Tim Kelompok:
Siti Saodah,
Reika Aulia Ramadani,
Lora II Nurbaeti
[BANTENESIA.NET], CILEGON – Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Kota Serang menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMK Negeri 3 Kota Cilegon, dengan mengusung tema “Tren Media Sosial Picu Impulsive Buying, Siswa Perlu Lebih Bijak Mengelola Uang Saku”.
Perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat, termasuk di kalangan pelajar. Berbagai tren yang muncul melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya tidak hanya menjadi sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga mempengaruhi keputusan pembelian serta cara siswa dan siswi mengelola uang saku.
Fenomena Impulsive Buying atau pembelian impulsif menjadi salah satu dampak yang perludi perhatikan. Perilaku ini terjadi ketika seseorang membeli barang secara spontan tanpa perencanaan yang matang. Konten promosi, ulasan produk dari kreator, tren fashion, hingga penawaran diskon dalam waktu terbatas dapat mendorong pelajar untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Bagi siswa dan siswi yang umumnya masih bergantung pada uang saku dari orang tua, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Keinginan untuk mengikuti tren dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan terkadang membuat mereka lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Akibatnya, uang saku yang seharusnya digunakan untuk keperluan sekolah, transportasi, dan konsumsi sehari-hari dapat habis sebelum waktunya.

Dalam perspektif manajemen pemasaran, media sosial merupakan salah satu sarana strategis untuk menarik perhatian konsumen. Penggunaan konten kreatif, promosi, influencer marketing, dan strategi pemasaran berbasis tren dapat meningkatkan minat beli. Namun, bagi konsumen usia sekolah, paparan promosi yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kemampuan dalam mempertimbangkan manfaat, harga, serta urgensi suatu produk sebelum melakukan pembelian. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perilaku konsumen menjadi penting untuk membantu pelajar mengenali faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian mereka. Siswa dan siswi perlu memahami bahwa popularitas suatu produk di media sosial tidak selalu menunjukkan bahwa produk tersebut merupakan kebutuhanyang harus segera dipenuhi.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku pembelian impulsif adalah menerapkan pengelolaan uang saku secara terencana. Pelajar dapat membagi uang saku berdasarkan kebutuhan, seperti biaya transportasi, makanan, perlengkapan sekolah, tabungan, dan hiburan. Selain itu, membiasakan diri membuat daftar belanja, membandingkan harga, serta menunda pembelian sebelum mengambil keputusan dapat membantu mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan.
Literasi keuangan juga perlu diperkuat melalui perankeluarga dan lingkungan pendidikan. Orang tua dapat membiasakan anak berdiskusi mengenai prioritas pengeluaran, sedangkan sekolah dapat memberikan edukasi tentang perilaku konsumtif, pemasaran digital, dan pentingnya mengelola keuangan sejak dini. Melalui pemahaman tersebut, pelajar diharapkan mampu menjadi konsumen yang lebih kritis dalam menghadapi perkembangan tren media sosial. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan bukanhanya membantu menjaga kestabilan uang saku, tetapi juga membentuk kebiasaan keuangan yang lebih bertanggungjawab.
Pada akhirnya, media sosial tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Platform digital tetap dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, mengembangkan kreativitas, dan mengenal peluang usaha. Hal yang terpenting adalah bagaimana siswa dan siswi mampu mengendalikan keputusan pembelian, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
Dengan demikian, penggunaan media sosial yang bijak dan pengelolaan uang saku yang baik dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi muda yang lebih cerdas secara digital dan finansial. ***







