Pengangguran Lulusan Muda: Sekolah Tinggi, Tapi Kerja Tetap Sulit

Minggu, 4 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ayu Kusuma, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Ayu Kusuma, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Ayu Kusuma
Prodi Hukum
Kelas HKSP 006

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Di zaman sekarang, pendidikan sering dianggap sebagai tiket utama untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Banyak orang tua rela bekerja keras, bahkan sampai berutang, demi menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Harapannya sederhana, setelah lulus anak bisa cepat mendapatkan pekerjaan dan hidupnya lebih layak.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah yang dibayangkan. Banyak lulusan SMA, SMK, bahkan sarjana yang justru menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk mencari pekerjaan.

Setiap hari mereka membuka lowongan kerja, mengirim CV ke berbagai perusahaan, mengikuti tes dan wawancara, tetapi hasilnya sering kali mengecewakan. Penolakan demi penolakan menjadi hal yang biasa, bahkan tidak jarang lamaran yang dikirim tidak mendapat balasan sama sekali. Kondisi ini tentu melelahkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Masalah pengangguran lulusan muda sering disalahartikan sebagai kurangnya usaha dari anak mudanya. Padahal, jika dilihat lebih dalam, persoalannya jauh lebih kompleks. Dunia pendidikan dan dunia kerja seolah berjalan di jalur yang berbeda. Apa yang diajarkan di sekolah atau kampus sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, banyak lulusan yang dinilai belum siap kerja, meskipun mereka sudah menempuh pendidikan bertahun-tahun.

Baca Juga :  Pengaruh Program Pengembangan Diri terhadap Motivasi Belajar Siswa di Era Digital

Tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan muda menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan penyediaan lapangan kerja di Indonesia belum berjalan seimbang dan belum sepenuhnya memihak generasi muda. Pendidikan yang seharusnya menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik justru sering berakhir pada kebingungan setelah lulus.

Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada teori. Selama sekolah atau kuliah, pelajar dan mahasiswa lebih banyak duduk di kelas, mendengarkan penjelasan, menghafal materi, lalu diuji lewat ujian tertulis. Padahal, dunia kerja membutuhkan keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi. Akibatnya, banyak lulusan yang secara akademis baik, tetapi kebingungan saat harus menghadapi pekerjaan nyata.

Selain itu, syarat kerja yang ditetapkan oleh perusahaan juga sering kali terasa tidak realistis. Banyak lowongan yang mensyaratkan pengalaman kerja bertahun-tahun, padahal yang melamar adalah fresh graduate. Di sisi lain, gaji yang ditawarkan sering tidak sebanding dengan tuntutan pekerjaan. Kondisi ini membuat lulusan muda berada di posisi serba salah, antara menerima pekerjaan yang kurang layak atau tetap menganggur.

Baca Juga :  Smart Home, Smart Campus, Smart Life: Saat Gen Z Sistem Komputer Mengubah Cara Kita Hidup

Jumlah lapangan kerja yang terbatas juga menjadi masalah serius. Setiap tahun jumlah lulusan baru terus bertambah, sementara kesempatan kerja tidak bertambah secara signifikan. Persaingan pun semakin ketat, dan tidak semua orang punya peluang yang sama. Dalam situasi seperti ini, peran negara seharusnya lebih terasa, bukan hanya mendorong masyarakat untuk sekolah tinggi, tetapi juga memastikan tersedianya lapangan kerja yang memadai.

Selain masalah ekonomi, tekanan sosial juga ikut memperparah keadaan. Lulusan muda yang belum bekerja sering dianggap gagal atau kurang berusaha. Padahal, banyak dari mereka sudah berjuang keras. Stigma seperti ini justru bisa menurunkan kepercayaan diri dan semangat anak muda, bahkan berdampak pada kesehatan mental mereka.

Melihat kondisi pengangguran lulusan muda yang semakin memprihatinkan, sudah seharusnya semua pihak ikut ambil peran, bukan saling menyalahkan. Pemerintah perlu lebih serius dalam menciptakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan, serta menyediakan program pelatihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Dunia pendidikan juga perlu melakukan pembenahan dengan menyeimbangkan antara teori dan praktik, agar lulusan tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga siap terjun ke dunia kerja.

Baca Juga :  Pemuda Indonesia Bicara di Forum Dunia, Angkat Isu Budaya hingga Generasi Emas 2045

Di sisi lain, perusahaan sebaiknya lebih membuka kesempatan bagi fresh graduate dengan memberikan ruang belajar dan pendampingan, bukan langsung menuntut pengalaman kerja yang tinggi.

Anak muda membutuhkan kesempatan pertama untuk membuktikan kemampuan mereka. Selain itu, penting juga untuk menghapus stigma negatif terhadap lulusan yang belum bekerja, karena pada kenyataannya banyak dari mereka sudah berusaha keras di tengah persaingan yang ketat.

Jika kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia industri dapat berjalan dengan baik, maka pengangguran lulusan muda tidak lagi menjadi masalah berkepanjangan, melainkan bisa diubah menjadi peluang untuk membangun generasi yang lebih siap dan produktif. ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52