Penulis: Adinda Sabrina Wulandari
(Mahasiswi UNPAM Serang)
[BANTENESIA.NET] – Di zaman sekarang, hampir semua kegiatan kita pindah ke dunia maya. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, kita tidak lepas dari ponsel. Sayangnya, internet itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi kita mudah belajar hal baru, tapi di sisi lain, nilai-nilai luhur Pancasila sering kali terlupakan karena derasnya arus informasi dari luar yang tidak sesuai dengan budaya kita.
Internet membuat kita bisa melihat apa saja yang terjadi di belahan dunia lain. Tapi, hal ini sering membuat kita lebih bangga meniru gaya hidup luar negeri yang individualis daripada mempraktikkan sikap gotong royong. Media sosial yang seharusnya jadi tempat menyambung silaturahmi, terkadang malah jadi ajang pamer kekayaan atau tempat perdebatan tak berujung yang jauh dari nilai kemanusiaan yang beradab.
Selain itu, penyebaran hoax sangat cepat merusak persatuan kita yang menjadi nilai Pancasila. Hanya karena satu unggahan yang belum tentu jelas kebenarannya, kita dengan mudah bisa saling caci maki di kolom komentar. Padahal, inti dari Pancasila adalah menjaga persatuan dan saling menghargai meski berbeda pendapat. Jika kita tidak hati-hati, ketikan kita di media sosial bisa menjadi senjata yang menghancurkan kerukunan yang sudah dibangun sejak dulu.
Masalah utama saat ini adalah lunturnya etika dalam berinternet dan kurangnya filter dalam menerima informasi. Banyak orang lebih mementingkan kebebasan berpendapat tanpa memikirkan perasaan orang lain atau persatuan bangsa. Munculnya sikap intoleransi di dunia maya menjadi ancaman nyata bagi sila ketiga, Persatuan Indonesia.
Solusinya adalah memperkuat literasi digital yang berlandaskan nilai Pancasila. Kita perlu belajar bukan hanya cara menggunakan teknologi, tapi juga cara membedakan mana informasi yang bermanfaat dan mana yang memecah belah. Pendidikan moral tidak boleh hanya ada di ranah sekolah, atau bahkan kampus. Tapi harus dipraktikkan saat kita mengetik komentar atau membagikan konten di media sosial.
Menurut saya, mulailah dari diri sendiri. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan dulu: “Apakah ini bermanfaat? Apakah ini menyakiti orang lain atau bahkan menjadi boomerang kepada diri kita sendiri? Apakah ini sesuai dengan nilai kesopanan yang telah kita pahamu?”.
Ayo jadikan internet sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, gotong royong digital dan memberi informasi yang sangat bermanfaat untuk memperbanyak ilmu, seperti melakukan penggalangan dana online untuk yang membutuhkan atau mempromosikan keindahan budaya Indonesia ke dunia internasional. ***







