Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia

Rabu, 8 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Oleh: Aden Wijaya
(Pemerhati Bidang Pemasaran UNPAM)

[BANTENESIA.NET] Di era digital saat ini, masyarakat Indonesia menghadapi fenomena baru yang dapat disebut sebagai zombieisme konsumtif. Istilah ini bukan merujuk pada makhluk fiksi, melainkan menggambarkan perilaku konsumen yang seolah-olah kehilangan daya kritis dalam mengambil keputusan pembelian. Mereka terus mengikuti tren, diskon, promosi, dan gaya hidup yang dibentuk oleh media sosial, Influencer, maupun Platform E-commerce tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya.

Fenomena ini semakin terlihat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa transaksi E-retail dan marketplace pada triwulan III tahun 2025 tumbuh 6,19% dibandingkan triwulan sebelumnya. Produk yang paling banyak mengalami peningkatan transaksi meliputi produk perawatan diri, perlengkapan rumah tangga, fasion, jasa transportasi, hingga perlengkapan olahraga. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa aktivitas belanja digital masyarakat terus meningkat.

Di sisi lain, peningkatan transaksi tersebut juga menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital semakin berhasil membentuk perilaku konsumsi masyarakat. Berbagai fitur seperti Flash Sale, gratis ongkir, Live Shopping, Paylater, dan notifikasi promosi menciptakan dorongan psikologis agar konsumen segera melakukan pembelian, bahkan ketika barang tersebut belum tentu dibutuhkan.

Baca Juga :  Pembangunan vs Keadilan: Dilema Agraria yang Tak Kunjung Usai

Hasil survei APJII 2025 menunjukkan bahwa pakaian dan aksesori merupakan kategori produk yang paling banyak dibeli masyarakat Indonesia melalui E-commerce, yaitu sebesar 43,74%, disusul produk kecantikan (14,57%), perlengkapan rumah tangga (11,50%), makanan dan minuman (10,64%), serta elektronik dan gawai (8,31%). Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar transaksi daring didominasi oleh barang konsumtif dibandingkan kebutuhan yang bersifat produktif.

Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai memasuki fase konsumsi simbolik. Barang tidak lagi dibeli semata-mata karena fungsi, tetapi karena mampu memberikan citra sosial, pengakuan, atau kepuasan emosional. Akibatnya, keputusan pembelian sering kali lebih dipengaruhi oleh tren daripada kebutuhan.

Fenomena zombieisme konsumtif juga diperkuat oleh hasil penelitian mengenai perilaku belanja digital di Indonesia. Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (2025) menemukan bahwa pada pengguna layanan PayLater dari Generasi Z, nilai belanja hedonik dan kontrol diri berhubungan dengan meningkatnya kecenderungan melakukan pembelian impulsif. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek emosional memiliki peran besar dalam mendorong perilaku konsumtif di era digital.

Baca Juga :  Respons Masyarakat terhadap Risiko Radioaktif di Serang, Banten

Temuan serupa juga diperlihatkan dalam penelitian Universitas Islam Indonesia mengenai pengguna Shopee Live. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tekanan waktu (Time Pressure), keterbatasan stok (Quantity Pressure), manfaat ekonomi, pengaruh sosial, serta tampilan visual dalam siaran langsung memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku impulse buying konsumen.!

Lebih jauh lagi, penelitian dari Binus University mengenai perilaku belanja di Social Commerce menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FOMO) dan promosi penjualan merupakan faktor yang paling kuat mendorong pembelian impulsif pada masyarakat kelas menengah Indonesia. Artinya, rasa takut tertinggal tren sering kali lebih dominan dibandingkan pertimbangan rasional dalam mengambil keputusan pembelian.

Apabila kondisi ini terus berlangsung, saya melihat terdapat beberapa konsekuensi yang perlu diwaspadai. Pertama, meningkatnya penggunaan fasilitas kredit konsumtif seperti Buy Now Pay Later yang berpotensi memperbesar beban keuangan rumah tangga. Kedua, budaya menabung dan investasi dapat tergeser oleh pola konsumsi jangka pendek. Ketiga, masyarakat semakin rentan terhadap tekanan sosial untuk terus mengikuti gaya hidup yang sedang populer di media digital.

Baca Juga :  Dampak Dalam Memberikan Makanan Cepat Saji Kepada Anak

Perlu dipahami bahwa konsumsi bukanlah sesuatu yang negatif. Konsumsi merupakan penggerak utama perekonomian nasional. Namun, konsumsi yang sehat adalah konsumsi yang didasarkan pada kebutuhan, bukan semata-mata dorongan psikologis atau tekanan sosial. Oleh karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi juga meningkatkan literasi keuangan dan literasi digital agar masyarakat mampu menjadi konsumen yang cerdas.

Pada akhirnya, zombieisme konsumtif bukanlah persoalan ekonomi semata, melainkan persoalan budaya. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir kritis dalam berbelanja, maka pemasaran yang agresif akan dengan mudah membentuk perilaku konsumsi yang tidak berkelanjutan. Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk membangun budaya konsumsi yang lebih rasional, produktif, dan bertanggung jawab. ***

Berita Terkait

Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?
Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?
Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN
Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus
Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 17:36 WIB

Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?

Kamis, 10 September 2026 - 12:37 WIB

Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?

Rabu, 2 September 2026 - 21:37 WIB

Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Berita Terbaru