Adab di Atas Ilmu

- Redaktur

Jumat, 21 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surya Thimor Wicaksono, 241090200118, Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Hukum. (Foto: Istimewa)

Surya Thimor Wicaksono, 241090200118, Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Hukum. (Foto: Istimewa)

Nama : Surya Thimor Wicaksono

Nim : 241090200118

Kampus : Universitas Pamulang

Fakultas : Hukum

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Dalam era di mana pengetahuan ilmiah dan teknologi berkembang pesat, sering kali kita terjebak dalam anggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah segalanya.

Dari sekolah hingga dunia kerja, nilai-nilai akademik seperti IQ tinggi atau gelar sarjana dianggap sebagai kunci sukses.

Namun, apakah ilmu pengetahuan benar-benar lebih unggul daripada adab? Saya berpendapat bahwa adab – yaitu etika, sopan santun, dan perilaku baik – harus ditempatkan di atas ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi senjata yang merusak, bukan alat untuk kemajuan manusia.

Pertama, mari kita pahami konteksnya. Pepatah “adab di atas ilmu” berasal dari tradisi Islam dan budaya Timur, yang menekankan bahwa pengetahuan tanpa moralitas adalah sia-sia. Bayangkan seorang ilmuwan brilian yang menciptakan senjata nuklir tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kemanusiaan.

Baca Juga :  Urgensi Penanganan Kasus Pembullyan di Lingkungan Pendidikan

Atau seorang dokter yang ahli dalam bedah tapi kasar terhadap pasiennya. Ilmu mereka mungkin luar biasa, tetapi tanpa adab, kontribusi mereka bisa berujung pada bencana. Sebaliknya, seseorang dengan adab yang baik, meski ilmunya terbatas, bisa membangun harmoni sosial.

Contohnya, seorang guru desa yang rendah pendidikannya tapi penuh empati, mampu mendidik generasi muda dengan nilai-nilai kebaikan.

Dalam pendidikan modern, kita sering melihat prioritas yang salah. Sistem sekolah mengejar nilai tinggi dan prestasi akademik, tapi mengabaikan pembentukan karakter.

Anak-anak diajari rumus fisika atau sejarah, tapi jarang diajari bagaimana bersikap hormat kepada orang tua atau bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Akibatnya, kita menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tapi miskin empati. Lihat saja kasus-kasus bullying di sekolah atau korupsi di dunia politik—banyak pelakunya adalah orang-orang terdidik.

Baca Juga :  Green Governance dan Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia

Ini membuktikan bahwa ilmu tanpa adab justru bisa memperburuk masalah sosial.

Lebih lanjut, dalam dunia kerja, adab menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Seorang karyawan dengan gelar master mungkin dipekerjakan karena keahliannya, tapi yang bertahan dan naik jabatan adalah yang memiliki adab jujur, kerja sama, dan rendah hati. Perusahaan seperti Google atau Toyota tidak hanya mencari talenta teknis, tapi juga nilai-nilai budaya yang menekankan integritas.

Di era digital ini, di mana informasi mudah diakses, kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan baik lebih berharga daripada pengetahuan murni.

Tanpa adab, ilmu bisa digunakan untuk manipulasi, seperti deepfake atau cyberbullying, yang merusak kepercayaan masyarakat.

Baca Juga :  Dampak Dalam Memberikan Makanan Cepat Saji Kepada Anak

Namun, ini bukan berarti ilmu tidak penting. Ilmu adalah fondasi, tapi adab adalah pemandu. Kita perlu menyeimbangkan keduanya. Pendidikan harus mengintegrasikan keduanya: ajar matematika sambil menanamkan nilai-nilai etika.

Orang tua dan masyarakat harus menjadi teladan. Jika adab ditempatkan di atas ilmu, kita akan menciptakan dunia yang lebih manusiawi, di mana inovasi digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi.

Akhirnya, mari kita renungkan: Apa gunanya ilmu jika kita kehilangan kemanusiaan? Adab di atas ilmu bukanlah penolakan terhadap pengetahuan, melainkan pengingat bahwa manusia sejati diukur dari perilakunya, bukan dari apa yang diketahuinya. Semoga artikel ini mendorong kita semua untuk lebih menghargai adab dalam kehidupan sehari-hari. ***

Berita Terkait

Ketika Kelalaian Mengancam: Tanggung Jawab Hukum dalam Pengelolaan Wisata Baduy
Generasi Z Jadi Garda Terdepan Menjaga Pancasila di Era Digital
Spekulasi Opini Publik terhadap Kasus Nadiem Makarim Sebelum Putusan Pengadilan
Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Masih Membebani Masyarakat
Kenaikan Harga Bahan Pokok di Banten 2026: Tantangan Ekonomi yang Perlu Diatasi Bersama
Membedah Anomali “Muda dan Merana”: Mengapa Generasi Hari Ini Terjebak dalam Labirin Kemiskinan?
Implementasi Konsep Manajemen bagi Mahasiswa UNPAM Kampus Kota Serang Melalui Edukasi Pasar Modal di BEI
Solidaritas dan Pembentukan Karakter dalam Himpunan Mahasiswa
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:12 WIB

Ketika Kelalaian Mengancam: Tanggung Jawab Hukum dalam Pengelolaan Wisata Baduy

Senin, 25 Mei 2026 - 11:48 WIB

Generasi Z Jadi Garda Terdepan Menjaga Pancasila di Era Digital

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:46 WIB

Spekulasi Opini Publik terhadap Kasus Nadiem Makarim Sebelum Putusan Pengadilan

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:11 WIB

Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Masih Membebani Masyarakat

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:48 WIB

Kenaikan Harga Bahan Pokok di Banten 2026: Tantangan Ekonomi yang Perlu Diatasi Bersama

Berita Terbaru