AAA CLAN Pecahkan Rekor Gila!
Syifa Kusuma Luncurkan Mini Album “Selamanya”, Ajak Pendengar Menyusuri Cerita
Konser Religi 30 Tahun Berkarya Opick Buka Tur Nasional dari Kota Serang, Warga Antusias Ikuti Refleksi Spiritual “Di Bawah Langit-Mu”
Konser Religi Opick Usung Refleksi Spiritual, Siap Digelar di Kota Serang
RGZY Rilis Video Klip ‘Teriakan Lantang’, Potret Perjalanan Batin dari Terang ke Gelap
TONGKAT KAYU Lepas Mini Album Perdana ALELOPATI, Letupan Sonik dari Bawah Tanah Banten

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 00:57

BOOM FEST 2026 Siap Serukan Serang, Hadirkan Denny Caknan hingga TIPE-X dalam Satu Panggung

Rabu, 4 Maret 2026 - 11:03

Le Marley Rilis Single Ketiga “DJ (Don’t Judge)”, Seruan Hentikan Budaya Menghakimi

Jumat, 27 Februari 2026 - 15:03

MARAPTHON Season Satu hingga Tiga Jadi Fenomena Live Streaming, AAA CLAN Pecahkan Rekor Gila!

Senin, 16 Februari 2026 - 11:06

RGZY Lepas EP “Support System”, Deru Hardcore Pinggiran Banten yang Menolak Redam

Senin, 2 Februari 2026 - 23:03

Syifa Kusuma Luncurkan Mini Album “Selamanya”, Ajak Pendengar Menyusuri Cerita

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52