Opini Tentang Presiden Soeharto yang Ingin Dijadikan Pahlawan Nasional

- Redaktur

Selasa, 25 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anilva Antonia, Mahasiswa UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Anilva Antonia, Mahasiswa UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

NAMA​: ANILVA ANTONIA 

NIM​251090200179

Kampus : Universitas Pamulang (UNPAM)

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Mengenai gagasan menjadikan Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, ini adalah topik yang cukup kontroversial dan penuh perdebatan di Indonesia.

Beberapa orang melihatnya sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa besar yang telah dia lakukan selama memimpin Indonesia, sementara yang lain merasa bahwa hal itu tidak tepat mengingat pelanggaran hak asasi manusia dan persoalan lain yang terjadi pada masa pemerintahannya.

Pendapat yang Mendukung:

• Pembangunan Ekonomi: Soeharto dianggap berhasil membawa Indonesia menuju kemajuan ekonomi yang signifikan pada masa Orde Baru. Di bawah pemerintahannya, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dengan infrastruktur yang berkembang dan tingkat kemiskinan yang menurun.

Baca Juga :  Pantai Bagedur: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Pengelolaan Pariwisata

• Stabilitas Politik: Soeharto mampu menjaga stabilitas politik dan keamanan negara selama lebih dari 30 tahun, yang dianggap sebagai faktor penting dalam menjaga keutuhan negara pasca-kerusuhan politik dan perpecahan yang terjadi sebelum masa Orde Baru.

• Peran dalam Diplomasi Internasional: Soeharto juga memiliki peran yang signifikan dalam diplomasi internasional, menjalin hubungan yang baik dengan banyak negara, baik di Asia maupun Barat, dan ikut serta dalam pembentukan organisasi seperti ASEAN.

Pendapat yang Menentang:

• Pelanggaran HAM: Masa pemerintahan Soeharto juga diwarnai dengan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, seperti penindasan terhadap oposisi politik, penghilangan paksa, dan kekerasan terhadap kelompok tertentu, termasuk pada masa peristiwa 1965– 1966 dan tragedi Trisakti serta Semanggi di 1998.

Baca Juga :  BKKMHB Mengelar Peringatan Malam Nuzulul Qur'an Berlansung Meriah

• Korupsi: Soeharto juga dianggap sebagai simbol dari pemerintahan yang korup, dengan praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sangat merajalela.

Banyak orang melihat bahwa kekuasaan yang terlalu lama dan sentralisasi pemerintahan menjadi lahan subur untuk praktek-praktek ini.

• Demokrasi yang Terbatas:

Meski ada pembangunan yang signifikan dalam bidang ekonomi dan infrastruktur, sistem demokrasi di Indonesia di bawah Orde Baru sangat terbatas. Pemilu yang tidak bebas dan adil, serta pengendalian media, mengurangi ruang bagi kebebasan berpendapat dan partisipasi politik yang luas.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Masih Membebani Masyarakat

Kesimpulan:

Penganugerahan status Pahlawan Nasional kepada Soeharto harus mempertimbangkan semua aspek dari kepemimpinannya. Sisi positifnya dalam membangun negara mungkin bisa diakui, tetapi pengakuan terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan dampak negatif dari pemerintahan yang otoriter juga tidak bisa diabaikan.

Ini adalah keputusan yang memerlukan refleksi mendalam mengenai apa yang kita anggap sebagai pahlawan dan apa yang menjadi dasar penilaian kita terhadap pahlawan tersebut.

Jadi, apakah Soeharto layak menjadi Pahlawan Nasional atau tidak, tergantung pada perspektif sejarah dan nilai-nilai yang ingin kita pegang dalam menghargai jasa para pemimpin. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru