Pancasila di Era Digital: Gaya Baru Gen Z Mengamalkan Ideologi Bangsa

Kamis, 4 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Jurusan Hukum UNPAM Serang, Muhammad Aqsa Athaya Arrafi. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa Jurusan Hukum UNPAM Serang, Muhammad Aqsa Athaya Arrafi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Muhammad Aqsa Athaya Arrafi
(Mahasiswa Jurusan Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Jujur saja, saat pertama kali mendengar kata Pancasila di ruangkelas, yang terlintas di benak sebagian besar teman-teman kuliah Saya adalah tumpukan teori yang menjemukan. Kita sering kali dipaksa menghafal butir-butir sila hanya demi mengejar nilai aman di kartu hasil studi.

Namun, jika kita melihat realitas hariini, ada sebuah pertanyaan besar yang menggelitik: bagaimana sebenarnya nasib ideologi bangsa ini di tangan Generasi Z? Apakah nilai-nilainya masih hidup, atau justru perlahan terkikisoleh derasnya arus modernisasi?

Sebagai bagian dari Gen Z (yang lahir antara 1997–2012), Saya merasakan sendiri bagaimana gawai dan internet mengontrol keseharian Kita. Kita adalah generasi yang tidak bisa hidup tanpa koneksi digital. Lewat layar smartphone, budaya dan cara pandang asing dari berbagai belahan dunia masuk tanpa filter setiap detiknya. Keterbukaan ini jelas seperti pisau bermata dua.

Di satu sisi, internet membuat kita menjadi generasi yang lebih kritis dan terbuka terhadap perbedaan. Namun di sisi lain, jika fondasi karakter kita rapuh, arus informasi global ini bisa membuat kita kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Di sinilah Pancasila sedang diuji dalam ekosistem digital.

Baca Juga :  Dampak Hedonisme dan Individualisme di Media Sosial terhadap Eksistensi Sila Ketiga Pancasila

Dinamika Pancasila di kalangan anak muda zaman sekarang tidak sedang baik-baik saja. Ruang digital yang kita selami setiap hari justru menyimpan banyak masalah baru. Berdasarkan apa yang Saya amati, ada beberapa hambatan nyata yang membuat Gen Z berjarak dengan Pancasila.

Masalah paling mendasar adalah jebakan algoritma media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, atau X dirancang untuk terus menyajikan konten yang searah dengan minat kita. Fenomena ini menciptakan ruang gema (echo chamber). Kita jadi terbiasa berkumpul dengan orang-orang yang hanyasatu pemikiran” dan menjadi sangat sumbu pendek ketika melihat perbedaan pendapat.

Tengok saja bagaimana mudahnya netizen melontarkan cyberbullying, menyebarkan hoaks, hingga melakukan pemboikotan massal (cancel culture). Polarisasi digital yang tajam seperti ini jelas merusak esensi dari Sila ke-3 (Persatuan Indonesia).

Kondisi ini diperparah oleh krisis keteladanan dari generasi yang lebih tua. Gen Z adalah generasi yang logis. Kami tidak bisa lagi disuapi dengan doktrin tanpa bukti nyata. Ketika linimasa media sosial kami setiap hari disuguhi berita tentang korupsi para pemangku kebijakan, konflik kepentingan, hingga hukum yang tumpul ke atas, muncul rasa kecewa yang mendalam.

Akibatnya, banyak anak muda yang bersikap skeptis dan berpikir: “Jika mereka yang mengerti hukum saja tidak mengamalkan Pancasila, untuk apa kami yang muda harus repot-repot mematuhinya?” Ditambah lagi, metode pengajaran di kampus yang cenderung satu arah dan kaku membuat jarak itu terasa semakin lebar.

Baca Juga :  Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan

Agar Pancasila tidak berakhir menjadi dokumen kuno di perpustakaan, pendekatan yang dilakukan harus diubah total. Kita butuh cara-cara segar yang lebih organik dan dekat dengan dunia anak muda:

1. Visualisasi Konten yang Estetik: Kampanye nilai Pancasila harus masuk ke ranah pop-culture. Daripada membuat teks panjang yang membosankan, gunakan video pendek kreatif, infografis yang ciamik, komik digital, atauformat permainan (game) interaktif. Bahasanya harus kasual, tetapi maknanya tetap kena.
2. Mengaitkan dengan Isu Sosial dan Lingkungan: Gen Z punya kepedulian yang sangat tinggi terhadap isu kesehatan mental, perubahan iklim, dan kesetaraan. Kita bisa mengemas gerakan pilah sampah, aksi peduli satwa, atau kampanye kesehatan mental sebagai bentuk nyata dari pengamalan Sila ke-2 (Kemanusiaan) dan Sila ke-5 (Keadilan Sosial).
3. Ruang Kelas yang Hidup: Pembelajaran Pendidikan Pancasila di kampus harus diubah dari metode ceramah menjadi ruang diskusi dua arah. Mahasiswa perlu diberi panggung untuk mengkritisi masalah sosial di sekitar mereka secara bebas dan sehat, lalu merumuskan solusinya bersama-sama.
Menurut pandangan Saya pribadi, nilai-nilai Pancasila di dalam diri Gen Z sebenarnya tidak luntur, melainkan hanya berganti casing atau bentuk ekspresinya saja. Kita mungkin malas kalau disuruh ikut upacara formal, tetapi kita sangat cepat bergerak ketika melihat ketidakadilan sosial secara langsung.

Bukti nyatanya bisa kita lihat di dunia maya. Saat terjadi bencana alam, anak muda di media sosial bisa bergerak sangat cepat secara swadaya melakukan penggalangan dana (crowdfunding). Tanpa instruksi pemerintah, dana ratusan juta rupiah bisa terkumpul dalam hitungan hari demi menolong sesama.

Baca Juga :  Sengketa Kepemilikan Tanah dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Banten

Ini adalah praktik nyata Sila ke-2 yang sangat luarbiasa. Begitu pula saat kita bangga mempromosikan produk lokal (local pride) atau menghormati keragaman budaya lewat konten kreatif, di situlah semangat Sila ke-3 sebenarnya sedang menyala.

Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana agar tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks dan adu domba politik di internet. Jika nilai-nilai luhur Pancasila bisa dikawinkan dengan kreativitas digital Gen Z, maka Pancasila bukan lagi sebuah beban tugas kuliah yang membosankan.

Ideologi ini akanbertransformasi menjadi living ideology, sebuah gaya hidupyang keren, modern, dan membanggakan bagi generasi muda di era digital. ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52 WIB

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57 WIB

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29 WIB

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25 WIB

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru