Banjir di Kota Serang: Saatnya Pemerintah dan Masyarakat Tidak Hanya Menunggu Air Surut

- Redaktur

Senin, 14 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Selvi Regita Cahyani. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Selvi Regita Cahyani. (Foto: Istimewa)

Nama: Selvi Regita Cahyani
Nim: 251092100081
Prodi: Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata Kuliah Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Banjir masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di Kota Serang. Setiap kali hujan deras terjadi, sejumlah wilayah kembali menghadapi genangan yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan banjir di Kota Serang bukan hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan kondisi drainase, sedimentasi, sampah, serta pengelolaan lingkungan.

Salah satu contohnya terjadi di kawasan Bumi Agung Permai (BAP) 1, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang. Kawasan tersebut disebut telah menjadi langganan banjir selama bertahun-tahun. Pada Mei 2026, BPBD Kota Serang juga melaporkan adanya banjir yang dipengaruhi hujan deras dan kondisi drainase yang tidak berfungsi dengan baik.

Baca Juga :  Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten

Menurut saya, persoalan tersebut seharusnya menjadi evaluasi bersama. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan ketika banjir terjadi, tetapi perlu memperkuat langkah pencegahan. Pembangunan dan perbaikan drainase harus dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah yang benar-benar rawan banjir. Jangan sampai pembangunan hanya dilakukan setelah masyarakat berkali-kali mengalami kerugian.

Persoalan sampah juga tidak boleh diabaikan. BPBD Kota Serang sebelumnya menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai. Sampah rumah tangga yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan memperbesar risiko banjir ketika hujan deras.

Di sisi lain, pemerintah telah melakukan beberapa langkah penanganan. Pemerintah Kota Serang bersama Pemerintah Provinsi Banten mulai membangun sistem drainase untuk menangani banjir di kawasan Kali Wadas. Pembangunan tersebut direncanakan mencakup dua titik dengan total penanganan sekitar 1.650 meter. Pemerintah juga mulai menangani kawasan BAP 1 yang selama puluhan tahun menghadapi persoalan banjir.

Baca Juga :  Hukum sebagai Alat Keadilan vs Alat Kekuasaan: Refleksi Pidana Indonesia dan Korea Utara

Namun, pembangunan infrastruktur saja belum cukup. Pemerintah harus memastikan kualitas pekerjaan, ketepatan sasaran, serta pemeliharaan setelah proyek selesai. Masyarakat juga harus ikut menjaga fasilitas yang telah dibangun. Jangan sampai saluran yang sudah diperbaiki kembali tersumbat karena sampah atau digunakan untuk kepentingan yang menghambat aliran air.

Menurut saya, penanganan banjir Kota Serang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan infrastruktur dan kebijakan yang tepat, sedangkan masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, serta melaporkan kerusakan drainase di lingkungannya.

Baca Juga :  Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?

Banjir seharusnya tidak lagi dianggap sebagai kejadian rutin yang harus diterima masyarakat setiap musim hujan. Pemerintah Kota Serang perlu menjadikan pengendalian banjir sebagai kebijakan jangka panjang yang terencana dan berkelanjutan. Anggaran pembangunan harus diarahkan pada program yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan penggunaannya perlu diawasi secara transparan.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan banjir di Kota Serang bukan hanya diukur dari seberapa cepat pemerintah menangani genangan, tetapi dari seberapa mampu pemerintah mencegah banjir terjadi kembali. Kota Serang membutuhkan pembangunan yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat, terawat, dan melibatkan masyarakat. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru