Kesenjangan Pendidikan di Indonesia

Senin, 29 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

DESITA DWI AZ-ZAHIRA
NIM : 251090200520
KELAS : 02HKSP006

(Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Pancasila mengajarkan bahwa seluruh rakyat Indonesia harus mendapatkan keadilan dan kesejahteraan yang sama. Tetapi kenyataannya, masih ada ketimpangan dalam dunia pendidikan. Anak-anak di kota biasanya memiliki fasilitas sekolah yang lebih lengkap dibandingkan anak-anak di daerah terpencil. Banyak sekolah di pelosok yang masih kekurangan guru, ruang kelas yang kurang layak, dan akses belajar yang terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia belum merata sepenuhnya.

Baca Juga :  Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai

Perbedaan akses pendidikan antara daerah kota dan daerah terpencil menjadi salah satu contoh ketidakadilan sosial yang tidak sesuai dengan sila ke-5 Pancasila.

Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, masih banyak sekolah di daerah terpencil yang fasilitasnya sangat minim. Ada sekolah yang bangunannya rusak, kekurangan guru, bahkan sulit mendapatkan akses internet. Sementara itu, sekolah di kota memiliki fasilitas yang jauh lebih baik sehingga proses belajar menjadi lebih nyaman.

Baca Juga :  Didengar atau Diabaikan? Ketika Pengaduan Masyarakat Menjadi Ujian Responsivitas Pemerintah

Selain itu, banyak siswa di daerah pelosok harus menempuh perjalanan jauh untuk pergi ke sekolah. Ada yang harus melewati jalan rusak, sungai, bahkan hutan. Kondisi ini tentu berbeda dengan siswa di perkotaan yang lebih mudah menjangkau sekolah. Akibatnya, kesempatan belajar yang didapatkan juga tidak sama.

Masalah ekonomi juga menjadi penyebab ketidakadilan pendidikan. Walaupun sudah ada bantuan dari pemerintah, masih banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, seperti membeli buku, seragam, dan biaya transportasi. Karena keadaan tersebut, sebagian anak akhirnya memilih berhenti sekolah untuk membantu orang tua bekerja.

Baca Juga :  Tragedi Argo Mahasiswa UGM 2025: Duka Hukum di Simpang Keadilan 

Dari masalah tersebut dapat dilihat bahwa pendidikan yang belum merata masih menjadi persoalan di Indonesia. Pemerintah perlu lebih memperhatikan sekolah-sekolah di daerah terpencil agar semua anak bisa mendapatkan pendidikan yang sama, layak, dan adil sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?
Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat
Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang
Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian
Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:54 WIB

Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?

Rabu, 30 September 2026 - 10:51 WIB

Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat

Rabu, 30 September 2026 - 10:49 WIB

Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Berita Terbaru

(Foto: Istimewa)

Ekonomi Bisnis

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WIB