Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menanggapi Isu-Isu Sosial Digital Zaman Now

- Redaktur

Sabtu, 20 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Deza Gadiza, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Deza Gadiza, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Nama: Deza Gadiza
prodi: ilmu hukum S-1
Mata Kuliah: pendidikan kewarganegaraan
Dosen Pengampu: Neneng Pratiwi Zahra S.H., M.H

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Di era di mana kita semua terhubung melalui ponsel dan internet, dunia menjadi tempat yang lebih kecil tetapi juga lebih kompleks. Dalam kondisi seperti ini, saya percaya bahwa pendidikan kewarganegaraan (PKn) memiliki peran yang lebih penting dari pernah sebelumnya dalam membimbing generasi muda untuk menghadapi isu-isu sosial digital yang muncul setiap hari.

Isu-isu seperti hoaks, ujaran kebencian, penyebaran informasi salah, dan eksploitasi di media sosial telah menjadi masalah serius yang mengancam stabilitas masyarakat dan persatuan bangsa. Banyak anak muda, yang tumbuh bersama teknologi, seringkali sulit membedakan antara informasi yang benar dan salah, atau antara ekspresi yang sehat dan yang merusak. Tanpa pemahaman yang tepat tentang nilai-nilai PKn seperti kebenaran, rasa hormat terhadap sesama, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi, mereka berisiko terjebak dalam siklus informasi salah atau bahkan terlibat dalam tindakan yang merusak hubungan sosial. Misalnya, hoaks tentang kebijakan pemerintah atau konflik antar kelompok bisa menyebar dengan cepat di media sosial, menimbulkan kesalahpahaman dan ketegangan yang tidak perlu — sesuatu yang bisa dicegah jika warga negara memiliki literasi digital yang didasari pada nilai-nilai PKn.

Baca Juga :  Ekonomi dan Pendidikan Mempengaruhi Tingkat Kebahagiaan

Namun, sayangnya, sebagian besar kurikulum PKn saat ini masih belum sepenuhnya mengakomodasi isu-isu digital ini. Banyak yang masih fokus pada teori sejarah dan hukum, tanpa menyentuh bagaimana nilai-nilai itu diterapkan di ruang maya. Ini membuat PKn terasa ketinggalan zaman dan tidak relevan bagi anak muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia digital. Padahal, ruang maya juga merupakan bagian dari kehidupan bernegara — di situ, kita tetap memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara, seperti menghormati hak orang lain, tidak menyebarkan kebohongan, dan berpartisipasi dalam diskusi yang konstruktif.

Baca Juga :  Penerangan Jalan di Kota Serang: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Untuk mengatasi ini, PKn harus diintegrasikan dengan literasi digital secara erat. Guru harus mengajarkan siswa bagaimana menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab, bagaimana memverifikasi kebenaran informasi, bagaimana berkomunikasi dengan hormat meskipun berbeda pendapat, dan bagaimana melindungi diri serta orang lain dari dampak negatif media sosial. Cara pengajarannya bisa melibatkan diskusi tentang kasus hoaks yang pernah terjadi, simulasi debat online yang konstruktif, atau proyek membuat konten digital yang mengedukasi tentang nilai-nilai PKn. Misalnya, siswa bisa membuat video pendek tentang pentingnya kebenaran di media sosial, atau membuat postingan yang mempromosikan persatuan di antara berbagai kelompok.

Baca Juga :  Pentingnya LDKO Sebagai Pondasi Kepemimpinan dan Keorganisasian dalam Unit Kegiatan Olahraga

Selain itu, PKn juga harus mengajarkan siswa tentang peran mereka sebagai warga global yang juga memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat internasional, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai dasar negara. Di dunia yang saling terhubung, kita tidak hanya warga negara suatu negara, tetapi juga bagian dari komunitas global — dan PKn harus membantu anak muda menemukan keseimbangan antara keduanya, tanpa melupakan akar dan identitas mereka sebagai warga negara.

Singkatnya, PKn di zaman digital tidak hanya tentang mempelajari sejarah dan hukum, tetapi juga tentang membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan mampu menavigasi dunia maya dengan bijak. Hanya dengan demikian, kita bisa memastikan bahwa teknologi menjadi alat untuk memajukan bangsa dan menciptakan masyarakat yang lebih baik, bukan alat untuk merusaknya. ***

 

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru