Penulis: Lulu Alma
(Mahasiswa Manajemen Unpam Serang)
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Di tahun 2025, dunia kita telah memasuki era Society 5.0, sebuah konsep yang lahir dari Jepang dan kini menjadi panduan global untuk masyarakat super cerdas. Era ini menekankan integrasi antara teknologi digital dan dunia fisik, di mana inovasi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan big data tidak lagi sekadar alat, melainkan fondasi untuk memecahkan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Namun, di tengah kemajuan ini, tantangan terbesar adalah manusia itu sendiri—bagaimana kita mengoptimalkan potensi sumber daya manusia (SDM) tanpa kehilangan identitas budaya dan tradisi lokal. Di sinilah peran talkshow menjadi krusial, terutama yang bertemakan ‘Mengoptimalkan potensi SDM melalui minat bakat berdasarkan budaya dan tradisi lokal’.
Saya percaya, talkshow semacam ini bukan hanya hiburan, melainkan alat pendidikan dan inspirasi yang mendesak di era ini.
Mari kita lihat keadaan saat ini. Pada 2025, pandemi COVID-19 telah meninggalkan jejak panjang, dengan ketimpangan digital yang semakin lebar. Di Indonesia, misalnya, generasi muda di daerah pedesaan sering kali tertinggal dalam akses teknologi, sementara kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya dipenuhi oleh inovasi AI yang mengancam pekerjaan tradisional.
Globalisasi telah membawa budaya Barat yang homogen, membuat tradisi lokal seperti batik, wayang, atau seni musik daerah terpinggirkan. Di sisi lain, era Society 5.0 menuntut SDM yang adaptif, kreatif, dan berbasis pada nilai-nilai lokal untuk menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, urbanisasi, dan ketidakstabilan ekonomi. Tanpa pendekatan yang tepat, kita berisiko kehilangan generasi yang mampu berinovasi sambil mempertahankan akar budaya.
Talkshow dengan tema ini menawarkan solusi inovatif. Bayangkan sebuah acara yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang—dari seniman tradisional hingga ahli teknologi—yang membahas bagaimana minat bakat individu dapat dikembangkan melalui lensa budaya lokal.
Misalnya, seorang pemuda dari Banten yang tertarik pada desain grafis bisa belajar mengintegrasikan motif kain tenun tradisional atau topeng Cirebon ke dalam aplikasi digital, menciptakan produk yang unik dan bernilai ekonomi tinggi, seperti aplikasi edukasi budaya yang menggabungkan seni topeng dengan VR untuk wisata virtual. Atau, seorang wanita dari Banten yang berbakat dalam kuliner bisa mengoptimalkan resep tradisional seperti nasi liwet atau kue cucur dengan teknologi smart farming, mengatasi masalah ketahanan pangan di era perubahan iklim sambil mempromosikan kuliner lokal sebagai bagian dari ekonomi kreatif.
Talkshow ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun narasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, menunjukkan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan sumber kekuatan.
Dalam opini saya, pentingnya talkshow ini terletak pada kemampuannya untuk mendemokratisasi pengetahuan. Di era di mana informasi melimpah melalui platform seperti TikTok dan YouTube, talkshow yang terstruktur dan mendalam bisa menjadi alternatif yang lebih bermakna. Ia mendorong diskusi interaktif, di mana penonton—terutama generasi Z dan Alpha yang lahir di era digital—dapat belajar dari pengalaman nyata.
Studi dari UNESCO pada 2024 menunjukkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal meningkatkan motivasi siswa hingga 30%, karena mereka merasa terhubung dengan identitas diri. Dengan talkshow, kita bisa memperluas jangkauan ini, menginspirasi jutaan orang untuk mengeksplorasi bakat mereka tanpa harus meninggalkan akar budaya.
Di 2025, di mana AI seperti ChatGPT telah menjadi bagian sehari-hari, talkshow ini mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan pencipta yang didorong oleh nilai-nilai lokal.
Namun, tantangan tetap ada. Banyak talkshow saat ini masih didominasi oleh narasi global, mengabaikan keragaman lokal. Di Indonesia, misalnya, acara seperti ‘Kick Andy’ atau ‘The Tonight Show‘ sering kali fokus pada hiburan ringan, bukan pembangunan SDM. Kita perlu lebih banyak program seperti ‘Indonesia Banget’ yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, tetapi dengan Twist Modern: menggabungkan VR untuk simulasi budaya lokal atau AI untuk analisis bakat.
Pemerintah dan swasta harus berkolaborasi untuk memproduksi talkshow ini, memanfaatkan teknologi streaming seperti Netflix atau YouTube untuk jangkauan global. Jika tidak, kita akan terus melihat generasi muda yang terjebak dalam pekerjaan gig economy tanpa arah, atau yang kehilangan identitas di tengah arus globalisasi.
Pada akhirnya, talkshow dengan tema ini adalah investasi untuk masa depan. Di era Society 5.0, di mana teknologi memungkinkan kita hidup lebih lama dan lebih sehat, potensi SDM yang dioptimalkan melalui budaya lokal akan menjadi kunci keberlanjutan.
Saya yakin, dengan lebih banyak acara seperti ini, kita bisa menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kaya secara budaya. Mari kita dukung inisiatif ini—mulai dari sekarang, agar pada 2030, Indonesia dan dunia bisa bangkit sebagai pemimpin inovasi yang autentik. Talkshow bukanlah sekadar kata-kata di udara; ia adalah jembatan menuju generasi yang lebih baik. ***







