Bagaimana Remote Working Mengubah Gaya Hidup Anak Muda Indonesia

- Redaktur

Senin, 8 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

Nama: Jashan Riyan Saputra

Nim: 1111250078

Instansi: Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Budaya kerja Indonesia mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah munculnya tren kerja dari jarak jauh atau remote working, yang terus berlanjut hingga saat ini.

Banyak anak muda mulai terbiasa bekerja dari rumah, kafe, co-working space, bahkan sambil bepergian.

Ini berbeda dengan masa lalu, ketika bekerja hanya memerlukan kantor fisik dan jadwal yang tidak fleksibel. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi pola kerja tetapi juga gaya hidup dan cara anak muda memaknai kehidupan sehari-hari mereka.

Fleksibilitas dalam menentukan ruang kerja adalah salah satu perubahan paling menonjol.

Generasi muda tidak lagi duduk di kantor dengan suasana formal. Banyak dari mereka memilih tempat yang lebih nyaman dan mendukung kreativitas, seperti perpustakaan dan kafe, atau bahkan mereka bisa bekerja di rumah jika mereka tidak suka bekerja di luar ruangan. Budaya baru, yaitu work from anywhere, muncul sebagai bagian dari identitas profesional anak muda di berbagai bidang, terutama teknologi, digital marketing, dan kreatif.

Baca Juga :  Pemilihan Umum: Ilusi Dalam Sistem Demokrasi

Karena pekerjaan dari jauh mendorong penggunaan berbagai platform untuk bekerja sama secara online, budaya digital juga semakin tersebar luas.

Anak-anak muda menggunakan aplikasi manajemen kerja, penyimpanan cloud, dan ruang diskusi virtual untuk bekerja.

Terlepas dari kenyataan bahwa situasi ini tampak efektif, hal-hal seperti belajar mengelola waktu secara mandiri, mempertahankan standar komunikasi online, dan menetapkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi adalah semua contoh budaya baru yang harus diterima.

Baca Juga :  Peran BPJS Kesehatan dalam Menjamin Hak Kesehatan Warga Negara

Fenomena burnout digital, yang sekarang banyak dibicarakan sebagai masalah budaya kerja generasi muda, sering muncul sebagai akibat dari masalah ini.

Sebaliknya, komunitas baru—digital nomad lokal—muncul sebagai akibat dari tren ini.

Banyak remaja Indonesia memilih untuk tinggal sementara di kota-kota untuk bekerja dan menikmati lingkungan baru. Kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Malang menjadi destinasi populer karena memiliki lingkungan kreatif, harga hidup yang masuk akal, dan ekosistem budaya yang beragam.

Fenomena ini juga berdampak pada hal-hal lokal, seperti makanan, pakaian, dan cara orang asing berinteraksi dengan orang lokal dan bisnis kreatif.

Namun, perubahan budaya ini menimbulkan perbedaan.

Tidak semua pekerja memiliki lingkungan rumah yang mendukung produktivitas atau akses internet yang stabil.

Baca Juga :  PSG dan Program PK Dorong SMK Terpadu Bismillah Jadi Role Model Pendidikan Vokasi di Banten

Kelompok tertentu yang tinggal di wilayah dengan infrastruktur digital yang memadai lebih mudah mengadopsi praktik kerja dari jarak jauh karena keadaan ini.

Tidak adanya interaksi secara langsung, yang selama ini menjadi ciri khas budaya kerja kolektif masyarakat Indonesia, merupakan tantangan tambahan.

Akibatnya, beberapa nilai sosial, seperti kebersamaan dan hubungan emosional dengan rekan kerja, harus dipulihkan.

Secara keseluruhan, pekerjaan dari jarak jauh telah mengubah cara remaja Indonesia bekerja, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah transformasi budaya ini, pekerjaan sekarang menjadi bagian dari gaya hidup yang fleksibel, kreatif, dan terhubung dengan teknologi.

Di masa depan, tidak hanya sulit untuk mempertahankan produktivitas, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan sosial dan psikologis dalam budaya kerja yang terus berubah. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru