[BANTENESIA.NET], PANDEGLANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang Melalui Dinas Kesehatan, menjalin kolaborasi strategis dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) untuk mempercepat peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap bagi anak. Sinergi ini diwujudkan melalui kegiatan Participatory Workshop bertajuk “Komitmen Daerah dan Sinergi Multisektoral dalam Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Dasar Anak”, Kamis (9/7/2026) di salah satu hotel di Pandeglang, .
Kegiatan ini bertujuan mengintegrasikan hasil penelitian UNDERVAC-ID dari FKUI ke dalam dokumen rencana strategi Pemkab Pandeglang. Melalui wadah ini, seluruh pemangku kepentingan lintas sektor diharapkan dapat memperkuat kolaborasi guna merumuskan solusi konkret atas hambatan imunisasi yang dihadapi di lapangan.
Asisten Daerah I bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Kabupaten Pandeglang, Doni Hermawan, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin erat antara institusi akademis FKUI dan Pemkab Pandeglang.

“Kami menyambut baik kegiatan ini. Saya berharap seluruh peserta tidak hanya sekadar mengikuti workshop, tetapi juga mampu menerapkan materi yang diperoleh secara nyata di lapangan. Dengan begitu, capaian imunisasi dasar anak di Kabupaten Pandeglang dapat melonjak secara signifikan,” ungkap Doni dalam sambutannya.
Doni juga menekankan pentingnya forum ini sebagai ruang diskusi kritis untuk mengurai kendala sosiologis, termasuk menepis maraknya penyebaran informasi bohong (hoaks) seputar imunisasi yang kerap memicu keraguan di tengah masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Peneliti Utama UNDERVAC-ID, dr. Ahmad Fuady, memaparkan hasil studi yang telah berjalan selama satu tahun terakhir mengenai faktor-faktor sosial yang memengaruhi grafik cakupan imunisasi di Pandeglang. Riset tahun pertama UNDERVAC-ID berhasil memetakan empat pilar masalah utama. pertama, Tingginya rasa cemas pengasuh terhadap dampak pasca-suntikan yang dipicu oleh derasnya disinformasi di media sosial. Kemudian kedua, Isu Kehalalan, Keraguan masyarakat yang masih dipengaruhi oleh isu halal dan haramnya kandungan vaksin.
Ketiga, Kuasa Keputusan Ayah, banyak kasus ditemukan di mana pihak ibu sebenarnya bersedia mengantar anak untuk imunisasi, namun terbentur oleh keputusan ayah yang belum terinformasikan dengan baik mengenai manfaat dan efek samping vaksin.

Dan keempat, Perlunya peningkatan kapasitas teknik komunikasi persuasif bagi nakes saat memberikan sosialisasi langsung ke basis masyarakat.
Dr. Ahmad Fuady mengungkapkan ada dua indikator utama mengapa Pandeglang dipilih sebagai lokasi fokus riset, meskipun angka cakupannya secara umum tergolong cukup tinggi. Pertama, adanya rekomendasi dari pihak provinsi menyusul terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio beberapa waktu lalu. Kedua, struktur sosiologis masyarakat Pandeglang dinilai sangat unik dibandingkan dengan daerah lainnya.
“Berdasarkan data kami, persentase imunisasi di Pandeglang berada di angka 60 persen-an pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024 dan 2025, angkanya melonjak tajam dan berhasil berada di atas target sesuai catatan administratif. Kami berharap target ini terus dipertahankan secara riil di lapangan, agar kasus yang dapat dicegah seperti insiden campak yang kemarin sempat menyentuh angka 300-an kasus tidak muncul kembali,” papar dr. Ahmad.
Mengingat kompleksnya masalah sosial ini, lokakarya selama dua hari tersebut sengaja melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya sektor kesehatan, panitia juga mengundang tokoh agama, tokoh masyarakat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, kader posyandu, lurah, hingga camat untuk memberikan masukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Hj. Eniyati, menegaskan bahwa data riset objektif dari FKUI ini akan langsung diadopsi sebagai cetak biru (kertas kerja) program kerja dinkes untuk periode tahun mendatang.

“Hasil penelitian ini sangat penting dan akan kami jadikan kertas kerja untuk tahun depan. Insyaallah, rekomendasi dari tim lintas sektor yang terlibat akan dijadikan bahan advokasi kepada pimpinan daerah (bupati). Fokus kami ada tiga: meningkatkan capaian imunisasi, menaikkan kualitas imunisasi itu sendiri, serta memotong mata rantai isu hoaks yang membuat masyarakat takut atau ragu,” tegas Eniyati.
Eniyati juga membagikan catatan reflektif mengenai lompatan perubahan paradigma (karakteristik) masyarakat Pandeglang yang kian hari semakin modern dan sadar kesehatan.
“Paradigma masyarakat Pandeglang saat ini sudah jauh lebih meningkat jika dibandingkan dengan 35 tahun lalu ketika saya pertama kali bertugas di sini. Dulu, capaian imunisasi sangat rendah, masyarakat harus dipaksa-paksa, bahkan tokoh agama dan tokoh masyarakatnya cenderung menutup diri dan sulit diajak kerja sama,” kenang Eniyati.
Namun, kondisi sosiologis hari ini jauh berbeda. “Sekarang sudah jauh lebih baik dan capaian kita tinggi. Tokoh agama serta tokoh masyarakat sudah sangat terbuka untuk mendukung program imunisasi ini. Walaupun edukasi berkala harus tetap kita tingkatkan, situasi sosiologis saat ini jauh lebih maju dan kondusif,” pungkasnya optimis. (ADV)








