Adab diatas Ilmu, Ungkapan Klasik Sering Terlupakan

- Redaktur

Rabu, 19 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

M.Raehan Al MubarokNim : 241090200499. (Foto: Istimewa)

M.Raehan Al MubarokNim : 241090200499. (Foto: Istimewa)

Nama : M.Raehan Al Mubarok

Nim : 241090200499

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Dalam dunia yang semakin didominasi oleh pengetahuan dan teknologi, ungkapan “adab di atas ilmu” sering kali terdengar sebagai nasihat klasik yang terlupakan.

Namun, saya percaya bahwa prinsip ini bukan sekadar pepatah lama, melainkan fondasi esensial bagi kehidupan manusia. Adab—yang mencakup etika, perilaku, dan moralitas—harus ditempatkan di atas ilmu pengetahuan.

Tanpa adab, ilmu bisa menjadi senjata yang merusak, bukan alat untuk kemajuan. Mari kita bahas mengapa pendapat ini relevan di era modern ini.

Pertama, ilmu pengetahuan tanpa adab rentan disalahgunakan. Bayangkan seorang ilmuwan brilian yang menemukan teknologi baru, seperti kecerdasan buatan atau energi nuklir.

Jika ia tidak memiliki adab—misalnya, rasa tanggung jawab sosial atau empati—penemuan itu bisa digunakan untuk kejahatan, seperti pengawasan massal atau senjata pemusnah. Contoh nyata adalah skandal data Cambridge Analytica, di mana data besar (big data) digunakan untuk memanipulasi pemilih tanpa pertimbangan etis.

Baca Juga :  Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Membangun Kesadaran Berpolitik Mahasiswa

Ilmu di sini maju pesat, tetapi adab yang hilang menyebabkan kerusakan sosial. Sebaliknya, tokoh seperti Albert Einstein, yang ilmunya mengubah dunia, selalu menekankan pentingnya etika dalam sains. Adab memastikan ilmu digunakan untuk kebaikan bersama, bukan ego pribadi.

Kedua, adab membentuk karakter manusia yang utuh. Pendidikan modern sering kali menekankan akumulasi pengetahuan—nilai ujian, gelar akademik, dan keterampilan teknis. Namun, tanpa adab, seseorang bisa menjadi “pintar” tapi tidak bijak. Di Indonesia, misalnya, kita sering melihat kasus korupsi di kalangan intelektual atau profesional yang berpendidikan tinggi.

Baca Juga :  Syifa Kusuma, Siswi SDN 02 Kota Serang, Sabet Juara Pertama Lomba Solo Vocal FLS2N 2024

Mereka memiliki ilmu, tapi adab seperti integritas dan kejujuran yang kurang. Ungkapan “adab di atas ilmu” mengingatkan kita bahwa pengetahuan hanyalah alat; adab adalah pemandu.

Dalam konteks Islam, di mana ungkapan ini berasal, adab mencakup akhlak mulia yang diajarkan Nabi Muhammad, seperti sabar, rendah hati, dan kasih sayang. Tanpa itu, ilmu bisa membuat seseorang sombong atau eksploitatif.

Ketiga, di era digital saat ini, adab lebih penting dari sebelumnya. Dengan akses mudah ke informasi melalui internet, siapa saja bisa “belajar” ilmu, tapi tidak semua memiliki adab untuk menggunakannya dengan bijak.

Misalnya, deepfake atau AI generatif bisa menciptakan konten palsu yang merusak reputasi atau memicu kebencian. Jika adab seperti kebenaran dan empati tidak diutamakan, ilmu ini akan memperburuk polarisasi sosial.

Baca Juga :  Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?

Pendapat saya adalah bahwa pendidikan harus mengintegrasikan adab sebagai prioritas. Sekolah dan universitas seharusnya tidak hanya mengajar matematika atau fisika, tapi juga etika digital, empati, dan tanggung jawab sosial.

Ini bukan berarti menolak ilmu, melainkan menyeimbangkannya dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, “adab di atas ilmu” adalah panggilan untuk keseimbangan. Ilmu membuka pintu kemungkinan, tapi adab yang menentukan arahnya. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan, kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bermoral.

Mari kita prioritaskan adab dalam setiap aspek kehidupan—dari pendidikan hingga kepemimpinan—agar ilmu benar-benar menjadi berkah, bukan kutukan.

Seperti kata bijak, pengetahuan tanpa adab seperti api tanpa kendali: bisa menghanguskan dunia. Apakah Anda setuju? Mari diskusikan. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru