Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

- Redaktur

Selasa, 14 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Nama: Lia Oktavia
Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNPAM Serang

Diperbarui 14 Juli 2026 [BANTENESIA.NET], Jakarta – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan serius setelah lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mempertahankan status pembekuan (Freeze) terhadap saham Indonesia dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI) pada Index Review Agustus 2026. Keputusan ini berarti tidak ada penambahan emiten Indonesia baru ke dalam indeks MSCI, sekaligus membuka potensi bursa domestik turun kelas dari status Emerging Market menjadi Frontier Market pada peninjauan November 2026 mendatang.

Baca Juga :  Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sejak pengumuman status Freeze pertama kali, investor asing terus melakukan aksi jual saham Indonesia sehingga secara year to date terjadi Capital Outflow senilai Rp75 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berfluktuasi di kisaran 5.900 hingga mendekati 6.000, tertekan bayang-bayang aksi Net Sell Asing yang berkelanjutan.

Wakil Direktur PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma, menjelaskan bahwa perhatian utama MSCI kini bukan lagi sekadar langkah perbaikan yang telah dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bursa, melainkan konsistensi dalam menjalankan kebijakan tersebut dari waktu ke waktu. Selama status freeze belum dicabut, aliran dana segar dari investor global yang mengikuti indeks MSCI akan tetap tertahan sebuah kondisi yang menurutnya paling dinantikan pelaku pasar domestik.

Baca Juga :  Budaya Patriarki Disorot, Kasus Kekerasan Seksual Anak di Purworejo Jadi Alarm Keluarga dan Negara

Sejumlah hambatan struktural turut disoroti investor global, di antaranya kesetaraan hak bagi investor asing, tingkat liberalisasi pasar valuta asing, proses kliring dan penyelesaian transaksi, transfer aset, fasilitas peminjaman saham (Stock Lending), hingga mekanisme Short Selling. Bila reformasi di area-area ini tidak berjalan cepat dan terukur, risiko volatilitas pasar serta biaya modal yang lebih tinggi bagi emiten berpotensi terus berlanjut.

Baca Juga :  Ibu-Ibu Perajin Bambu Tegal Maja Kini Belajar Jualan Online, Ini Jurus dari Dosen UNPAM Serang

Regulator seperti OJK, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kini didesak mempercepat langkah reformasi pasar modal agar Indonesia bisa kembali memenuhi kriteria penyusun indeks global sebuah langkah yang, jika berhasil, berpotensi membuka kembali aliran modal jangka menengah dari investor internasional. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 63 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru