[BANTENESIA.NET] – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu memperkuat kualitas produk, membangun identitas merek, serta memahami perilaku konsumen untuk menembus Pasar Ritel Modern dan memperluas jangkauan bisnis ke tingkat nasional. Strategi tersebut mengemuka dalam Talkshow bertajuk “Dari Etalase Lokal ke Rak Nasional” yang menjadi bagian dari rangkaian hari ketiga Karya Kreatif Banten (KKB) dan Banten Investment Forum (BIF) 2026.
Talkshow yang digelar di Bintaro Xchange Mall 2, Minggu (11/10/2026), menghadirkan sejumlah praktisi bisnis dari sektor Ritel Modern, Department Store Premium, hingga produsen cokelat lokal yang berhasil mengembangkan produknya ke pasar yang lebih luas.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk memahami peluang dan tantangan memasuki pasar modern, sekaligus memperoleh wawasan mengenai strategi bisnis, standardisasi produk, penguatan merek, dan perubahan tren konsumsi masyarakat.
Store Manager SOGO Indonesia, Surung Pasaribu, menjelaskan bahwa pemahaman terhadap karakteristik pasar dan kebutuhan konsumen menjadi salah satu faktor penting bagi produk yang ingin masuk ke jaringan department store premium.
Menurutnya, SOGO berupaya memberikan ruang bagi produk karya anak bangsa sekaligus menghadirkan merek-merek dunia agar konsumen Indonesia dapat memperoleh berbagai produk berkualitas di dalam negeri.
“Kami menguatkan produk-produk karya anak bangsa dan brand dunia. Orientasi kami adalah memberikan produk pengetahuan atas di Indonesia agar masyarakat kita tidak perlu pergi ke luar negeri untuk membeli produk-produk tersebut,” ujar Surung.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perubahan teknologi dan gaya hidup, menurutnya, turut memengaruhi kebutuhan konsumen sehingga pelaku UMKM harus mampu menyesuaikan produk dengan tren pasar.
Salah satu contohnya adalah pergeseran minat konsumen dari jam tangan konvensional ke smartwatch yang menawarkan beragam fitur digital.
“Kalau dia terus-menerus tidak berubah, maka dia akan selesai. Hal ini saya sampaikan terus kepada seluruh tim agar memberikan yang terbaik,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi pelaku UMKM untuk menjaga relevansi produk dan mempertahankan daya saing di tengah kompetisi bisnis.
Peluang memasuki jaringan ritel modern juga dipaparkan Project Executive Indomaret, Purwanto Wahyudi. Ia menjelaskan bahwa kerja sama dengan minimarket berjaringan nasional dapat membantu UMKM memperluas distribusi sekaligus meningkatkan kredibilitas merek.
Melalui sistem distribusi yang terintegrasi, produk yang berhasil masuk ke pusat distribusi atau Distribution Center (DC) berpeluang menjangkau ratusan gerai sekaligus.
“Satu kali masuk ke Distribution Center (DC), produk Bapak dan Ibu sudah langsung terserap ke sekian ratus toko. Artinya apa? Itulah proses perluasan pasar,” jelas Purwanto.
Meski menawarkan peluang besar, memasuki pasar ritel modern membutuhkan kesiapan usaha yang matang. Pelaku UMKM perlu memastikan kualitas produk tetap konsisten, kemasan memenuhi standar, serta kapasitas produksi mampu mengikuti permintaan pasar.
Selain itu, penentuan harga dan ukuran atau gramasi produk juga perlu diperhitungkan secara cermat. Konsumen modern semakin kritis dalam membandingkan harga dan nilai yang diperoleh dari suatu produk.
“Hati-hati dalam menentukan harga dan gramasi. Konsumen saat ini sangat kritis. Pilihlah gramasi yang tepat dan masuk akal agar memudahkan konsumen melakukan perbandingan harga secara psikologis,” tambahnya.
Dengan demikian, kesiapan memasuki Ritel Modern tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan pelaku usaha menyusun strategi harga, menjaga pasokan, dan memenuhi kebutuhan konsumen secara berkelanjutan.
Inspirasi lain datang dari Nugroho Surosoputro, Co-Founder Coklatin Signature, jenama minuman berbasis kakao lokal Indonesia yang dirintis sejak 2016 bersama istrinya.
Nugroho mengungkapkan, usaha tersebut berangkat dari keinginan untuk mendorong kakao Indonesia agar memiliki nilai tambah melalui produk olahan dan merek lokal yang mampu bersaing di pasar premium.
Menurutnya, membangun bisnis tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk berkualitas. Pelaku usaha juga perlu membangun identitas merek yang kuat agar produknya memiliki karakter dan pembeda di tengah persaingan.
“Kami tidak ingin hanya membuat sebuah produk, tapi kami ingin menjual brand, membangun sebuah jenama lokal Indonesia. Yang kami jual itu bukan hanya produk minuman cokelat, tapi cokelat Coklatin, karena produk cokelat di luar sana ada banyak, tetapi Coklatin hanya ada satu,” ungkap Nugroho.
Untuk memperkuat kepercayaan pasar, Coklatin secara konsisten mengikuti berbagai kompetisi bisnis dan aktif menjalin pendampingan dengan Bank Indonesia.
Upaya tersebut turut mendukung pengembangan bisnis Coklatin hingga produknya berhasil menembus hotel berbintang lima, kafe, dan jaringan Ritel Modern melalui kerja sama dengan distributor.
Nugroho menilai, keberhasilan memperluas pasar harus dibangun melalui upaya yang berkelanjutan, mulai dari pengembangan kualitas produk, desain kemasan yang menarik, hingga konsistensi dalam menjalankan bisnis.
“Peluang itu tidak datang begitu saja, tapi harus dicari. Bagaimana kita memaksimalkan apa yang didapat untuk menciptakan peluang baru melalui produk yang baik, desain yang menarik, dan konsistensi,” pungkasnya.
Berbagai pengalaman yang dibagikan dalam Talkshow “Dari Etalase Lokal ke Rak Nasional” menegaskan bahwa keberhasilan UMKM menembus pasar modern membutuhkan persiapan menyeluruh.
Produk yang menarik perlu didukung kualitas yang konsisten, identitas merek yang kuat, kemasan sesuai standar, serta pemahaman terhadap karakteristik dan perubahan perilaku konsumen.
Di sisi lain, kepatuhan terhadap regulasi, kesiapan kapasitas produksi, dan pengelolaan rantai pasok juga menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan kerja sama dengan mitra Ritel.
Melalui rangkaian KKB dan BIF 2026, penguatan kapasitas UMKM diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas, mendorong kolaborasi dengan pelaku industri, serta meningkatkan daya saing produk lokal.
Dengan strategi yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, UMKM berpeluang tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mengembangkan merek lokal menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga global. (Cipz)








