Menantang Maut di Aspal Umum: Mengapa Balap Liar Tak Pernah Usai?

Senin, 29 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Nama: Rizky Malik Ass Shidiq
Kelas: 02HKSP006
Nim: 251090200467
(Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum
Fakultas Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Malam hari yang harusnya jadi waktu istirahat, sering kali berubah menjadi arena “konser” knalpot bising yang memekakkan telinga. Pemandangan sekelompok remaja yang menutup jalan raya demi adu kecepatan motor sudah bukan hal asing lagi di kota-kota kita.

Fenomena balap liar ini seolah menjadi tradisi malam minggu yang tidak pernah ada habisnya, meski taruhannya adalah nyawa.
Bagi para pelakunya, balap liar mungkin dianggap sebagai ajang unjuk gigi, mencari adrenalin, atau sekadar gengsi antargeng. Namun bagi masyarakat luas, aksi ini tak lebih dari egoisme jalanan.

Baca Juga :  Mengapa Politisi Lebih Suka Menangani Bencana daripada Mencegahnya

Jalan raya adalah fasilitas publik yang dibiayai dari pajak bersama, bukan sirkuit pribadi yang bisa ditutup seenaknya. Berapa banyak pengendara tak bersalah yang harus ikut celaka hanya karena menghindari motor yang melaju tanpa rem yang layak?

Baca Juga :  Dinamika Konstitusi Indonesia: Antara Perubahan Zaman dan Tantangan Penegakan Hukum

“Jalan raya adalah fasilitas publik, bukan sirkuit pribadi yang bisa diklaim sepihak atas nama adrenalin.”

Akar masalahnya sebenarnya klasik: kurangnya wadah resmi dan pembinaan. Mengusir mereka dengan patroli polisi memang memberikan efek jera sesaat, tapi besoknya mereka pindah ke jalan lain.

Kita butuh solusi yang lebih membumi. Pemerintah daerah bersama komunitas otomotif perlu memperbanyak event resmi atau menyediakan ruang khusus balap yang aman dan terjangkau.

Selain itu, peran orang tua juga sangat krusial. Memberikan fasilitas motor kepada anak di bawah umur tanpa pengawasan ketat sama saja dengan membukakan pintu bahaya. Balap liar bukan sekadar masalah hobi yang salah tempat, tapi ini adalah bom waktu lalu lintas.

Baca Juga :  Ketimpangan Agraria di Banten: Antara Pembangunan dan Keadilan bagi Petani

Sudah saatnya kita tidak hanya sekadar mengeluh atau membubarkan, tetapi merangkul energi muda mereka ke jalur prestasi yang legal. Jangan sampai hobi ini baru berhenti saat nyawa sudah melayang di atas aspal. ***

Berita Terkait

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus
Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52 WIB

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57 WIB

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29 WIB

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Berita Terbaru