Lunturnya Nilai Pancasila Di Era Modern: Saat Nilai Bangsa Kalah Oleh Nontifikasi

Senin, 4 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Penulis: Artika Mandasari
(Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum UNPAM PSDKU Serang)
Dosen pengampu: Risky Amalia, S.H, M.H
Mata kuliah: Pendidikan Pancasila

[BANTENESIA.NET] – Pancasila bukan sekedar hafalan upacara. Ia fondasi cara kita hidup berbangsa. Namun diera digital, nilai-nilai Pancasila perlahan luntur bukan karena ditolak terang-terangan, tapi karena tak lagi dibuka.

Kita hidup di zaman di mana notifikasi lebih cepat menyita perhatian daripada refleksi kebangsaan. Ketika ideologi harus bersaing dengan 5 detik video viral, Pancasila terdesak ke pojok ruang digital. Jurnal ini membahas bagaimana nilai bangsa tergerus dalam diam oleh dominasi notifikasi dan layar.

Fenomena ini terlihat dari hal-hal kecil sehari-hari. Gotong royong digantikan “donasi klik”.

Musyawarah kalah cepat dengan kolom komentar yang emosional. Keadilan sosial tenggelam dalam algoritma yang hanya menampilkan apa yang kita suka, bukan apa yang perlu kita tahu.

Baca Juga :  Program MBG dalam Perspektif Mahasiswa Hukum: Antara Amanat Konstitusi dan Problem Implementasi di Masyarakat

Survei generasi muda menunjukkan banyak yang hafal 5 sila, tapi bingung menerapkannya saat menghadapi hoaks, ujaran kebencian, atau polarisasi di media sosial.

Nilai Pancasila tidak hilang, tapi terabaikan. Ia luntur tak bersuara karena perhatian kita sudah dibajak oleh doom scrolling, FYP, dan validasi instan. Kita lebih peduli jumlah like daripada nilai persatuan. Lebih reaktif ke tren global daripada merawat identitas nasional.

Solusi dan Rekomendasi:

1. Literasi Digital Berbasis Nilai: Kurikulum sekolah dan kampanye publik perlu menyatukan digital skill dengan nilai Pancasila. Bukan hanya ajarkan cara blokir hoaks, tapi kenapa menyebarkan fitnah bertentangan dengan sila kedua dan ketiga.

Baca Juga :  Fenomena Banjir Kronik di Cilegon: Analisis Opini Publik dan Tuntutan Reformasi

2. Konten Tandingan yang Relevan: Negara dan kreator harus “bertarung” di ranah yang sama. Buat konten Pancasila versi TikTok, Reels, dan Shorts. Bungkus nilai gotong royong jadi challenge, musyawarah jadi thread diskusi sehat.

3. Detoks Algoritma: Dorong platform untuk memberi ruang pada konten edukasi kebangsaan. Sekaligus ajak pengguna sadar algoritma. Atur notifikasi, kurasi feed, dan beri jeda dari layar untuk kembali ke ruang nyata.

4. Keteladanan Elit Digital: Influencer, pejabat, dan tokoh publik harus jadi contoh. Sikap toleran, anti korupsi, dan mengutamakan dialog di ruang digital jauh lebih kuat dari 1000 seminar.

Pancasila tidak akan mati karena serangan dari luar. Ia bisa luntur karena kita diam-diam meninggalkannya demi notifikasi berikutnya. Tantangan kita hari ini bukan sekadar menjaga Pancasila dari ideologi lain, tapi menjaganya tetap relevan di kepala dan hati yang setiap hari dibanjiri informasi.

Baca Juga :  Bagaimana Remote Working Mengubah Gaya Hidup Anak Muda Indonesia

Jika kita tidak sengaja “membuka” Pancasila di tengah padatnya notifikasi, maka pelan-pelan ia akan jadi aplikasi yang tidak pernah di-update, lalu di-uninstall dari jiwa bangsa. Mempertahankan Pancasila di era ini artinya berani melawan arus demi tetap waras berbangsa.

Sumber Bacaan : Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Kaelan. Pendidikan Pancasila. Paradigma, 2016, LPPM UGM. Laporan Survei Nilai Kebangsaan Gen Z di Media Sosial, 2024, Kemenkominfo RI. Status Literasi Digital Indonesia, 2023, Hariyono. Ideologi Pancasila: Roh Progresif Nasionalisme Indonesia. Intrans Publishing, 2018. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?
Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat
Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang
Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian
Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:54 WIB

Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?

Rabu, 30 September 2026 - 10:51 WIB

Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat

Rabu, 30 September 2026 - 10:49 WIB

Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Berita Terbaru

(Foto: Istimewa)

Ekonomi Bisnis

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WIB