Gerakan Menanam di Lingkungan Kaserangan Lama, Grogol, Kota Cilegon

- Redaktur

Minggu, 30 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sandy Febriyansah, Mahasiswa Universitas Tirtayasa (UNTIRTA). (Foto: Istimewa)

Sandy Febriyansah, Mahasiswa Universitas Tirtayasa (UNTIRTA). (Foto: Istimewa)

Nama : Sandy Febriyansah

Nim : 6661250033

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Kesadaran dan kegemaran menanam tidak dimiliki oleh semua orang termasuk masyarakat di lingkungan Kaserangan Lama Grogol, Kota Cilegon, Provinsi Banten, karena lebih banyak bekerja di pabrik terutama bagi para pria dengan Waktu yang cukup singkat di rumah.

Pemberian bibit cabai dan tomat kepada masyarakat kaserangan ini merupakan wujud nyata bagi ketahanan pangan dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Menanam tidak hanya sebatas kemampuan untuk menghasilkan pangan sendiri, melainkan juga tidak bergantung pada pasar yang menjual bahan bahan pangan seperti sayuran.

Bukan hanya itu dengan adanya kegiatan menanam bibit terutama cabai dan tomat bisa mengurangi pengeluaran belanja, serta dapat menghasilkan pangan yang cukup,bergizi dan terjangkau.

Baca Juga :  Dilema Pembangunan IKN, Antara Ambisi Fisik dan Esensi Pancasila

Pada tahun 2025 Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari dua kali menjadi tiga kali tanam dalam setahun guna mendukung program swasembada pangan dan mengoptimalkan lahan terbatas.

Pemkot Cilegon berkomitmen mendukung program swasembada pangan nasional yang merupakan bagian dari program strategis Presiden Prabowo Subianto. Di Kota Cilegon Sebanyak 1.156 hektar lahan dipertahankan untuk program ketahanan pangan, meskipun dikenal sebagai kota industri.

Selain itu, Pemkot Cilegon memiliki program gerakan tanam padi sebagai bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan dan mendukung sektor pertanian lokal, diharapkan upaya penguatan sektor pertanian di Kota Cilegon dapat berjalan lebih terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Baca Juga :  Pentingnya LDKO Sebagai Fondasi Pembentukan Pemimpin Muda yang Berkarakter dan Berwawasan Kebangsaan

Namun nyatanya krisis pangan berkualitas di Kota Cilegon yang termasuk daerah industri masih menjadi permasalahan yang serius, terlebih dengan minimnya lahan pertanian akibat masifnya pembangunan kawasan industri.

Menurut catatan terakhir pemerintah setempat, menurut data resmi dkpp luas lahan pertanian di Kota Cilegon hanya tersisa sekitar 1.108 sementara lahan pertanian pangan berkelanjutan produktif tinggal 304 hektar. angka tersebut mengalami penyusutan dengan angka lahan yang di pertahankan oleh pemkot cilegon.

Karena itu, pada masa Wali Kota Cilegon yaitu Helldy Agustian (2021-2024), saat itu pemkot cilegon mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota No 520/2266/KP/DKPP tentang Gerakan Tanam Cabai serta pemanfaatan lahan pekarangan yang diresmikan 31 Oktober 2022.

Baca Juga :  H. Ferry Zundan Tokoh Pemuda Kota Serang Ajak Mahasiswa dan Masyarakat menjaga Kondusivitas Kota Serang

Surat Edaran itu sebagai wujud nyata dan komitmen Pemkot Cilegon dalam melaksanakan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang tengah digencarkan oleh pemerintahan.

Helldy Agustian (2021-2024) mengimbau kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan lahan kosong untuk bertani.

Lahan-lahan kosong yang ada di Kota Cilegon ini dapat digunakan secara maksimal salah satunya yaitu dengan melakukan gerakan tanam cabai dan kebutuhan pangan lainnya. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru