[BANTENESIA.NET], Serang — Dari bawah tanah skena musik alternatif Banten, band alternative rock TONGKAT KAYU merilis mini album perdana bertajuk ALELOPATI.
Bukan sekadar rilisan debut, karya ini hadir sebagai ledakan sonik sekaligus refleksi filosofis tentang konflik, dominasi, dan eksistensi manusia dalam ruang sosial yang terus bergeser.
Mengusung konsep yang tidak biasa, ALELOPATI meminjam istilah biologis tentang perilaku tumbuhan yang memengaruhi lingkungan sekitarnya—bukan untuk menyelamatkan diri sendiri, melainkan demi melindungi tumbuhan lain. Metafora ini menjalar ke seluruh track, menjadi pesan utama yang tajam, sunyi, dan kadang tak nyaman, namun terasa perlu.

“Lagu-lagu di mini album ini tidak kami maksudkan untuk dijelaskan secara gamblang,” ungkap Ismed, vokalis TONGKAT KAYU.
“Kami hanya ingin pendengar bersiap menyelamatkan diri sebelum sesuatu yang di luar rencana kepala mereka terjadi. Gunakan sudut pandang masing-masing saat mendengarkan—di sanalah maknanya akan bekerja,” tambahnya.
Secara tematik, ALELOPATI berbicara tentang konflik bawah sadar manusia, relasi kuasa, luka-luka sosial, hingga harapan akan empati. Pendengar diajak menafsirkan sendiri tiap lapisan cerita, bahkan diharapkan mampu ‘menyembuhkan’ luka manusia lain melalui kesadaran yang lahir dari musik.
“Kalau tumbuhan saja bisa begitu kesatria—diam, tertancap seumur hidup, tapi masih ingin menyelamatkan sesamanya—seharusnya manusia juga bisa,” lanjut Ismed.
Mini album ini memuat lima track:
-
Istidraj
-
Didekap Melati
-
Mengunjungimu di Kota Rindu
-
Perang Bawah Sadar
-
Koma
Direkam secara digital di Tonasia Record selama tiga bulan penuh eksplorasi, ALELOPATI dipengaruhi oleh noise rock era 90-an, pop rock alternatif, hingga ambient industrial. Aransemen abrasif, lirik filosofis, dan produksi yang mentah namun jujur menjadi ciri kuat rilisan ini.
“Kami percaya musik bukan sekadar hiburan, tapi juga alat gangguan,” ujar Danang, gitaris TONGKAT KAYU.
“Gangguan terhadap sistem nilai, terhadap kenyamanan semu.”
ALELOPATI rilis di seluruh platform digital pada 5 Desember 2025, dan akan dirayakan melalui showcase khusus di Maju Studio, Serang, pada 12 Desember 2025. Sementara itu, versi live session akan dirilis melalui label independen Frasa Musik.
TONGKAT KAYU terbentuk pada 5 September 2015 di Banten, berawal dari Yonansef dan Egi, sebelum berkembang menjadi formasi lima personel, Ismed (vokal), Danang (bass), Yonansef (gitar), Egi (drum), dan Fauzan (gitar)
Dikenal lewat performa panggung yang penuh energi dan eksplorasi musikal yang matang, TONGKAT KAYU aktif di skena musik lokal serta komunitas independen. Dengan ALELOPATI, mereka menegaskan langkah awal yang berani—sebuah pernyataan bahwa musik bisa menjadi medium kesadaran, perlawanan sunyi, dan empati. (*/Pou)







