Anatomi Kriminalitas Over-Kredit: Mengapa Hukum Perikatan Gagal Mencegah Pidana Fidusia?

- Redaktur

Selasa, 7 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Fakultas Hukum UNPAM Serang, Nur Asri Oktavianingsih. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Fakultas Hukum UNPAM Serang, Nur Asri Oktavianingsih. (Foto: Istimewa)

Oleh: Nur Asri Oktavianingsih
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang)

[BANTENESIA.NET] – Fenomena over-kredit kendaraan bermotor secara bawah tangan kini bukan lagi sekadar riak kecil dalam sengketa perdata, melainkan telah bergeser menjadi komoditas kriminalitas yang masif.

Di media massa, kita hampir setiap hari membaca berita tentang eksekusi paksa kendaraan oleh Debt Collector, debitur yang dilaporkan ke polisi, hingga sindikat penadah mobil leasing. Ironisnya, sebagian besar pelaku yang terjerat hukum mengaku tidak tahu bahwa tindakan mengoveralihkan kendaraan yang belum lunas adalah sebuah tindak pidana.

Di ruang kuliah hukum, khususnya dalam mata kuliah Hukum Perikatan, kita diajarkan bahwa perjanjian adalah hukum yang mengikat para pihak (Pacta Sunt Servanda). Namun, mengapa instrumen perdata ini begitu rapuh di lapangan? Mengapa kegagalan membayar angsuran begitu mudah melompat menjadi delik penggelapan dan pelanggaran Undang-Undang Jaminan Fidusia? Jawabannya terletak pada jurang pemisah yang lebar antara teks hukum yang kaku dengan pemahaman literasi keuangan masyarakat yang masih sangat dangkal.

Baca Juga :  Kebebasan Berpendapat: Antara Hak, Batas dan Etikanya

Banyak debitur menganggap bahwa karena mereka telah membayar uang muka (Down Payment) dan beberapa bulan angsuran, maka kendaraan tersebut telah menjadi milik mereka sepenuhnya. Atas dasar logika keliru ini, ketika terjepit masalah ekonomi, mereka dengan mudah menjual atau mengoveralihkan kendaraan tersebut kepada pihak ketiga dengan sistem “oper kontrak bawah tangan” demi mendapatkan kembali modal awal.

Di sinilah letak jebakan hukumnya. Secara yuridis, berdasarkan UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, hak kepemilikan atas kendaraan tersebut secara hukum tetap berada di tangan perusahaan pembiayaan (leasing) selaku kreditur. Debitur hanya memegang hak pakai (hak penguasaan fisik).

Ketika debitur mengalihkan, menggadaikan, atau menjual kendaraan tersebut tanpa persetujuan tertulis dari pihak leasing, secara otomatis unsur Pasal 36 UU Jaminan Fidusia dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan telah terpenuhi. Sanksinya tidak main-main: pidana penjara hingga dua tahun. Janji atau kesepakatan bawah tangan antara debitur lama dan pembeli baru sama sekali tidak menghapuskan sifat melawan hukum dari tindakan tersebut.

Baca Juga :  Korupsi di Pertamina: Cermin Buram Tata Kelola Energi dan Tanggung Jawab Negara

Kriminalisasi atau Kegagalan Sistem?Maraknya kasus pidana fidusia ini juga melahirkan kritik tajam terhadap industri pembiayaan itu sendiri. Sering kali, demi mengejar target penjualan, pihak leasing menerapkan prosedur analisis kredit yang sangat longgar saat awal perjanjian. Akibatnya, konsumen yang tidak memiliki kapasitas finansial yang memadai tetap lolos mendapatkan pembiayaan.

Ketika debitur tersebut mulai macet membayar (wanprestasi), pihak leasing tidak jarang langsung menggunakan jalur pidana sebagai instrumen “gertakan” (Shock Therapy) atau jalan pintas untuk memaksa pengembalian kerugian. Fenomena memidanakan sengketa yang berakar dari hubungan kontraktual ini menjadi potret buram penegakan hukum kita. Hukum pidana yang seharusnya menjadi upaya terakhir (ultimum remedium) justru bergeser menjadi senjata utama (primum remedium) akibat kegagalan mitigasi risiko di ranah perdata.

Hukum Perikatan sejatinya menyediakan benteng pertahanan utama untuk mencegah kriminalitas ini melalui asas itikad baik (te goeder trouw). Jika asas ini benar-benar dihidupkan, debitur yang mengalami kesulitan keuangan seharusnya datang ke kantor leasing untuk melakukan restrukturisasi kredit atau over-kredit resmi yang tercatat secara hukum, bukan malah mencari jalan pintas lewat makelar jalanan.

Baca Juga :  Hilangnya Jiwa Pancasila di Kalangan Pelajar Jadi Sorotan, Pengamatan di Sajira Ungkap Berbagai Fenomena Sosial

Namun, mengandalkan kesadaran debitur saja tentu tidak cukup. Perlu ada pembenahan sistemik. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus lebih agresif memaksa perusahaan pembiayaan untuk melakukan edukasi fidusia secara transparan kepada konsumen sebelum kontrak ditandatangani. Klausul larangan pengalihan unit tidak boleh hanya disembunyikan dalam lembaran kontrak berhuruf kecil yang jarang dibaca.

Pada akhirnya, maraknya kasus pidana over-kredit adalah alarm keras bahwa pengajaran Hukum Perikatan di perguruan tinggi tidak boleh mandek pada hafalan teori semata. Ia harus mampu menganalisis dinamika ekonomi masyarakat. Menegakkan hukum perikatan yang humanis berarti memastikan bahwa setiap orang yang menandatangani kontrak memahami sepenuhnya konsekuensi logis dari setiap coretan pena mereka, sehingga hukum tidak perlu lagi mampir ke balik jeruji besi hanya karena urusan cicilan mobil yang macet. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru