Penulis: RAKI QAIS ATHARI
NIM: 251090200383
(Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UNPAM Serang Banten)
[BANTENESIA.NET] – Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, Generasi Z Indonesia membuktikan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi hafalan di ruang kelas. Nilai-nilai luhur bangsa kini hadir dalam bentuk yang lebih modern, kreatif, dan relevan dengan kehidupan generasi digital.
Sebuah penelitian mengenai “Dinamika Perkembangan Pancasila Modern bagi Generasi Z” menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mulai mengadaptasi nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas digital, mulai dari kampanye sosial di TikTok, gerakan solidaritas online, hingga advokasi isu kemanusiaan dan lingkungan di Instagram.
Generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini tumbuh di era internet dan media sosial. Namun, alih-alih meninggalkan nilai-nilai kebangsaan, banyak di antara mereka justru memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menghidupkan kembali semangat Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian yang melibatkan lebih dari 1.200 responden Generasi Z di berbagai provinsi menunjukkan bahwa sekitar 73 persen responden masih menganggap Pancasila relevan di era digital dan kecerdasan buatan. Nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan gotong royong menjadi sila yang paling sering diterapkan dalam aktivitas mereka di dunia maya.
Fenomena ini terlihat dari maraknya kampanye anti-perundungan (anti-bullying), penggalangan dana daring untuk korban bencana, hingga gerakan lingkungan hidup yang dipelopori anak muda melalui media sosial.
“Bagi Generasi Z, Pancasila bukan lagi sekadar teks yang dihafalkan saat upacara. Pancasila telah berubah menjadi panduan hidup yang diterapkan melalui aksi nyata dan teknologi,” ungkap salah satu temuan penelitian tersebut.
Salah satu contoh nyata datang dari Rina (21), seorang mahasiswi yang tinggal di kawasan pinggiran Jakarta. Bersama lima rekannya, ia memanfaatkan media sosial untuk menggalang dukungan masyarakat dalam mengatasi banjir yang kerap melanda lingkungan tempat tinggalnya.
Melalui kampanye digital bertajuk #PancasilaGenZ, mereka berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp50 juta, mengajak warga lintas agama bergotong royong membersihkan saluran air, serta melakukan voting online untuk menentukan prioritas pembangunan lingkungan.
Hasilnya, lebih dari dua kilometer saluran drainase berhasil dibersihkan dan tingkat banjir berkurang hingga 70 persen. Kampanye tersebut bahkan viral dan memperoleh lebih dari satu juta tayangan di TikTok.
Keberhasilan itu melahirkan komunitas muda bernama “Pancasila Muda” yang kini beranggotakan ratusan anak muda dari berbagai daerah.
Meski demikian, penelitian juga menemukan sejumlah tantangan yang dihadapi Generasi Z dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Hoaks, polarisasi politik, budaya individualisme, hingga pengaruh budaya global menjadi faktor yang berpotensi mengikis semangat persatuan.
Sebanyak 52 persen responden mengaku metode pembelajaran Pancasila di sekolah masih terasa membosankan dan kurang relevan dengan kehidupan mereka. Sementara itu, nilai Persatuan Indonesia menjadi sila yang paling rentan terdampak oleh perpecahan akibat informasi palsu dan konflik di media sosial.
Para peneliti menilai bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi digital.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian merekomendasikan pengembangan pendidikan Pancasila berbasis teknologi, seperti penggunaan aplikasi interaktif, gamifikasi, podcast, konten kreator, hingga pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan influencer dinilai menjadi strategi penting agar nilai-nilai Pancasila dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima oleh Generasi Z.
Dengan pendekatan yang lebih adaptif, Pancasila diyakini mampu tetap menjadi perekat bangsa di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Sebagai generasi yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang, Generasi Z memegang peran strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan. Adaptasi Pancasila melalui teknologi menunjukkan bahwa ideologi negara tidak mengalami kemunduran, melainkan berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
Di era digital yang serba terkoneksi, Pancasila tidak lagi hadir hanya dalam buku pelajaran atau pidato kenegaraan. Ia hidup dalam unggahan media sosial, aksi solidaritas, gerakan lingkungan, hingga semangat gotong royong yang diwujudkan oleh anak-anak muda Indonesia.
Pancasila modern bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi menjadi energi baru yang menggerakkan Generasi Z menuju Indonesia Emas 2045. ***







