Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Ellen Anggita Damanik. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Ellen Anggita Damanik. (Foto: Istimewa)

Nama; Ellen Anggita Damanik
Kelas; 03ADNP003
Nim: 251092100197
Dosen Pengampu: Angga Rosidin S.I.P.,M.A.P
Mata Kuliah: Teori Sosial Indonesia

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Bagi masyarakat yang tinggal diwilayah parung panjang, serpong, maja, rawa buntu, hingga rangkasbitung, Kereta Rel Listrik atau bisa disebut dengan singkatan KRL Green Line Koridor Rangkasbitung-Tanah Abang bukan lagi pilihan transpotasi tambahan. Keberadaan KRL telah menjadi urat nadi utama mobilitas harian. Ribuan pekerja, mahasiswa, dan masyarakat umum menggantungkan perjalanan mereka pada moda transportasi ini untuk menuju pusat perekonomian yang ada di Jakarta.

Namun, kenyataan di lapangan saat ini menunjukkan bahwa lonjakan jumlah penumpang sudah mencapai titik yang sangat krusial. Perjalanan pada jam sibuk (Rush Hour) pagi maupun sore hari kini identik dengan perjuangan fisik yang melatih kesabaran. Tidak hanya di hari kerja, fenomena kepadatan ini bahkan kerap meluas hingga akhir pekan (Weekend) akibat meningkatnya mobilitas warga yang berwisata maupun bersilaturahmi.

Setiap pagi, suasana di stasiun-stasiun penyangga seperti Rangkasbitung, Parung Panjang, Rawa Buntu, hingga Sudimara menyajikan pemandangan yang hampir samayaitu lautan manusia yang berdesakan menanti kedatangan kereta. Ketika pintu kereta baru terbuka, penumpang saling berebut masuk demi mendapatkan ruang, bahkan hanya untuk sekadar berdiri dengan satu kaki.

Baca Juga :  Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Menurut saya, kondisi berdesakan yang terlampau padat ini bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan, melainkan sudah menyentuh aspek keselamatan dan kesehatan penumpang. Udara yang terbatas di dalam gerbong, risiko barang bawaan rusak, hingga potensi bahaya bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap hari.

Menurut saya, situasi berdesakan yang melampaui batas kenyamanan ini tidak bisa terus dianggap sebagai hal yang biasa. Moda transportasi publik yang handal seharusnya memberikan rasa aman, nyaman, dan manusiawi bagi seluruh penggunanya.

Masyarakat komuter Green Line tentu sangat mengapresiasi upaya pengelola yang selama ini telah menjaga kebersihan, ketertiban, dan ketepatan waktu operasional KRL. Meski demikian, seiring pertumbuhan pemukiman yang begitu pesat di sepanjang rute Rangkasbitung hingga Tangerang Selatan, langkah-langkah biasa tidak lagi cukup. Jadi diperlukan solusi konkret dan strategis untuk mengurai permasalahan ini seperti.

Baca Juga :  Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Menurut saya, salah satu langkah paling mendesak yang perlu segera direalisasikan adalah memperbanyak pengoperasian rangkaian kereta dengan 12 gerbong (SF12) di jalur Green Line. Saat ini, masih banyak rangkaian yang terdiri dari 10 gerbong (SF10), yang secara kapasitas tentu sangat terbatas untuk menampung volume penumpang yang terus membludak.

Selain menambah jumlah gerbong, menurut saya penyesuaian interval kedatangan kereta (Headway) juga sangat penting. Di beberapa stasiun ujung, headway antar-kereta masih terasa cukup panjang pada jam-jam sibuk. Jika waktu tunggu dapat dipersingkat menjadi 4 hingga 5 menit sekali pada jam puncak, penumpukan calon penumpang di peron stasiun akan berkurang secara signifikan.

Kepadatan tidak hanya terjadi di dalam gerbong, tetapi juga di area stasiun. Menurut saya, perlu ada penataan ulang alur penumpang (Flow Management) di stasiun-stasiun padat seperti Tanah Abang, Palmerah, dan Rawa Buntu. Penambahan akses tangga, eskalator, serta perluasan area tunggu peron akan sangat membantu mengurai penumpukan massa saat kereta tiba.

Baca Juga :  Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten

Melihat tren penumpang akhir pekan yang kini hampir sama padatnya dengan hari kerja, menurut saya pihak pengelola perlu meninjau kembali frekuensi perjalanan KRL di hari Sabtu dan Minggu. Menambah perjalanan bantuan pada jam-jam favorit liburan keluarga akan menjadi solusi nyata yang sangat dirasakan manfaatnya oleh publik.

Transportasi publik yang baik adalah cermin dari kemajuan suatu daerah. KRL Green Line Rangkasbitung–Tanah Abang memiliki peran yang sangat vital dalam menyokong perekonomian dan mobilitas masyarakat sehari-hari.

Menurut saya, mendengar dan merespon keluhan penumpang dengan tindakan nyata adalah kunci utama perbaikan. Jadi sayasemua berharap solusi-solusi konkret dapat segera diimplementasikan secara bertahap, sehingga perjalanan dengan KRL Green Line tidak lagi menjadi perjuangan yang melelahkan, melainkan menjadi pengalaman bertransportasi yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk semua orang. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian
Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan
Salah Angkot Ngetem atau Salah Sistem?
Erupsi Anak Krakatau: Alarm bagi Kesiapsiagaan Masyarakat Indonesia
Jalan Tol Dibangun, Apakah Kesejahteraan Rakyat Ikut Melaju?

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:49 WIB

Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Rabu, 30 September 2026 - 10:48 WIB

Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?

Berita Terbaru