Pancasila di Mata Gen Z: Cuma Hafalan atau Gaya Hidup?

Jumat, 12 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Oleh: Sulthon Abdul Jabbar
Nim: 251090200539
(Program Studi Hukum, UNPAM, Semester 2)
email: @sulthonabdulj@gmail.com

[BANTENESIA.NET] – Jujur saja, bagi kita yang baru masuk dunia kampus, Pancasila seringkali cuma dianggap sebagai mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) yang membosankan. Dari SD sampai kuliah, kita dicekoki hafalan butir-butir sila, tapi di luar kelas, kita melihat realitas yang beda jauh.

Kita hidup di era di mana informasi masuk lewat FYP TikTok dalam hitungan detik. Sebagai Gen Z, kita lebih sering terpapar budaya luar, gaya hidup bebas, dan tren global yang kadang bikin kita lupa: “Kita ini orang Indonesia, pegangannya apa sih?”

Kalau mau jujur-jujuran, ada jurang pemisah antara teks Pancasila dengan apa yang kita alami sekarang:
* Krisis Contoh: Kita disuruh mengamalkan Sila ke-3 (Persatuan), tapi setiap buka Twitter (X), isinya cuma debat kusir dan saling hujat antar kelompok.
* Formalitas Belaka: Pancasila sering banget dijadiin “tameng” atau jargon doang sama orang-orang tua atau pejabat, tapi prakteknya (seperti pemberantasan korupsi atau keadilan hukum) jauh dari sila ke-5.
* Gaya Komunikasi yang Kaku: Cara sosialisasi Pancasila ke anak muda itu masih pakai cara lama—ceramah panjang lebar yang bikin ngantuk. Padahal, kita ini generasi visual yang lebih suka aksi nyata daripada teori muluk-muluk.

Baca Juga :  Mahasiswa Unpam Serang PKM di SMK 3 PGRI Kota Serang, Gelorakan Semangat Pendidikan Karakter

Menurut saya sebagai mahasiswa, Pancasila itu sebenarnya “keren” kalau kita mau bedah isinya secara logika, bukan cuma hafalan. Masalahnya, kita sering merasa asing sama ideologi sendiri karena cara penyampaiannya yang terlalu kaku dan birokratis.

Saya rasa, Gen Z sebenarnya sudah mempraktikkan Pancasila tanpa kita sadari. Contohnya, waktu kita speak up soal isu lingkungan atau hak-hak kemanusiaan di media sosial, itu sudah mencerminkan sila ke-2. Tapi, karena nggak ada wadah yang asik untuk menyalurkan energi ini, banyak dari kita yang akhirnya apatis dan merasa Pancasila itu nggak relevan lagi buat masa depan digital.

Baca Juga :  Hukum Perikatan Indonesia Terjebak di Abad 19, Padahal Ekonomi Kita Sudah Masuk Abad 21

Supaya Pancasila nggak cuma jadi “pajangan dinding” di kelas, ada beberapa hal yang harus berubah:
1. Stop Doktrin, Mulai Dialog: Dosen atau pemerintah jangan cuma kasih kuliah searah. Kita butuh ruang diskusi yang bebas, di mana kita boleh nanya, “Kenapa sih sila ini penting?” tanpa takut dianggap nggak nasionalis.
2. Pancasila dalam Pop-Culture: Masukkan nilai Pancasila lewat film, musik, atau game. Bikin konten yang estetik dan masuk akal buat selera Gen Z. Intinya, rebranding Pancasila jadi sesuatu yang “relatable“.
3. Aksi Nyata, Bukan Jargon: Solusi paling ampuh adalah keteladanan. Kalau kita lihat penegakan hukum itu adil dan nggak ada lagi korupsi yang merajalela, otomatis kita bakal bangga dan percaya sama nilai-nilai Pancasila.
4. Optimalisasi Media Sosial: Gunakan influencer atau konten kreator untuk menyebarkan nilai toleransi dan gotong royong dengan gaya bahasa tongkrongan yang gampang dicerna.

Baca Juga :  Pengangguran Lulusan Muda: Sekolah Tinggi, Tapi Kerja Tetap Sulit

Pancasila itu nggak boleh mati di era modern. Tapi, kalau cara bawainnya masih pakai gaya tahun 80-an, ya jangan salahin kalau Gen Z makin menjauh. Kita butuh Pancasila yang “hidup” di aplikasi kita, di tongkrongan kita, dan di setiap kebijakan yang bener-bener berpihak sama rakyat kecil. ***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52 WIB

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57 WIB

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29 WIB

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25 WIB

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru