[BANTENESIA.NET] – Beberapa waktu lalu, lapangan Minisoccer di Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Kota Serang kembali dipadati mahasiswa yang berlaga dalam Management Sport Competition (MSC) Season 5.
Sepintas, ini hanya turnamen olahraga rutin tahunan. Namun bagi saya, cara kita memaknai MSC Season 5 akan menentukan apakah kegiatan ini sekadar seremoni tahunan atau benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi Program Studi Manajemen.
MSC Season 5 mengusung tema “Sebagai Wadah Terciptanya Para Atlet Minisoccer Prodi Manajemen yang Disiplin, Sportif, Kreatif, dan Bertanggung Jawab”.
Tema itu terdengar ideal, tetapi tema besar semacam ini mudah menguap begitu peluit akhir dibunyikan dan piala dibagikan, jika tidak ditindaklanjuti dengan program yang berkelanjutan. Di sinilah letak persoalannya: banyak kompetisi mahasiswa berhenti sebagai ajang tahunan tanpa pembinaan lanjutan, dan MSC berisiko mengalami nasib yang sama apabila hanya dipandang sebagai seremoni tahunan.

Padahal, ada alasan kuat untuk memperlakukan MSC lebih serius. Nelson Mandela pernah berkata, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, kekuatan untuk menginspirasi, kekuatan untuk menyatukan manusia dengan cara yang jarang bisa dilakukan hal lain”. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Di lapangan Minisoccer, mahasiswa belajar mengambil keputusan cepat, berbagi peran, dan menanggung akibat dari kesalahan kolektif, persis prinsip-prinsip manajemen yang mereka pelajari di ruang kelas, hanya saja dipraktikkan secara langsung dan penuh tekanan.
Sayangnya, potensi sebesar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sejauh ini MSC lebih banyak berhenti pada level kompetisi antarkelas tanpa jalur pembinaan yang jelas bagi mahasiswa berbakat setelah turnamen usai.
Padahal, kompetisi semacam ini semestinya menjadi titik awal, bukan titik akhir, tempat program studi mengidentifikasi bibit atlet, lalu membina mereka secara berkelanjutan agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi, baik antar-kampus maupun kompetisi eksternal.

Tantangan lain yang tidak bisa diabaikan adalah keterbatasan waktu mahasiswa. Sebagian dari mereka kuliah sambil bekerja, sehingga latihan rutin di luar jadwal turnamen sulit terlaksana tanpa dukungan konkret dari program studi, misalnya penjadwalan latihan yang fleksibel atau pendampingan pelatih.
Tanpa dukungan struktural semacam ini, semangat yang tumbuh selama MSC berlangsung berisiko padam begitu turnamen selesai.
Di sisi lain, saya melihat MSC memiliki nilai yang tidak kalah penting di luar aspek prestasi: ia mempertemukan mahasiswa lintas kelas yang sehari-hari jarang berinteraksi.
Dalam pertandingan, mereka belajar menghormati lawan, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan merayakan kemenangan tanpa berlebihan. Nilai-nilai ini sederhana, tetapi justru sering luput dari kurikulum formal dan hanya bisa tumbuh lewat pengalaman langsung semacam ini.

Karena itu, saya berpendapat keberhasilan MSC Season 5 semestinya tidak diukur dari tim mana yang mengangkat trofi, melainkan dari apakah semangat kompetisi ini berlanjut menjadi program pembinaan atlet dan karakter yang konsisten, bukan sekadar acara tahunan yang berulang tanpa arah.
Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang punya kesempatan untuk mengubah MSC dari sekadar turnamen menjadi fondasi lahirnya atlet sekaligus lulusan yang berkarakter kuat. Tinggal soal keberanian untuk menindaklanjutinya setelah peluit akhir dibunyikan. (*)








