[BANTENESIA.NET] – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Banten terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Banten.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Provinsi Banten 2026 yang digelar di Kelurahan Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus dikolaborasikan dengan Gerakan Tanam Serempak Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan produksi dan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan teknologi modern.
Program ini melibatkan Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kota Serang, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, mengatakan pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi yang kuat mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan pemasaran.

Menurutnya, strategi pengendalian inflasi dilakukan melalui prinsip 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
“Hingga minggu kedua September 2026, upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui 462 kali Gelar Pangan Murah, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), 61 kali subsidi ongkos angkut, fasilitasi mobil Kang Japal (Jawara Pangan Keliling), serta penguatan koordinasi dan kapasitas TPID,” ujar Sofwan.
Berbagai langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi inflasi Provinsi Banten yang pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,95 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Kendati demikian, komponen Volatile Food atau pangan bergejolak tetap menjadi perhatian.
Perubahan iklim dinilai menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi produksi pertanian, ketersediaan pasokan, hingga stabilitas harga komoditas pangan.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak hanya diarahkan pada sisi hilir melalui stabilisasi harga dan distribusi, tetapi juga diperkuat dari sisi hulu dengan meningkatkan kapasitas produksi pertanian.
Dalam aspek produksi, BI Banten berkolaborasi dengan BRMP Banten menerapkan metode PM-AAS dengan memanfaatkan teknologi Drum Seeder.
Mekanisasi pertanian tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses tanam. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi sekaligus produktivitas pertanian.
Penerapan pertanian modern tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor pertanian Banten agar semakin efisien, adaptif terhadap perubahan kondisi, dan berkelanjutan.
Dalam rangkaian kegiatan GPIPS 2026, dilakukan pula penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara Kelompok Tani (Poktan) Sukabungah, Kabupaten Lebak, dengan PT Food Station untuk komoditas beras.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun komitmen jual beli secara berkelanjutan sekaligus memberikan kepastian pasar bagi kelompok tani di Banten.
Kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong petani meningkatkan produksi. Dengan adanya akses pemasaran yang lebih jelas, hasil pertanian diharapkan dapat terserap secara optimal sekaligus memperkuat rantai pasok pangan daerah.
Selain penandatanganan KAD, kegiatan juga diisi dengan simbolisasi penyaluran Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA), penyerahan bantuan program PM-AAS, serta sosialisasi Good Agricultural Practices (GAP).
Materi GAP mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan produktivitas, optimalisasi produksi beras, pengelolaan pascapanen, hingga efisiensi distribusi.
BI Banten turut menyalurkan sarana dan prasarana kepada kelompok tani serta pondok pesantren sebagai dukungan terhadap peningkatan kapasitas produksi.
Bantuan tersebut diharapkan dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi penerima.
Penguatan kapasitas kelompok tani melalui penerapan GAP juga dilakukan secara menyeluruh dari sisi hulu hingga hilir. Dengan demikian, peningkatan produktivitas tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat dilanjutkan dengan pengelolaan hasil panen dan akses pemasaran yang lebih baik.
Melalui sinergi GPIPS 2026 dan Gerakan Tanam Serempak PM-AAS, BI Banten berharap dapat memperkuat ekosistem pangan yang semakin produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Penguatan produksi, efisiensi pascapanen dan distribusi, serta perluasan akses pasar diharapkan tidak hanya mampu menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani di Provinsi Banten. (*/Cipz)








