Oleh Kelompok:
Ketua: Syahri Denta Ramadhanu,
Adrian Raihansyah,
Khoirunnisa Awalia Putri,
Syufatul Ami Mubarokah
Bimbingan Dosen: Muhammad Akbar Maulana, S.IP., M.IP.
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET], SERANG – Pelajar hari ini hidup di dua dunia: ruang kelas dan layar ponsel. Dunia pertama disiapkan dengan serius. Dunia kedua sering dibiarkan dipelajari sendiri.
Cara pandang itu keliru. Di layar ponsel, pelajar belajar, berkarya, dan berteman, sekaligus berhadapan dengan Hoaks, perundungan di dunia maya, dan data pribadi yang rawan disalahgunakan. Etika dan literasidigital semestinya menjadi bekal dasar, bukan materi tambahan yang diberikan kalau sempat.
Melarang pelajar bermedia sosial tidak realistis. Mereka tetap akan memakainya, hanya tanpa bekal.
Yang lebih masuk akal adalah membuat mereka sadar bagaimana ruang digital bekerja. Unggahan mudah tersimpan dan sulit dihapus. Algoritma cenderung menampilkan hal yang sejalan dengan pendapat kita, sehingga orang mudah merasa paling benar.
Pelajar yang tidak memahami ini akan mudah mengira isi berandanya adalah gambaran dunia yang utuh.
Banyak pelajar sebenarnya tahu hoaks itu buruk, tetapi tetap membagikannya. Masalahnya bukan pada pengetahuan, melainkan pada kebiasaan.
Judul yang heboh, isi yang memancing emosi, dan ajakan agar segera disebarkan bekerja justru karena membuat orang bertindak sebelum berpikir. Karena itu, dari lima langkah sebelum membagikan informasi, yakni memeriksa sumber, membandingkan dengan sumber lain, menelusuri konteks, memakai situs cek fakta, dan menahan diri, langkah terakhirlah yang paling sulit dan paling menentukan. Semboyan “Saring dulu, Baru Sharing” berguna karena mengingatkan kita untuk menahan jempol.
Hal serupa berlaku pada perundungan online. Candaan sering dijadikan alasan, padahal candaan yang menyakiti perasaan tetap perundungan. Siswa perlu tahu apa yang harus dilakukan: tidak membalas dengan emosi, menyimpan bukti, melaporkan, dan bercerita kepada guru atau orang tua.
Begitu pula data pribadi. Kode OTP, kata sandi, dan nomor identitas tidak boleh dibagikan. Kata sandi yang kuat dan verifikasi dua langkah adalah kebiasaan kecil dengan dampak besar.
Upaya membangun kebiasaan itu terlihat di SMAN 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang. Pada Kamis, 15 Oktober 2026, tim mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Penguatan etika bermediasosial dan literasi digital dalam mendukung Civic Governance di era pemerintahan digital”.
Tim itu terdiri atas Syahri Denta Ramadhanu sebagai ketua, Adrian Raihansyah, Khoirunnisa Awalia Putri, dan Syufatul Ami Mubarokah, dengan bimbingan dosen Muhammad Akbar Maulana, S.IP., M.IP. Sebanyak 36 siswa mengikuti kegiatan yang dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Siti Zubaida, S.Pd., M.Pd.
Yang patut dihargai adalah pendekatannya. Materi disusun dari empat pilar literasi digital, yaitu kecakapan, etika, keamanan, dan budaya digital, lalu dibarengi diskusi tanya jawab. Pola dua arah ini penting, sebab kebiasaan tidak tumbuh dari ceramah.
Tentu 36 siswa belum mewakili seluruh pelajar, dan satu pertemuan tidak cukup mengubah kebiasaan. Namun kegiatan ini memberi contoh model yang bisa ditiru: kampus turun langsung ke sekolah.
Literasi digital juga berkaitan dengan kualitas layanan publik. Dosen Pembimbing menyebutkan bahwa warga yang melek digital berperan menjaga kualitas layanan publik, yaitu dengan memberi masukan dan ikut mengawasi, selama dilakukan dengan cara yang benar. Konsep ini dikenal sebagai Civic Governance.
Menurut tim PKM, kuncinya ada pada frasa “Dengan Cara yang Benar”. Kritik tanpa verifikasi hanya melahirkan kegaduhan. Kritik yang berbasis informasi benar dan disampaikan dengan etika bisa menjadi kontrol sosial yang sehat.
Pelajar hari ini adalah warga yang kelak ikut menentukan arah layanan publik. Kebiasaan memeriksa sebelum bersuara perlu dibangun sekarang.
Tim PKM berharap materi ini tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi diterapkan siswa sehari-hari dan ditularkan kepada teman serta keluarga. Harapan itu baik, tetapi tidak adil jika semuanya dibebankan kepada siswa.
Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
1. Sekolah menjadikan literasi digital kegiatan rutin, bukan acara sekali jalan.
2. Guru menjadi teladan sekaligus tempat bercerita yang aman bagi siswa yang mengalami perundungan daring.
3. Orang tua mendampingi dan membiasakan cek fakta sebelum membagikan informasi di rumah.
4. Perguruan tinggi melanjutkan kolaborasi dengan sekolah melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Jika pelajar dibekali sejak dini, kita tidak hanya melindungi mereka dari Hoaks, perundungan, dan penyalahgunaan data pribadi, tetapi juga menyiapkan generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab. Mari bergandengan tangan menjadikan media sosial ruang yang aman dan bermanfaat bagi pelajar. ***








