Oleh: Muhammad Iqbal Syahpoetra
Mahasiswa Pecinta Budaya Banten
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Saat berdiri di antara hiruk-pikuk Pesta Kaibon 2025, saya merasakan lebih dari sekadar sebuah festival. Ini adalah detak jantung sejarah yang masih bergerak, napas budaya leluhur yang tak pernah padam.
Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar di tanah Banten, saya melihat festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah perjuangan untuk menjaga identitas yang kian terkikis oleh derasnya arus modernisasi.
Ketika 17 subsektor ekonomi kreatif memenuhi Alun-Alun Kota Serang, saya melihat masa depan yang tersimpan dalam setiap booth, setiap karya, setiap ekspresi budaya. Bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya nyata untuk mentransformasi warisan leluhur ke dalam konteks kontemporer.
Kami, mahasiswa, tidak ingin sejarah Kesultanan Banten hanya menjadi cerita di buku-buku tua, melainkan hidup dan bernafas dalam setiap langkah generasi muda.
Partisipasi kami tidak sekadar simbolis. Dari Kaibon Run yang mengumpulkan 1.000 peserta hingga kegiatan kajian rohani yang diikuti 1.500 orang, kami membuktikan bahwa cinta pada budaya bukanlah sekadar retorika kosong.
Kami adalah penjaga, pewaris, sekaligus kreator ulang narasi budaya Banten.
Saya teringat pesan para sesepuh, bahwa budaya adalah akar yang menopang pohon peradaban.
Pesta Kaibon 2025 memperlihatkan bagaimana akar itu tidak sekadar dirawat, tetapi diberi ruang untuk tumbuh, berkembang, dan bertunas dengan cara yang segar dan dinamis.
Keputusan menyelenggarakan festival di Alun-Alun, bukan di situs sejarah, adalah simbol bijak bagaimana kami ingin melestarikan tanpa membuat warisan menjadi benda mati yang dibatasi tembok.
Sebagai generasi muda, kami sadar benar bahwa pelestarian budaya bukanlah sekadar tentang mengawetkan masa lalu. Ini tentang bagaimana kami memberi nafas baru pada warisan leluhur, menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami generasi kini.
Setiap karya seni, setiap pertunjukan, setiap booth ekonomi kreatif adalah cara kami bercerita tentang Banten yang tak pernah berhenti bergerak.
Target festival yang ambisius – 10.000 pengunjung bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa budaya memiliki daya hidup, mampu membangkitkan ekonomi, menggerakkan kreativitas, dan membangun kebanggaan kolektif.
Kami tidak ingin warisan budaya sekadar menjadi tontonan, melainkan menjadi spirit penggerak kemajuan.
Kepada generasi tua, kami berjanji akan terus menjaga, mengembangkan, dan menghidupkan kembali jejak sejarah Kesultanan Banten.
Kepada generasi mendatang, kami akan menurunkan api semangat ini – api yang tak pernah padam, api yang selalu memperbarui diri.
Pesta Kaibon 2025 bukanlah akhir, melainkan sebuah titik awal. Sebuah komitmen bahwa budaya Banten akan terus hidup, bernapas, dan berkembang. Bukan sebagai museum yang membeku, melainkan sebagai organisme hidup yang selalu bergerak, selalu bernafas, selalu bercerita. ***







