Cermin Retaknya Moralitas dan Sistem Hukum di Indonesia

Senin, 8 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

NAMA : M ASEP ILHAM
NIM : 251090200289

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Opini Saya sangat terkejut dan menyayangkan kasus Ferdy Sambo yang telah mengguncang
kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Sebagai seorang warga negara, saya merasa bahwa kasus ini merupakan contoh nyata bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan dan bagaimana sistem hukum dapat gagal dalam menegakkan keadilan.

Saya setuju dengan pendapat bahwa kasus ini bukan hanya tentang individu Ferdy Sambo, tetapi juga tentang masalah struktural yang mencerminkan budaya kekuasaan yang belum sehat di tubuh Polri.

Saya berharap bahwa kasus ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi Polri untuk membersihkan diri dan meningkatkan integritas serta moralitas anggotanya.

Saya juga ingin menekankan pentingnya pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membangun integritas dan moralitas masyarakat.

Pendidikan ini harus diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa, untuk membangun kesadaran akan pentingnya integritas dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berintegritas.

Baca Juga :  Konflik Tanah di Desa Keban dengan Perusahaan PT. Primanaya

Tragedi yang Mengguncang Kepercayaan Publik Kasus Ferdy Sambo merupakan salah satu peristiwa paling menghebohkan dan monumental dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia.

Kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo bukan sekadar kasus pembunuhan biasa.

Salah satu aspek paling menarik dan ironis dari kasus ini adalah bagaimana kekuasaan bisa mengendalikan rasa takut dan kesetiaan.

Banyak anggota polisi yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak, menunjukkan bahwa sistem hierarki di kepolisian seringkali menuntut loyalitas mutlak, bahkan ketika hal itu bertentangan dengan hukum dan hati nurani.

Dari sisi moralitas, tindakan Ferdy Sambo sulit diterima dengan nalar dan hati. Seorang aparat penegak hukum, yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat dan penegak keadilan, justru berubah menjadi pelaku kejahatan yang kejam dan penuh tipu daya.

Meski gelap dan menyakitkan, kasus ini akhirnya membawa satu sisi positif: sistem hukum Indonesia masih memiliki ruang untuk keadilan. Proses pengungkapan kasus ini, meski berjalan panjang dan berliku, menunjukkan bahwa tekanan publik dan media memiliki kekuatan besar dalam mengawal kebenaran.

Baca Juga :  Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihannya

8 Juli 2022: Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) ditemukan tewas di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

9 Juli 2022: Pihak kepolisian mengumumkan bahwa Brigadir J tewas akibat baku tembak.

10 Juli 2022: Bukti-bukti forensik dan kesaksian berbagai pihak menunjukkan adanya kejanggalan dalam kasus ini.

11 Juli 2022: Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka.

13 Februari 2023: Ferdy Sambo divonis mati.
Menurut Profesor James C. Scott, seorang ahli ilmu politik, “kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak akan mereka lakukan secara sukarela” (Scott, 1990).

Dalam kasus ini, Ferdy Sambo menggunakan kekusaannya sebagai perwira tinggi Polri untuk mempengaruhi dan mengintimidasi orang lain agar menutupi kejahatannya.

Pendapat Ahli
– “Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak akan mereka lakukan secara sukarela” (Scott, 1990).

– “Pendidikan adalah kunci untuk membangun karakter bangsa” (Soekarno, 1961).

Baca Juga :  Deklarasi Desa Bersinar & Desa Gotong Royong

Komentar dari Sudut Pandang Kewarganegaraan dan Pancasila

Kasus Ferdy Sambo merupakan contoh nyata bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan dan bagaimana sistem hukum dapat gagal dalam menegakkan keadilan.

Dari sudut pandang kewarganegaraan dan Pancasila, kasus ini merupakan contoh bagaimana nilai-nilai moral dan
etika dapat diabaikan demi kepentingan pribadi.

Pancasila, sebagai ideologi negara, menekankan pentingnya nilai-nilai seperti keadilan, kemanusiaan, dan persatuan.

Namun, dalam kasus ini, nilai-nilai tersebut diabaikan demi kepentingan Ferdy Sambo dan kelompoknya.

Urgensi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sangat penting dalam membangun integritas dan moralitas masyarakat.

Pendidikan ini harus diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa, untuk membangun kesadaran akan pentingnya integritas dan
moralitas.

Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berintegritas.

Referensi:
Scott, J. C. (1990). Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts. Yale University Press.

Soekarno. (1961). Pidato pada Peresmian Universitas Gadjah Mada.

***

Berita Terkait

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia
Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Siber: Perbandingan Indonesia dan Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:25

Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52