Opini Publik tentang Hukum Perdata di Indonesia

- Redaktur

Selasa, 13 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fadhlurrahman Al-Jabbab, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Fadhlurrahman Al-Jabbab, Mahasiswa Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Penulis: Fadhlurrahman Al-Jabbab

(Mahasiswa Ilmu Hukum Unpam Kampus Serang)

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG –

Pendahuluan

Hukum perdata merupakan cabang hukum yang mengatur hubungan hukum antarindividu dalam masyarakat, seperti perjanjian, kepemilikan harta benda, perkawinan, warisan, dan tanggung jawab perdata.

Dalam kehidupan sehari-hari, hukum perdata sebenarnya sangat dekat dengan masyarakat.

Namun, meskipun perannya sangat penting, opini publik terhadap hukum perdata di Indonesia masih menunjukkan berbagai pandangan kritis, terutama terkait pemahaman, efektivitas, dan keadilan dalam penerapannya.

Pemahaman Masyarakat terhadap Hukum Perdata

Opini publik secara umum menunjukkan bahwa masyarakat menyadari pentingnya hukum perdata sebagai alat untuk melindungi hak dan kewajiban individu.

Akan tetapi, pemahaman masyarakat terhadap substansi hukum perdata masih relatif rendah. Hukum perdata sering dipersepsikan sebagai bidang hukum yang rumit, sarat dengan istilah hukum, dan sulit diakses oleh masyarakat awam.

Baca Juga :  Penguatan Hukum Anti-Korupsi: Membangun Integritas Bangsa di Era Modern  

Kondisi ini menyebabkan banyak orang baru berurusan dengan hukum perdata ketika konflik telah terjadi dan sulit diselesaikan secara musyawarah.

Persepsi terhadap Proses Peradilan Perdata

Salah satu opini publik yang paling dominan adalah anggapan bahwa proses peradilan perdata berlangsung lama, mahal, dan berbelit-belit.

Banyak masyarakat menilai bahwa berperkara di pengadilan membutuhkan biaya yang tidak sedikit serta waktu yang panjang, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperjuangkan haknya.

Persepsi ini berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan perdata sebagai sarana penyelesaian sengketa yang efektif.

Kepercayaan terhadap Putusan Pengadilan

Opini publik juga dipengaruhi oleh pandangan bahwa putusan perkara perdata belum selalu mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Dalam beberapa kasus, terutama sengketa tanah, warisan, dan bisnis, masyarakat menilai adanya ketidakkonsistenan putusan serta lemahnya kepastian hukum. Isu integritas aparat penegak hukum turut memperkuat opini negatif publik terhadap sistem peradilan perdata, meskipun tidak dapat digeneralisasi pada seluruh lembaga dan aparat hukum.

Baca Juga :  Kemampuan Literasi Politik Digital dan Penyebaran Hoaks Terencana

Alternatif Penyelesaian Sengketa

Seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum, opini publik menunjukkan kecenderungan positif terhadap penyelesaian sengketa di luar pengadilan, seperti mediasi dan arbitrase. Mekanisme ini dinilai lebih cepat, lebih murah, serta mampu menjaga hubungan baik antar pihak yang bersengketa. Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, penyelesaian sengketa secara non-litigasi semakin mendapat tempat di tengah masyarakat.

Harapan Masyarakat terhadap Hukum Perdata

Baca Juga :  Reflecting on Nadiem Makarim’s Defense in the Chromebook Case  

Meskipun opini publik cenderung kritis, masyarakat tetap memiliki harapan besar terhadap pembaruan hukum perdata. Masyarakat menginginkan sistem hukum perdata yang lebih sederhana, transparan, dan mudah diakses oleh semua lapisan. Digitalisasi peradilan, peningkatan layanan bantuan hukum, serta edukasi hukum kepada masyarakat dipandang sebagai langkah strategis untuk memperbaiki citra dan efektivitas hukum perdata di Indonesia.

Penutup

Opini publik tentang hukum perdata mencerminkan adanya kesenjangan antara fungsi normatif hukum dan realitas praktik di lapangan.

Hukum perdata tetap dipandang sebagai instrumen penting dalam menjaga ketertiban dan keadilan dalam hubungan keperdataan, namun pelaksanaannya masih perlu pembenahan.

Dengan peningkatan literasi hukum, reformasi peradilan, dan penguatan integritas penegak hukum, kepercayaan publik terhadap hukum perdata diharapkan dapat terus meningkat. ***

Berita Terkait

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu
Pentingnya Mengetahui Hukum bagi Gen Z
Literasi Digital Pelajar Tidak Boleh Menunggu Masalah Datang: Pelajaran dari PKM UNPAM Serang di SMAN 1 Kramatwatu
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu

Berita Terbaru