Kaligandu dalam Perubahan: Antara Kemacetan, Banjir, dan Pembangunan

- Redaktur

Jumat, 18 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Atik Meilia. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Atik Meilia. (Foto: Istimewa)

Nama: Atik Meilia
Nim: 251092100060
Prodi: Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata Kuliah Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Kawasan Kaligandu, Kota Serang, merupakan salah satu wilayah yang cukup ramai dilalui masyarakat pada setiap harinya. Tingginya aktivitas masyarakat membuat jumlah kendaraan yang melintas semakin banyak sehingga kemacetan sering terjadi, terutama pada jam sibuk. Selain persoalan kemacetan, kawasan ini juga menghadapi masalah banjir atau genangan ketika hujan deras.

Persoalan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2024, Terowongan Kaligandu sudah menjadi perhatian karena selain sering mengalami kemacetan parah, kawasan tersebut juga mengalami banjir ketika hujan deras. Bahkan, DPRD Kota Serang saat itu mendorong agar persoalan banjir di Terowongan Kaligandu dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka panjang daerah. Pemerintah juga menyampaikan rencana normalisasi drainase di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Bagaimana Remote Working Mengubah Gaya Hidup Anak Muda Indonesia

Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan aktivitas masyarakat belum sepenuhnya diikuti dengan infrastruktur yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Kemacetan membuat masyarakat kehilangan waktu di perjalanan, sedangkan banjir dapat menghambat aktivitas dan membuat pengendara harus lebih berhati-hati ketika melewati kawasan tersebut.

Memasuki tahun 2026, pemerintah mulai melakukan Upaya nyata dengan membangun flyover Unyur dan frontage road dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kemacetan, terutama di kawasan Terowongan Kaligandu. Di sisi lain, persoalan banjir juga masih mendapat perhatian. Pada Agustus 2026, Pemerintah Provinsi Banten mulai membangun drainase di kawasan Bumi Indah Permai dan Bumi Agung Permai, Unyur, dengan harapan dapat mengurangi genangan dan banjir yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Baca Juga :  Mengapa Politisi Lebih Suka Menangani Bencana daripada Mencegahnya

Menurut saya, langkah tersebut merupakan hal yang positif, tetapi pembangunan tidak seharusnya hanya berfokus pada membuat kendaraan lebih lancar. Persoalan drainase dan lingkungan juga harus menjadi bagian dari perencanaan. Jika jalan semakin baik tetapi masalah banjir tidak ditangani, masyarakat tetap akan menghadapi persoalan ketika hujan turun.

Baca Juga :  Fenomena Cancel Culture di Media Sosial: Bentuk Kontrol Sosial atau Penghakiman Publik?

Karena itu, pemerintah perlu melihat Kaligandu secara menyeluruh. Pembangunan flyover, perbaikan jalan, pengelolaan lalu lintas, dan perbaikan drainase harus berjalan bersama. Masyarakat juga perlu ikut andil dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.

Menurut Selo Soemardjan perubahan sosial Adalah perubahan yang terjadi pada Lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu Masyarakat yang memengaruhi system sosialnya, termasuk nilai, sikap dan pola perilaku antar Masyarakat.

Dan pada akhirnya, kemajuan Kota Serang bukan hanya dilihat dari adanya pembangunan jalan atau flyover, tetapi juga dari seberapa jauh pembangunan tersebut mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih nyaman. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru