Membedah Anomali “Muda dan Merana”: Mengapa Generasi Hari Ini Terjebak dalam Labirin Kemiskinan?

Minggu, 10 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Penulis: Davina Desianti
(Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Muda bukan berarti malas sering kali, mereka hanya sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur oleh sistem yang tidak adil.

Ada sebuah narasi usang yang sering dilemparkan oleh generasi pendahulu: “Anak muda sekarang susah karena kurang kerja keras dan terlalu banyak ngopi”.

Narasi ini tidak hanya dangkal, tapi juga menutup mata terhadap pergeseran tektonik dalam struktur ekonomi dan sosial kita. Faktanya, menjadi muda di Indonesia saat ini berarti bertarung melawan badai ketidakpastian yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Mengapa banyak anak muda Indonesia masih hidup susah? Jawabannya bukan sekadar soal mentalitas, melainkan tentang tiga jeratan besar.

(Foto: NET)

1. Ledakan Biaya Hidup yang Tidak Selaras dengan Kenaikan Upah

Kita berada di Era di mana harga properti dan kebutuhan pokok melompat menggunakan lift, sementara kenaikan upah naik menggunakan tangga manual.

Baca Juga :  Mahasiswa Prodi manajemen S1 Uinversitas Pamulang Melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat 'Pelatihan Manajemen Keuangan Pribadi Untuk Meningkatkan Literasi Finansial Siswa SMK AL- KHAERIYAH PENGAMPELAN Kota Serang'

Fenomena “The Sandwich Generation”, bukan sekadar istilah keren di media sosial; ini adalah beban riil. Banyak anak muda yang baru mulai meniti karier harus menanggung biaya hidup orang tua dan adik-adiknya karena sistem jaminan hari tua yang belum mapan secara nasional. Akibatnya, akumulasi modal untuk masa depan pribadi sering kali terkuras habis sebelum sempat diinvestasikan.

2. Deindustrialisasi Dini dan “Mismatch” Lapangan Kerja

Secara makro, Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi dini. Sektor manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja formal cenderung stagnan, sementara pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor jasa yang sering kali bersifat informal atau gig economy (seperti ojek online atau kurir).

Bagi lulusan universitas, terjadi jurang pemisah antara apa yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan industri yang berubah secepat kilat. Kita memiliki ribuan sarjana, namun pasar kerja hanya menyediakan posisi kontrak jangka pendek dengan jaminan sosial yang minim. Hidup susah menjadi keniscayaan ketika stabilitas pekerjaan menjadi barang mewah.

Baca Juga :  Korupsi dan Krisis Integritas: Tantangan Penegakan Hukum di Indonesia

3. Tekanan Budaya “Hustle” dan Beban Psikologis Digital

Media sosial menciptakan standar hidup artifisial yang memicu pengeluaran impulsif demi validasi. Namun, di balik itu ada masalah yang lebih serius: Burnout dan gangguan kesehatan mental. Generasi muda dipaksa berkompetisi secara global di tengah ekosistem domestik yang belum sepenuhnya mendukung. Ketika kesehatan mental terganggu, produktivitas menurun, dan dalam jangka panjang, ini berimplikasi pada kesejahteraan ekonomi mereka.

4. Pendidikan Tinggi yang Tak Lagi Menjamin Mobilitas Vertikal

Dahulu, ijazah adalah “tiket emas” keluar dari kemiskinan. Hari ini, ijazah sering kali hanya menjadi syarat administrasi untuk pekerjaan upah minimum. Investasi besar yang dikeluarkan keluarga untuk pendidikan tidak berbanding lurus dengan Return on Investment (ROI) di pasar kerja.

Baca Juga :  Dua Negara, Satu Harapan: Masa Depan Palestina dan Israel

Tanpa koneksi atau “orang dalam” (privilese sosial), anak muda dari kelas bawah tetap harus merangkak lebih jauh dibandingkan mereka yang sudah memiliki modal sejak lahir.

Hidup susah di usia muda di Indonesia saat ini adalah kombinasi dari beban struktural dan transisi ekonomi yang belum berpihak pada mereka. Kita tidak bisa terus-menerus memberikan solusi “motivasi” kepada orang yang sedang tenggelam dalam sistem yang timpang.

Sudah saatnya kebijakan publik lebih fokus pada pengendalian harga hunian, penyelarasan kurikulum pendidikan dengan industri masa depan, dan penguatan jaring pengaman sosial yang mampu memutus rantai generasi sandwich. Tanpa itu, potensi bonus demografi kita hanya akan menjadi beban demografi yang menyakitkan.

Muda bukan berarti malas; sering kali, mereka hanya sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur oleh sistem yang tidak adil. ***

Berita Terkait

Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?
Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?
Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN
Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus
Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 17:36 WIB

Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?

Kamis, 10 September 2026 - 12:37 WIB

Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?

Rabu, 2 September 2026 - 21:37 WIB

Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Berita Terbaru