Krisis Implementasi Nilai Pancasila di Tangan Generasi Z, Kesalahan Siapa?

- Redaktur

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi S1 UNPAM Serang, Fakultas Hukum-Program Studi Ilmu Hikum, Linda Yanti. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi S1 UNPAM Serang, Fakultas Hukum-Program Studi Ilmu Hikum, Linda Yanti. (Foto: Istimewa)

Penulis: Linda Yanti
(Mahasiswa S1 UNPAM Serang Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum)
Dosen: Risky Amelia S. H., M. H
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila

[BANTENESIA.NET] – Pancasila Cuma Tinggal di Buku PKn. Pancasila bukan sekedar lambang Burung Garuda. Banyak yang mengira Pancasila Cuma lima poin yang dipajang di ruang kelas atau sekedar hafal
saat upacara. Padahal Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia dan fondasi utama dalam berbangsa dan bernegara. Atau bahasa gaulnya : Way of life-nya orang Indonesia.

Lima sila itu bukan sekedar doktrin kaku. Sila ke-1 Ketuhanan, didalamnya terdapat nilai keyakinan yang buat kita nggak barbar dan tetap ingat Tuhan Yang Maha Esa. Sila ke-2 Kemanusiaan, nilai yang menyadarkan kita agar tidak tutup mata melihat orang yang sedang butuh bantuan. Sila ke-3 Persatuan, menjadi rem supaya kita tidak mudah pecah hanya karena perkara beda pilihan. Sila ke-4 Kerakyatan, mengajarkan kita beradu argumen dan menyampaikan pendapat pakai otak melalui musyawarah, bukan pakai otot. Ini mau menyampaikan pendapat atau mau boxing? Sila ke-5 Keadilan, memberikan rasa adil secara menyeluruh, bukan hanya yang punya kuasa saja.

Baca Juga :  Makan Bergizi Gratis dan Krisis Kepercayaan Publik: Ketika Program Mulia Berhadapan dengan Tata Kelola

Jujur aja ni, kapan terakhir kita denger anak Gen Z ngobrolin Sila ke-5 waktu nongkrong? Yang rame malah debat siapa paling green flag atau red flag. Pancasila hari ini nasibnya kaya pelajaran PKn: Wajib hafal 5 Sila buat ujian, besoknya lupa.

Di sekolah upacara Senin cuma jadi ajang nyalahin handphone sebagai faktor lunturnya nilai Pancasila. Padahal yang bikin nilai itu luntur ya karena kita sendiri gagal bikin Pancasila hidup dalam
keseharian kita.

Jadi, kalau hari ini kita lihat anak muda lebih hafal step dance Tiktok daripada makna “adil dan beradab”, masalahnya bukan di Pancasila nya. Pancasila dari dulu nggak pernah berubah, justru yang berubah itu cara kita mengimplementasikan. Atau lebih tepatnya, kita yang mulai berhenti menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Negara Kalah Cepat dari Algoritma. Mau marah sama Gen Z? Boleh. Tapi tunggu. Coba lihat dulu: Mereka bangun tidur yang dibuka Tiktok, bukan Tap MPR. Sehari 2 jam pelajaran PKn harus perang mati-matian lawan 7 jam screen time yang isinya ujaran kebencian, tren luar negeri, dan budaya individualis.

Kurikulum kita masih sibuk debat format, sementara di sisi lain algoritma media sosial sudah sukses “mendoktrin” anak muda setiap detik. Gen Z nggak bisa lepas tangan. Katanya generasi paling kritis dan melek digital, tapi literasi kebangsaannya masih bolong? Kita paling depan kalau demo isu global, giliran diajak gotong royong malah mager. Kita teriak “keadilan sosial” di media sosial, tapi disuruh antre waktu belanja malah nyerobot gitu aja. Rela beli album idol Korea 3 versi , giliran produk UMKM lokal dicibir “jelek”.

Baca Juga :  Mengapa Politisi Lebih Suka Menangani Bencana daripada Mencegahnya

Kalau terus berlindung dibalik “salah sistem”, kapan kita mau mulai dari diri sendiri? Handphone ditangan kita, jempol juga punya kita. Mau scroll konten yang nguatin bangsa atau yang bisa ngancurin bangsa, keputusan ada di tangan kita sendiri.

Berhenti kalau Bisanya Cuma Nunjuk, Kita Harus Mulai Gerak. Kita udah capek nyalahin Gen Z, negara, dan algoritma. Kalau semua pihak cuma bisanya lempar tanggung jawab, larinya bakal kemana semua ini?

Kita mulai gerak sekarang, maka akan banyak perubahan di masa mendatang, Atau memilih diam dan membiarkan semuanya hancur perlahan? Itu semua ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain.

Sesimpel Negara buat konten Tiktok dengan waktu yang gak perlu banyak, isinya ngejelasin Sila ke-2 lewat kasus nyata : Bantu driver ojol dan belanja di UMKM lokal. Atau bisa Kolaborasi sama kreator Tiktok buat jadi “Influencer kebangsaan” yang Gen z percaya dan mudah dimengerti, bukan cuma pidato kaku.

Baca Juga :  Pendapat Mahasiswi Unpam Serang Tentang Kasus Pembunuhan di Bandar Lampung

Di sekolah juga sama. Penerapan Sila ke-3 bersih-bersih lingkungan sekitar. Sila ke -4 sesimpel debat aturan kelas secara musyawarah. Jadi semuanya ada aksi. bukan cuma dihafal dan diucapkan di mulut.

Buat Gen Z, katanya paling melek digital, tapi mau dikontrol FYP? Kalau beranda kita isinya cuma flexing dan ghibah, ya jangan salahin negara. Mulai unfollow akun yang bikin kita semua sinis sama bangsa sendiri.

Follow akun UMKM, sejarah, relawan. Intinya, Pancasila nggak akan luntur kalau semuanya bekerja sama dan berhenti salah-salahan. Dia cuma bakal jadi teks mati kalau kita matiin duluan. Pilihannya ada di jempol kita masing-masing. Mau Jadi generasi yang nonton Pancasila dikubur algoritma, atau yang gali lagi nilai yang dikubur? Itu semua ada di tangan kita. Kritik boleh, tapi harus kritik yang cerdas ya, para Gen Z. ***

Berita Terkait

Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan
Ketika Nyawa Korban dan Nyawa Begal Sama-Sama Dipertaruhkan, Antara Hukum dan HAM
Sengketa PT Tisera vs Muhammadiyah Inkrah, MA Perintahkan Bayar Ganti Rugi Puluhan Miliar
Reformasi Agraria Indonesia : Peran Pemerintah Desa dalam Pendaftaran Tanah Masih Terjebak pada Fungsi Administratif
Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan
Pancasila dan Generasi Z: Bertahanan atau Tertinggal
Judi Online: Darurat Sosial yang Memerlukan Penanganan Komprehensif
Efektivitas Pemberantasan Narkotika di Tengah Modus Kejahatan Modern
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:09 WIB

Ketika Tanah Bicara: Investasi Boleh, Tapi Rakyat Jangan Dikorbankan

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:37 WIB

Ketika Nyawa Korban dan Nyawa Begal Sama-Sama Dipertaruhkan, Antara Hukum dan HAM

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:30 WIB

Sengketa PT Tisera vs Muhammadiyah Inkrah, MA Perintahkan Bayar Ganti Rugi Puluhan Miliar

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:25 WIB

Reforma Agraria Indonesia: Antara Janji Keadilan dan Realitas Ketimpangan

Senin, 15 Juni 2026 - 01:50 WIB

Pancasila dan Generasi Z: Bertahanan atau Tertinggal

Berita Terbaru

Pemerhati Hukum Perdata dan Teknologi, Reza Noviana. (Foto: Istimewa)

HuKrim

Menakar Ulang Pasal 1320 KUHPerdata di Era Smart Contract

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:55 WIB

Mahasiswa UNPAM Serang-Banten, Raki Qais Athari. (Foto: Istimewa)

Pendidikan

Dinamika Perkembangan Pancasila Modern Generasi Z

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:40 WIB