Penulis: Davina Desianti
(Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan UNPAM Serang)
[BANTENESIA.NET] – Muda bukan berarti malas sering kali, mereka hanya sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur oleh sistem yang tidak adil.
Ada sebuah narasi usang yang sering dilemparkan oleh generasi pendahulu: “Anak muda sekarang susah karena kurang kerja keras dan terlalu banyak ngopi”.
Narasi ini tidak hanya dangkal, tapi juga menutup mata terhadap pergeseran tektonik dalam struktur ekonomi dan sosial kita. Faktanya, menjadi muda di Indonesia saat ini berarti bertarung melawan badai ketidakpastian yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Mengapa banyak anak muda Indonesia masih hidup susah? Jawabannya bukan sekadar soal mentalitas, melainkan tentang tiga jeratan besar.

1. Ledakan Biaya Hidup yang Tidak Selaras dengan Kenaikan Upah
Kita berada di Era di mana harga properti dan kebutuhan pokok melompat menggunakan lift, sementara kenaikan upah naik menggunakan tangga manual.
Fenomena “The Sandwich Generation”, bukan sekadar istilah keren di media sosial; ini adalah beban riil. Banyak anak muda yang baru mulai meniti karier harus menanggung biaya hidup orang tua dan adik-adiknya karena sistem jaminan hari tua yang belum mapan secara nasional. Akibatnya, akumulasi modal untuk masa depan pribadi sering kali terkuras habis sebelum sempat diinvestasikan.
2. Deindustrialisasi Dini dan “Mismatch” Lapangan Kerja
Secara makro, Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi dini. Sektor manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja formal cenderung stagnan, sementara pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor jasa yang sering kali bersifat informal atau gig economy (seperti ojek online atau kurir).
Bagi lulusan universitas, terjadi jurang pemisah antara apa yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan industri yang berubah secepat kilat. Kita memiliki ribuan sarjana, namun pasar kerja hanya menyediakan posisi kontrak jangka pendek dengan jaminan sosial yang minim. Hidup susah menjadi keniscayaan ketika stabilitas pekerjaan menjadi barang mewah.
3. Tekanan Budaya “Hustle” dan Beban Psikologis Digital
Media sosial menciptakan standar hidup artifisial yang memicu pengeluaran impulsif demi validasi. Namun, di balik itu ada masalah yang lebih serius: Burnout dan gangguan kesehatan mental. Generasi muda dipaksa berkompetisi secara global di tengah ekosistem domestik yang belum sepenuhnya mendukung. Ketika kesehatan mental terganggu, produktivitas menurun, dan dalam jangka panjang, ini berimplikasi pada kesejahteraan ekonomi mereka.
4. Pendidikan Tinggi yang Tak Lagi Menjamin Mobilitas Vertikal
Dahulu, ijazah adalah “tiket emas” keluar dari kemiskinan. Hari ini, ijazah sering kali hanya menjadi syarat administrasi untuk pekerjaan upah minimum. Investasi besar yang dikeluarkan keluarga untuk pendidikan tidak berbanding lurus dengan Return on Investment (ROI) di pasar kerja.
Tanpa koneksi atau “orang dalam” (privilese sosial), anak muda dari kelas bawah tetap harus merangkak lebih jauh dibandingkan mereka yang sudah memiliki modal sejak lahir.
Hidup susah di usia muda di Indonesia saat ini adalah kombinasi dari beban struktural dan transisi ekonomi yang belum berpihak pada mereka. Kita tidak bisa terus-menerus memberikan solusi “motivasi” kepada orang yang sedang tenggelam dalam sistem yang timpang.
Sudah saatnya kebijakan publik lebih fokus pada pengendalian harga hunian, penyelarasan kurikulum pendidikan dengan industri masa depan, dan penguatan jaring pengaman sosial yang mampu memutus rantai generasi sandwich. Tanpa itu, potensi bonus demografi kita hanya akan menjadi beban demografi yang menyakitkan.
Muda bukan berarti malas; sering kali, mereka hanya sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur oleh sistem yang tidak adil. ***







