Nama: RAKHA RAMADHAN
Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Serang Fakultas, Ilmu Hukum
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Menurut Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Serang Fakultas Ilmu Hukum Memberikan opini tentang diskriminasi agama yang ada di Indonesia.
Terus terang, waktu saya (Rakha Ramadan) baca berita tentang perusakan rumah
doa umat Kristen di Padang, hati saya langsung terasa berat.
Ada campuran marah, sedih, dan heran yang susah dijelaskan. Tempat ibadah—ruang yang seharusnya penuh ketenangan—malah dirusak. Yang paling bikin sesak, dua anak kecil ikut terluka.
Mereka bahkan belum tahu apa-apa soal konflik agama, tapi harus menanggung akibat dari sikap orang dewasa yang gagal menjaga toleransi.
Kita hidup di Indonesia, negara yang selalu bangga dengan kalimat “Bhinneka
Tunggal Ika”.
Negara yang punya begitu banyak perbedaan, tapi tetap satu. Namun, kenyataan di lapangan kadang jauh dari slogan itu. Masih ada orang yang merasa hanya agamanya yang benar, hanya kelompoknya yang pantas dihormati.
Padahal orang lain cuma ingin beribadah dengan tenang—nggak minta lebih, cuma ingin diakui sebagai sesama manusia.
Yang bikin hati makin capek adalah, kejadian seperti ini bukan pertama kalinya.
Sudah berkali-kali kita dengar rumah ibadah dirusak, izin dipersulit, bahkan ada
warga yang harus sembunyi-sembunyi kalau mau beribadah.
Wajar kalau muncul pertanyaan: ‘Benarkah negara ini menjamin kebebasan beragama?’
Iya, dalam kasus Padang ini, sembilan pelaku sudah ditangkap.
Tapi apakah itu membuat semuanya selesai? Jelas tidak. Yang rusak bukan cuma bangunan fisik, tapi rasa aman. Rasa percaya. Bayangkan bagaimana jemaat di sana mau kembali
beribadah dengan tenang. Mungkin setiap akan masuk rumah doa, ada rasa takut
yang datang lagi.
Orang tua pun pasti berpikir dua kali membawa anak mereka. Luka seperti ini nggak sembuh dalam semalam.
Sering kali konflik agama muncul karena hal-hal kecil: salah paham, prasangka, atau karena provokasi pihak tertentu. Padahal semua agama mengajarkan kebaikan,
kedamaian, dan saling menghormati. Kalau ada yang memakai agama sebagai
alasan untuk menyerang atau merusak, mungkin justru mereka yang paling jauh
dari nilai agamanya sendiri.
Dan di sinilah, menurut saya, pentingnya pendidikan kewarganegaraan yang
berbasis Pancasila. Ini bukan sekadar mata pelajaran sekolah. Ini fondasi karakter.
PKn yang benar-benar berpijak pada Pancasila bisa membentuk cara berpikir dan sikap kita dalam hidup bermasyarakat.
Pancasila mengajarkan kita:
• untuk menghormati perbedaan,
• untuk melihat manusia lain sebagai saudara meski keyakinannya berbeda,
• untuk adil,
• untuk tidak memaksakan kehendak,
• dan untuk selalu menjaga persatuan.
Kalau nilai-nilai ini benar-benar diajarkan, dilatih, dan dicontohkan sejak kecil—
bukan cuma dihafalkan di buku atau dibacakan saat upacara—anak-anak akan
tumbuh dengan karakter yang positif.
Mereka jadi terbiasa berinteraksi dengan
orang berbeda agama tanpa rasa curiga. Mereka belajar bahwa keberagaman itu
normal.
Mereka paham bahwa jadi warga negara Indonesia berarti hidup berdampingan dengan banyak perbedaan yang harus dirawat, bukan ditakuti.
Kalau pendidikan seperti ini benar-benar diterapkan secara konsisten, saya yakin
kejadian diskriminasi agama bisa berkurang drastis.
Karena orang yang memahami nilai Pancasila bukan hanya tahu cara hidup berdampingan—mereka juga peka ketika melihat ketidakadilan.
Mereka berani menolak diskriminasi, bukan ikut membiarkannya.
Saya berharap masyarakat di Padang bisa menyembuhkan luka ini bersama-sama.
Bukan dengan saling menyalahkan, tapi dengan saling memahami dan membuka
hati.
Kebencian sering lahir karena kita tidak pernah benar-benar mengenal satu
sama lain. Makin banyak ruang dialog, interaksi, dan kerjasama, makin kecil
peluang munculnya permusuhan.
Pemerintah juga punya peran besar. Negara jangan hanya muncul ketika masalah sudah meledak. Aturan rumah ibadah harus adil dan tidak diskriminatif. Aparat harus melindungi semua warga tanpa memandang agama mereka. Jangan sampai ada yang merasa negara hanya berpihak pada kelompok tertentu.
Dan buat kita semua… mungkin ini waktu yang tepat untuk bercermin. Apakah kita
sudah benar-benar menghargai perbedaan? Atau selama ini kita hanya nyaman
selama perbedaannya tidak menyentuh hidup kita? Toleransi bukan cuma kata
manis. Toleransi itu tindakan.
Kadang, sekadar tidak diam saat orang lain disakiti pun sudah jadi bentuk keberanian.
Bagi saya, kejadian di Padang adalah alarm besar. Mengingatkan kita bahwa
toleransi itu harus dijaga setiap hari. Kita semua punya tanggung jawab untuk
menolak kebencian, menjaga kerukunan, dan merawat keberagaman.
Saya bermimpi suatu hari nanti anak-anak Indonesia bisa masuk ke rumah ibadah
mana pun tanpa rasa takut.
Mereka tumbuh dengan memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan yang membuat Indonesia tetap berdiri.
Mereka bisa saling menghormati tanpa peduli apa agamanya. Kejadian ini menyakitkan, iya. Tapi jangan biarkan ini hanya lewat tanpa membawa pelajaran.
Kalau kita benar-benar mencintai Indonesia, kita harus memperjuangkan kebebasan beribadah untuk semua orang. Karena perdamaian bukan sesuatu yang
muncul sendiri.
Perdamaian itu pilihan—pilihan yang harus kita buat setiap hari. Dan saya sungguh berharap, kita semua memilih jalan yang benar. ***







