Tan Malaka: Revolusioner yang Mengajarkan Nasionalisme dengan Kesadaran

Jumat, 28 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Shaiella Octavia Ramadhani Putri, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Shaiella Octavia Ramadhani Putri, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Nama : Shaiella Octavia Ramadhani Putri

NIM : 251090200063

Semester : 1 (Satu)

Matkul: : Pendidikan Kewarganegaraan

Prodi : Ilmu Hukum

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Ketika membicarakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka sering

muncul sebagai sosok yang unik dan berbeda. Ia bukan hanya seorang pejuang yang bergerak di medan politik, tetapi juga seorang pemikir yang melihat perjuangan kemerdekaan sebagai proses membangun kesadaran bangsa. Sikap kritisnya, ketegasannya dalam memegang prinsip, dan perjuangannya yang tidak pernah meminta pengakuan menjadikan Tan Malaka salah satu figur revolusioner yang layak dikenang bukan hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam pemahaman kita tentang nasionalisme.

Tan Malaka memperjuangkan kemerdekaan bukan karena semata-mata dorongan emosional, tetapi karena keyakinannya bahwa bangsa ini harus berdiri atas kekuatan dan kesadarannya sendiri.

Baca Juga :  Mahasiswa UNPAM Magang di KPU Kota Serang, Peroleh Pengalaman di Bidang Administrasi dan Pelayanan Informasi

Ia melihat kemerdekaan sebagai hak yang lahir dari martabat rakyat. Cara pandangnya ini menunjukkan bahwa nasionalisme, bagi Tan Malaka, bukan hanya tentang cinta tanah air, tetapi tentang kesediaan berpikir, memahami keadaan bangsanya, dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.

Ciri khas Tan Malaka sebagai tokoh revolusioner adalah keberaniannya berpikir kritis dan melampaui arus utama zamannya. Ketika banyak tokoh memperjuangkan kemerdekaan dengan cara- cara diplomatik atau fisik, Tan Malaka lebih menekankan kesadaran intelektual rakyat. Menurutnya, bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kemenangan militer, tetapi oleh rakyat yang mampu memahami mengapa mereka harus merdeka. Melalui tulisannya dan gagasan yang ia sebarluaskan, Tan Malaka berupaya mengubah cara berpikir rakyat — dari sekadar pengikut menjadi warga bangsa yang sadar.

Baca Juga :  Gerakan Menanam di Lingkungan Kaserangan Lama, Grogol, Kota Cilegon

Di sini letak relevansinya dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). PKn bukan hanya mata pelajaran tentang aturan negara, tetapi pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Sikap Tan Malaka mencerminkan tujuan tersebut: menjadi warga negara yang tidak pasif, tetapi mampu

memahami jati diri bangsanya dan bertindak berdasarkan keyakinan yang matang. Revolusioner bukan hanya berarti melawan penjajahan, tetapi juga keberanian untuk membangun bangsa melalui cara berpikir yang merdeka.

Sebagai tokoh, Tan Malaka tidak mengejar popularitas.

Ia tidak terikat pada jabatan atau kekuasaan. Bahkan ketika namanya sempat terabaikan dalam sejarah resmi, pemikirannya tetap hidup dan dikenang sebagai simbol keteguhan.

Dari sini kita bisa melihat bahwa nasionalisme tidak selalu ditunjukkan dengan sorak-sorai atau simbol-simbol seremonial, tetapi dengan sikap dan komitmen terhadap bangsa.

Baca Juga :  Smart Home, Smart Campus, Smart Life: Saat Gen Z Sistem Komputer Mengubah Cara Kita Hidup

Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan hidupnya.

Dalam konteks PKn, keteladanan seperti ini memperkaya pemahaman tentang makna menjadi warga negara.

Tan Malaka mengajarkan bahwa nasionalisme sejati lahir dari kesadaran, bukan

tuntutan; dari keyakinan, bukan sekadar hafalan; dari keberanian bersikap, bukan sekadar kebanggaan simbolis.

Ia menunjukkan bahwa mencintai bangsa berarti berani berpikir, berani peduli, dan berani bertanggung jawab.

Melihat Tan Malaka sebagai tokoh revolusioner memberi kita gambaran bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga terus hidup dalam cara kita memaknai kewarganegaraan hari ini. Melalui sikapnya, kita belajar bahwa nasionalisme bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari karakter. ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52