Korupsi, Penyakit Kronis Bangsa yang Belum Sembuh

- Redaktur

Senin, 24 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Safitri Nur Alijah, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Safitri Nur Alijah, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Oleh : Safitri Nur Alijah

Mahasiswa Universitas Pamulang Serang

Program Studi Ilmu Hukum

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Meski sudah banyak pejabat ditangkap dan berbagai lembaga antikorupsi dibentuk, praktik korupsi tetap saja terjadi dengan berbagai modus baru.

Menurut survei GoodStats tahun 2025, kepercayaan publik terhadap keseriusan lembaga penegak hukum dalam menangani kasus korupsi bahkan turun dari 51,6% menjadi 32,3%. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai kehilangan harapan terhadap upaya pemberantasan korupsi di negeri ini.

Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah sistemik. Artikel opini Kompas berjudul “Korupsi Sistemik dan Etika Pemerintahan Pancasila” menyebut bahwa akar korupsi bukan hanya soal hukum, tetapi juga hilangnya etika pemerintahan.

Baca Juga :  Ketika Nyawa Korban dan Nyawa Begal Sama-Sama Dipertaruhkan, Antara Hukum dan HAM

Banyak pejabat publik yang lupa bahwa jabatan adalah amanah rakyat, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan sosial dan kejujuran, seolah hanya menjadi hiasan dalam pidato kenegaraan tanpa diterapkan dalam tindakan ryata.

Selain merusak moral pejabat, korupsi juga menimbulkan penderitaan bagi masyarakat kecil. Dana pembangunan yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat justru hilang di tangan oknum yang serakah.

Artikel dari situs aclc.kpk.go.id (2023) menegaskan bahwa korupsi tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga merusak tatanan sosial dan memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Ketika masyarakat melihat keadilan sulit ditegakkan, rasa percaya terhadap pemerintah pun perlahan memudar.

Survei dari Jabarmedia.com (2025) juga mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia menginginkan hukuman lebih berat bagi pelaku korupsi, bahkan sampai pada tingkat penyitaan aset dan hukuman mati. Hal ini menunjukkan betapa masyarakat sudah muak dengan perilaku koruptif yang terus berulang tanpa efek jera.

Baca Juga :  Mampukah Restorative Justice Mengurangi Beban Pengadilan Tanpa Mengorbankan Hak Korban?

Namun di sisi lain, banyak kasus besar justru menguap begitu saja atau hanya berakhir dengan hukuman ringan. Kondisi ini memperlihatkar lemahnya komitmen dalam menegakkan supremasi hukum.

Pemberantasan korupsi seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Dalam artikel “Pentingnya Pengaduan Masyarakat Bagi Upaya Pemberantasan Korupsi” (KPK, 2023), dijelaskan bahwa pelibatan masyarakat melalui pelaporan dan pengawasan publik sangat penting.

Jika masyarakat berani bersuara dan aktif melaporkan praktik korupsi, maka ruang gerak koruptor akan semakin sempit. Budaya diam dan “asal bukan saya” justru membuat perilaku korup semakin subur.

Baca Juga :  Hukum dan Moral

Korupsi adalah cermin dari rusaknya moral dan lemahnya sistem integritas bangsa. Upaya pemberantasan tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir.

Pendidikan antikorupsi, penanaman nilai kejujuran sejak dini, dan keteladanan dari para pemimpin merupakan langkah yang harus diutamakan.

Selama pejabat publik masih menganggap kekuasaan sebagai jalan menuju kekayaan, selama itu pula korupsi akan tetap hidup.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersatu melawan korupsi dengan tindakan nyata, bukan hanya slogan.

Masyarakat harus berani menolak suap, melaporkan penyimpangan, dan memilih pemimpin yang bersih. Hanya dengan begitu, luka lama bernama korupsi ini dapat perlahan sembuh, dan Indonesia bisa benar-benar menjadi bangsa yang bermartabat. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru