Ditulis Oleh:
1. Astuti wijayanti
2. Angguna Anantawijayanti
3.Fastia Hikmana
4.Heni kurniawati
Mahasiawa Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Kota Serang
[BANTENESIA.NET] – Menanamkan nilai demokrasi di lingkungan sekolah menjadi langkah penting dalam membentuk generasi muda yang kritis, partisipatif, dan bertanggung jawab.
Demokrasi sering kali dipahami sebagai sistem pemerintahan yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, demokrasi sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan pemilihan pemimpin atau proses politik, melainkan juga tentang bagaimana setiap individu menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersamayang akan menjadi penerus kehidupan demokrasi Indonesia. Sekolah menjadi salah satu lingkungan strategis untuk membangun kesadaran tersebut melalui pendidikan, pembiasaan, dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari pentingnya pendidikan demokrasi, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mengangkat tema “Membangun Budaya Demokrasi melalui Partisipasi Siswa di Lingkungan Sekolah SMKN 1 Ciruas.” Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam memperkuat pemahaman siswa mengenai demokrasi sekaligus mendorong keterlibatan aktif mereka dalam kehidupan sekolah.
Kegiatan sosialisasi budaya demokrasi di SMKN 1 Ciruas dilaksanakan sebagai upaya memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya partisipasi dalam membangun lingkungan sekolah yang demokratis.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai nilai demokrasi, seperti kebebasan berpendapat, persamaan hak, toleransi, musyawarah, dan tanggung jawab. Materi disampaikan dengan menghubungkan konsep demokrasi dengan kehidupan nyata siswa sehingga demokrasi tidak hanya dipahami sebagai teori dalam pembelajaran, tetapi juga sebagai praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Partisipasi siswa menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan ini. Pemilihan ketua OSIS, musyawarah kelas, keterlibatan dalam organisasi ekstrakurikuler, serta penyampaian aspirasi merupakan contoh konkret bagaimana demokrasi dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, siswa didorong untuk memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghormati pendapat orang lain.
Salah satu tantangan dalam membangun budaya demokrasi adalah menciptakan lingkungan yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Demokrasi tidak akan berkembang apabila siswa hanya menjadi penerima keputusan tanpa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Oleh karena itu, kegiatan PKM ini menekankan pentingnya membangun kebiasaan berdiskusi, mendengarkan pendapat, dan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.
Budaya demokrasi yang baik tidak berarti setiap pendapat harus selalu diterima, tetapi setiap pendapat perlu dihargai dan dipertimbangkan secara adil. Melalui proses tersebut, siswa dapat belajar tentang kedewasaan berpikir, tanggung jawab sosial, serta pentingnya kepentingan bersama.
Pembangunan budaya demokrasi di lingkungan pendidikan membutuhkan dukungan dari seluruh unsur sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan pihak sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang terbuka, inklusif, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi.
Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ceruas menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan PKM yang mengangkat tema membangun budaya demokrasi melalui partisipasi siswa di lingkungan sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana edukatif yang penting dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi kepada peserta didik.
“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi, menghargai perbedaan pendapat, dan membiasakan diri menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Demokrasi bukan hanya dipahami sebagai konsep, tetapi harus menjadi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sekolah,” ungkap Kepala Sekolah.
Sementara itu, keterlibatan siswa dalam kegiatan sosialisasi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran demokrasi.
“Menurut saya, kegiatan PKM ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman lebih tentang pentingnya demokrasi di lingkungan sekolah. Kami belajar bahwa demokrasi bukan hanya tentang pemilihan ketua OSIS, tetapi juga tentang menghargai pendapat teman, berani menyampaikan aspirasi, serta menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah. Melalui kegiatan ini, kami menjadi lebih memahami bahwa setiap siswa memiliki hak untuk berpendapat dan tanggung jawab untuk menghargai pendapat orang lain.”
Pernyataan tersebut diperoleh melalui wawancara langsung dengan pihak sekolah dan siswa setelah kegiatan berlangsung, sehingga publikasi memiliki nilai informatif sekaligus autentik.
Bagi mahasiswa, kegiatan PKM merupakan kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Melalui sosialisasi budaya demokrasi, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga berupaya membangun kesadaran sosial dan mendorong perubahan positif di lingkungan pendidikan.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan demokrasi melalui kolaborasi dengan sekolah. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat serta menciptakan ruang pembelajaran yang lebih partisipatif.
Budaya demokrasi yang tumbuh di lingkungan sekolah memiliki arti penting bagi masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Generasi muda yang terbiasa berdialog, menghargai perbedaan, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan akan memiliki bekal yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan demokratis di masyarakat.
Melalui kegiatan PKM di SMKN 1 Ciruas, diharapkan siswa semakin memahami bahwa demokrasi bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan aspirasi, menghormati hak orang lain, dan bertanggung jawab terhadap keputusan bersama.
Pada akhirnya, membangun budaya demokrasi tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan pembiasaan, keteladanan, dan ruang partisipasi yang berkelanjutan. Sekolah menjadi tempat yang tepat untuk memulai proses tersebut.
Demokrasi tumbuh dari partisipasi, menguat melalui musyawarah, dan terwujud dalam sikap saling menghargai. Bersama kita berpartisipasi, bersama kita berdemokrasi. ***







