Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Ifa Khofifah. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Ifa Khofifah. (Foto: Istimewa)

Nama: Ifa Khofifah
Nim: 251092100093
Prodi: Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata Kuliah Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Perkembangan teknologi dan internet telah mengubah cara masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk dalam berbelanja. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa datang langsung ke toko atau pusat perbelanjaan, kini belanja online melalui Marketplace dan media sosial menjadi pilihan yang semakin populer.

Kemudahan membandingkan harga, beragam promo, voucher, cashback, hingga layanan pengiriman membuat konsumen dapat berbelanja hanya melalui smartphone tanpa harus keluar rumah.

Perubahan perilaku konsumen tersebut tentu menjadi tantangan bagi usaha offline, termasuk tenant dan pelaku usaha yang berada di Mall Cilegon Center.

Namun, menurut saya sebagai mahasiswa, perkembangan bisnis online tidak serta-merta berarti pusat perbelanjaan akan kehilangan seluruh pengunjungnya.

Justru, kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi Mall Cilegon Center dan para pelaku usaha di dalamnya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Salah satu tantangan terbesar usaha offline adalah persoalan harga. Konsumen saat ini dapat membandingkan harga produk dari berbagai penjual hanya dalam hitungan menit melalui Marketplace.

Belum lagi adanya gratis ongkir, diskon, voucher dan cashback yang membuat produk online terlihat lebih murah dibandingkan produk yang dijual di toko fisik.

Bagi pelaku usaha di mall, kondisi tersebut tentu tidak mudah. Mereka harus menanggung biaya sewa, listrik, karyawan, perawatan toko dan berbagai biaya operasional lainnya.

Menurut saya, toko offline tidak harus selalu masuk dalam perang harga dengan bisnis online. Jika perang harga dilakukan tanpa strategi, keuntungan pelaku usaha justru dapat semakin tertekan.

Sebaliknya, toko offline perlu menawarkan nilai tambah, seperti pelayanan yang ramah, konsultasi langsung, jaminan keaslian produk, kesempatan mencoba barang serta pengalaman berbelanja yang tidak bisa sepenuhnya diperoleh melalui layar smartphone.

Keunggulan lain yang dimiliki mall adalah pengalaman. Ketika berbelanja pakaian secara langsung, misalnya, konsumen dapat melihat bahan, mencoba ukuran dan menilai produk secara langsung.

Baca Juga :  Respons Masyarakat terhadap Risiko Radioaktif di Serang, Banten

Begitu pula dengan kuliner. Konsumen bukan hanya membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana tempat dan menghabiskan waktu bersama orang lain.

Karena itu, menurut saya, Mall Cilegon Center tidak cukup jika hanya diposisikan sebagai tempat transaksi jual beli.

Mall harus mampu menjadi ruang rekreasi, hiburan dan tempat berkumpul bagi masyarakat. Kegiatan bersama keluarga, pertemuan dengan teman, kuliner, hiburan maupun aktivitas anak muda dapat menjadi alasan bagi masyarakat untuk tetap datang.

Dengan demikian, orang yang datang ke mall tidak selalu harus memiliki tujuan membeli barang.

Generasi muda, termasuk mahasiswa, saat ini semakin terbiasa mencari informasi melalui internet sebelum membeli sesuatu.

Konsumen biasanya membaca ulasan, melihat foto produk, membandingkan harga dan mencari promo terlebih dahulu. Artinya, keputusan untuk datang ke toko fisik pun tidak jarang diawali dari aktivitas di dunia digital.

Menurut saya, kondisi ini seharusnya dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di Mall Cilegon Center.

Toko dapat menggunakan Instagram, TikTok, WhatsApp maupun marketplace untuk memperkenalkan produk yang tersedia di toko. Konsumen bisa melihat informasi produk secara online, kemudian datang langsung untuk memastikan kualitas dan melakukan pembelian.

Dengan strategi tersebut, bisnis offline dan online tidak harus dipandang sebagai dua kekuatan yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan.

Promosi menjadi bagian penting dalam menghadapi persaingan bisnis saat ini.

Bisnis online sudah sangat aktif memanfaatkan media sosial untuk menarik perhatian konsumen. Konten produk, video pendek, promo dan berbagai bentuk kreativitas digital menjadi cara untuk membangun ketertarikan calon pembeli.

Menurut saya, pola tersebut juga dapat diterapkan oleh Mall Cilegon Center.

Promosi mall tidak cukup hanya mengandalkan spanduk atau banner di dalam gedung. Pengelola dapat membuat konten mengenai tenant, makanan, promo, kegiatan, hiburan maupun aktivitas menarik yang bisa dilakukan pengunjung.

Baca Juga :  Isu Dugaan Jual Beli Titik SPPG Merebak, Istana-DPR Pastikan Audit dan Beri Masukan ke BGN

Jika konten tersebut mampu menarik perhatian, media sosial dapat menjadi jembatan yang membawa konsumen dari dunia online menuju dunia offline.

Di tengah perkembangan bisnis online, pengalaman berbelanja menjadi salah satu kekuatan utama usaha offline.

Konsumen dapat melihat barang secara langsung, mencoba produk, berkomunikasi dengan penjual dan mendapatkan pelayanan secara personal.

Karena itu, kenyamanan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Kebersihan, keamanan, pelayanan, area makan, hiburan, tempat berkumpul serta kegiatan untuk keluarga dan anak muda dapat menjadi bagian dari pengalaman yang membuat pengunjung ingin kembali.

Menurut saya, semakin baik pengalaman yang diberikan, semakin besar pula peluang konsumen untuk menjadikan mall sebagai salah satu pilihan aktivitas mereka.

Persaingan usaha saat ini tidak lagi hanya terjadi antara toko dengan toko yang berada di lokasi yang sama.

Toko di dalam mall kini secara tidak langsung harus bersaing dengan ribuan penjual di internet. Konsumen mempunyai pilihan yang jauh lebih banyak.

Jika pelayanan kurang baik, harga terlalu tinggi atau produk tidak sesuai kebutuhan, konsumen dapat berpindah ke penjual lain dengan mudah.

Namun, kondisi tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi pelaku usaha offline untuk meningkatkan kualitas.

Toko yang mampu memberikan pelayanan baik, mempunyai karakter dan menawarkan sesuatu yang berbeda memiliki peluang lebih besar untuk membangun pelanggan loyal.

Mall memiliki keunggulan karena konsumen dapat menemukan berbagai toko dalam satu lokasi. Namun, konsumen tetap harus mempertimbangkan waktu, biaya perjalanan dan kemudahan akses.

Berbeda dengan belanja online yang dapat dilakukan dari rumah.

Karena itu, menurut saya, akses menuju Mall Cilegon Center harus didukung dengan fasilitas yang memberikan kenyamanan kepada pengunjung, termasuk area parkir, keamanan dan lingkungan yang nyaman.
Sebab, pengalaman konsumen tidak hanya dimulai ketika mereka masuk ke toko, tetapi sejak mereka memutuskan untuk datang ke mall.

Baca Juga :  Tragedi Kemanusiaan dan Kegagalan Budaya Empati di Dunia Kampus

Hal yang paling penting adalah bagaimana pelaku usaha melihat perkembangan teknologi.

Menurut saya, teknologi tidak seharusnya dianggap sebagai musuh usaha offline. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha.

Konsep sederhana seperti lihat online, beli offline atau sebaliknya dapat diterapkan. Konsumen dapat melihat produk melalui media sosial, kemudian datang ke toko untuk melihat barang secara langsung.

Pelaku usaha juga dapat menerima pesanan melalui WhatsApp dan menyediakan pilihan pengambilan barang langsung di toko.

Strategi seperti ini menunjukkan bahwa usaha offline tidak harus meninggalkan sistem konvensional. Yang dibutuhkan adalah menambahkan sistem digital agar sesuai dengan kebiasaan konsumen masa kini.

Menurut pendapat saya sebagai mahasiswa, gempuran bisnis online memang menjadi tantangan besar bagi usaha offline seperti Mall Cilegon Center.

Bisnis online memiliki keunggulan dari sisi harga, kemudahan, pilihan produk dan fleksibilitas waktu. Namun, hal tersebut bukan berarti usaha offline akan hilang.

Mall masih memiliki sesuatu yang sulit diberikan oleh bisnis online, yaitu pengalaman, interaksi langsung, hiburan dan ruang untuk berkumpul.

Karena itu, kunci keberlangsungan Mall Cilegon Center bukan dengan melawan bisnis online, melainkan dengan beradaptasi.

Mall tidak cukup hanya menjadi tempat berbelanja. Mall perlu menjadi tempat yang memberikan pengalaman dan alasan bagi masyarakat untuk datang.

Pemanfaatan media sosial, marketplace, layanan WhatsApp, promosi digital serta berbagai kegiatan kreatif dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

Pada akhirnya, persaingan bisnis offline dan online bukan semata-mata tentang siapa yang menawarkan harga paling murah. Persaingan sesungguhnya adalah tentang siapa yang mampu memberikan nilai, pelayanan dan pengalaman terbaik kepada konsumen.

Jika Mall Cilegon Center dan para pelaku usaha di dalamnya mampu membaca perubahan perilaku konsumen serta memanfaatkan teknologi secara tepat, usaha offline masih memiliki peluang untuk bertahan, berkembang dan tetap menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat di Kota Cilegon. ***

Berita Terkait

Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?
Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN
Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus
Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 17:36 WIB

Mall Cilegon Center di Tengah Gempuran Bisnis Online, Mampukah Usaha Offline Bertahan?

Kamis, 10 September 2026 - 12:37 WIB

Mobile JKN: Solusi Digital atau Tantangan Baru bagi Peserta BPJS Kesehatan?

Rabu, 2 September 2026 - 21:37 WIB

Menjejak Dunia Riset: Kunjungan Industri Pertama HMM UNPAM Serang ke BRIN

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Berita Terbaru