MSC Season 5: Jangan Berhenti di Piala, Jadikan Investasi Karakter dan Prestasi

Minggu, 5 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Day 1 Kegiatan MSC Pembukaan para Panitia dan para Dosen. (Foto: Istimewa)

Day 1 Kegiatan MSC Pembukaan para Panitia dan para Dosen. (Foto: Istimewa)

[BANTENESIA.NET] Beberapa waktu lalu, lapangan Minisoccer di Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Kota Serang kembali dipadati mahasiswa yang berlaga dalam Management Sport Competition (MSC) Season 5.

Sepintas, ini hanya turnamen olahraga rutin tahunan. Namun bagi saya, cara kita memaknai MSC Season 5 akan menentukan apakah kegiatan ini sekadar seremoni tahunan atau benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi Program Studi Manajemen.

MSC Season 5 mengusung tema “Sebagai Wadah Terciptanya Para Atlet Minisoccer Prodi Manajemen yang Disiplin, Sportif, Kreatif, dan Bertanggung Jawab”.

Tema itu terdengar ideal, tetapi tema besar semacam ini mudah menguap begitu peluit akhir dibunyikan dan piala dibagikan, jika tidak ditindaklanjuti dengan program yang berkelanjutan. Di sinilah letak persoalannya: banyak kompetisi mahasiswa berhenti sebagai ajang tahunan tanpa pembinaan lanjutan, dan MSC berisiko mengalami nasib yang sama apabila hanya dipandang sebagai seremoni tahunan.

Baca Juga :  Green Governance dan Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia
Kegiatan MSC Pertandingan. (Foto: Istimewa)

Padahal, ada alasan kuat untuk memperlakukan MSC lebih serius. Nelson Mandela pernah berkata, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, kekuatan untuk menginspirasi, kekuatan untuk menyatukan manusia dengan cara yang jarang bisa dilakukan hal lain”. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Di lapangan Minisoccer, mahasiswa belajar mengambil keputusan cepat, berbagi peran, dan menanggung akibat dari kesalahan kolektif, persis prinsip-prinsip manajemen yang mereka pelajari di ruang kelas, hanya saja dipraktikkan secara langsung dan penuh tekanan.

Sayangnya, potensi sebesar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sejauh ini MSC lebih banyak berhenti pada level kompetisi antarkelas tanpa jalur pembinaan yang jelas bagi mahasiswa berbakat setelah turnamen usai.

Baca Juga :  Generasi Z Jadi Harapan Baru Penguat Nilai Pancasila di Era Digital

Padahal, kompetisi semacam ini semestinya menjadi titik awal, bukan titik akhir, tempat program studi mengidentifikasi bibit atlet, lalu membina mereka secara berkelanjutan agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi, baik antar-kampus maupun kompetisi eksternal.

Kegiatan MSC Pertandingan. (Foto: Istimewa)

Tantangan lain yang tidak bisa diabaikan adalah keterbatasan waktu mahasiswa. Sebagian dari mereka kuliah sambil bekerja, sehingga latihan rutin di luar jadwal turnamen sulit terlaksana tanpa dukungan konkret dari program studi, misalnya penjadwalan latihan yang fleksibel atau pendampingan pelatih.

Tanpa dukungan struktural semacam ini, semangat yang tumbuh selama MSC berlangsung berisiko padam begitu turnamen selesai.

Di sisi lain, saya melihat MSC memiliki nilai yang tidak kalah penting di luar aspek prestasi: ia mempertemukan mahasiswa lintas kelas yang sehari-hari jarang berinteraksi.

Baca Juga :  OJK Digitalisasi Pelindungan Konsumen, Aplikasi Anti Scam 157 Hadapi Maraknya Penipuan Siber

Dalam pertandingan, mereka belajar menghormati lawan, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan merayakan kemenangan tanpa berlebihan. Nilai-nilai ini sederhana, tetapi justru sering luput dari kurikulum formal dan hanya bisa tumbuh lewat pengalaman langsung semacam ini.

Day 2 para Panitia dan para Tim Juara Peserta. (Foto: Istimewa)

Karena itu, saya berpendapat keberhasilan MSC Season 5 semestinya tidak diukur dari tim mana yang mengangkat trofi, melainkan dari apakah semangat kompetisi ini berlanjut menjadi program pembinaan atlet dan karakter yang konsisten, bukan sekadar acara tahunan yang berulang tanpa arah.

Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang punya kesempatan untuk mengubah MSC dari sekadar turnamen menjadi fondasi lahirnya atlet sekaligus lulusan yang berkarakter kuat. Tinggal soal keberanian untuk menindaklanjutinya setelah peluit akhir dibunyikan. (*)

Berita Terkait

Diduga Edarkan Sabu 10,5 Gram di Sempu, Polresta Serang Kota Amankan Pria asal Lampung 
Bawa Sabu 5 Gram Disembunyikan dalam Korek Api Kriket, Pria Asal Jakarta Ditangkap di Serang
Sopir Ekspedisi Lintas Jawa-Sumatera Diduga Edarkan Sabu di Serang, Polisi Sita Lebih dari 5 Gram
BI Banten dan PLN Indonesia Power Ubah Limbah Uang Rupiah Jadi Bahan Bakar Pembangkit Listrik
Lokakarya KKM UPG Jadi Momentum Dorong Ekonomi Masyarakat Kota Serang
Terpilih Aklamasi, Ratu Siti Romlah Kembali Pimpin PW IPEMI Banten Periode 2026–2031
Meriahkan HUT Ke-81 RI, DPKPP Pandeglang Gelar berbagai Lomba Hingga Hias Kantor Pakai Barang Bekas
Viral Isu Kemacetan HAN 2026 Kabupaten Serang, Desi Ferawati: Bukti Antusiasme Masyarakat Sangat Tinggi

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 02:34 WIB

Diduga Edarkan Sabu 10,5 Gram di Sempu, Polresta Serang Kota Amankan Pria asal Lampung 

Kamis, 3 September 2026 - 16:02 WIB

Bawa Sabu 5 Gram Disembunyikan dalam Korek Api Kriket, Pria Asal Jakarta Ditangkap di Serang

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:41 WIB

BI Banten dan PLN Indonesia Power Ubah Limbah Uang Rupiah Jadi Bahan Bakar Pembangkit Listrik

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Lokakarya KKM UPG Jadi Momentum Dorong Ekonomi Masyarakat Kota Serang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Terpilih Aklamasi, Ratu Siti Romlah Kembali Pimpin PW IPEMI Banten Periode 2026–2031

Berita Terbaru